Diperkenalkan pada Masyarakat Kota Semarang, ini Keunggulan Padi Baroma

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Padi jenis Basmati, selama ini hanya bisa tumbuh di bagian utara India dan Pakistan, sehingga untuk pemenuhan beras tersebut masih harus impor dan harganya relatif mahal.

Melihat hal tersebut, Kementerian Pertanian, melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi melakukan pengembangan varietas padi khusus tipe Basmati, hingga mampu melahirkan padi Baroma atau padi sawah aromatik jenis Basmati.

“Padi jenis Basmati selama ini hanya dihasilkan di Negara India dan Pakistan, dan memiliki nilai jual yang cukup mahal. Kemudian berhasil kita kembangkan jenis serupa yang kita namai Baroma. Padi jenis ini, juga kita dorong, kita perkenalkan kepada para petani di Kota Semarang, untuk dibudidayakan,” papar Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, disela panen padi Baroma di Balaikota Semarang, Senin (22/3/2021).

Dipaparkan, ciri khas padi tersebut terletak pada ukuran bulir padi yang dihasilkan, lebih panjang 1,5-2 kali dibandingkan beras pada umumnya. Selain itu, padi tersebut tidak pulen atau agak pera.

Sementara, potensi padi yang bisa dihasilkan mencapai 9,1 ton per hektar. Tidak hanya itu, padi jenis tersebut juga mempunyai indeks glikemik yang relatif rendah, dengan tekstur tidak pulen tapi mempunyai aroma harum yang khas.

Indeks glikemik ini angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat pada produk pangan. Jadi bisa dibilang, dengan indeks glikemik rendah, jenis padi dapat dikonsumsi oleh mereka yang tengah diet atau memiliki penyakit diabetes, karena kadar gulanya rendah.

“Masa tanamnya juga relatif cepat, 113 hari, sehingga dalam setahun setidaknya bisa tiga kali tanam. Tentu, dengan masa tanam yang cepat, pendapatan para petani juga diharapkan juga dapat meningkat,” tambahnya.

Di sisi lain, jenis padi tersebut juga bisa ditanam dalam pot, dengan metode urban farming. Langkah tersebut, tidak hanya mampu menghemat lahan, juga diharapkan mampu mendorong masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

“Kita ajak warga Semarang, untuk bisa ikut menanam dan memanfaatkan lahan yang ada di rumah masing-masing. Manfaatkan setiap jengkal tanah, dengan tanaman yang tidak sekedar hijau namun juga bisa dimanfaatkan dan diambil hasilnya, jadi pertanian perkotaan ini bisa membudaya di kalangan masyarakat,” terangnya.

Hernowo mengatakan, jika kota Semarang memiliki potensi yang luar biasa dalam menciptakan kedaulatan pangan. “Potensinya sangat luar biasa karena penduduk kita 1.6 juta jiwa, kalau masing-masing keluarga mampu mencukupi kebutuhan pangan secara mandiri, maka kedaulatan pangan secara nasional bisa dibangun secara baik,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan, Walikota Semarang Hendrar Prihadi. Dipaparkan, pihaknya mendorong masyarakat bisa menerapkan urban farming di lingkungan rumah masing-masing, dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan.

“Contohnya di Taman Balaikota Semarang ini, yang saat ditanami tanaman produktif, termasuk padi Baroma, yang menjadi lahan percontohan agar masyarakat bisa menerapkan urban farming di lingkungan rumahnya masing-masing. Jadi meski tidak memiliki lahan, menanam dengan menggunakan polybag, pot maupun hidroponik pun bisa dilakukan,” terangnya.

Hal tersebut perlu didorong, agar ada kedaulatan pangan, sebab jika dilihat secara struktur topografi, luas lahan persawahan di Kota Semarang hanya sekitar 2.300 hektar. Angka tersebut, sangat jauh jika dibandingkan dengan Kabupaten Semarang, yang memiliki luas persawahan hingga 28 ribu hektar.

“Saya mengajak mengajak, meski hanya memiliki lahan kecil, di teras rumah, dapat melakukan ketahanan pangan secara mandiri seperti beras maupun sayur-sayuran, ubi dan buah yang bisa dilakukan di rumah kita masing-masing,” pungkasnya.

Lihat juga...