Dua PMI Terbebas dari Hukuman Gantung di Malaysia

PONTIANAK – Kepala Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Kuching. Yonny Tri Prayitno, mengatakan dua pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terbebas dari hukuman mati atas atas tuduhan pembunuhan di Serawak, Malaysia.

Kedua warga negara Indonesia yang divonis hukuman gantung sampai mati oleh Mahkamah Rayuan atas tuduhan pembunuhan, berhasil diselamatkan dari hukuman gantung dan dinyatakan bebas murni.

“Sebelumnya, seorang perempuan bernama Herna Mola dan seorang laki-laki bernama Soha Beta, pada 21 Oktober 2019 divonis hukuman gantung sampai mati oleh Mahkamah Rayuan, atas tuduhan pembunuhan,” kata Yonny Tri Prayitno, melalui keterangan tertulisnya  Senin (22/3/2021).

Atas dakwaan itu, KJRI Kuching segera mengajukan banding kepada Mahkamah Federal pada 14 Februari 2021, didampingi pembela dari KJRI Kuching.

“Kedua PMI tersebut dalam persidangan Mahkamah Federal dinyatakan tidak bersalah, dan dibebaskan murni serta segera dideportasi ke Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, lanjut Yonny, kedua PMI tersebut bekerja di salah satu kebun sawit di Kota Miri, Sarawak. Pada 26 Nofember 2013, mereka ditangkap polisi Miri karena dituduh melakukan pembunuhan atas bayi yang baru dilahirkan oleh Herna Mola.

“Di persidangan Mahkamah Tinggi Miri pada 24 November 2016, mereka dituntut hukuman penjara karena tidak terbukti melakukan pembunuhan, tetapi dituduh terbukti menyembunyikan kematian,” kata Kepala KJRI Kuching.

Atas putusan vonis tersebut, Deputy Public Prosecutor (DPP) mengajukan banding ke Mahkamah Rayuan, kemudian pengadilan pada sidang 21 Oktober 2019 mereka berdua dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan, dan divonis hukuman mati dengan digantung.

“Kami dari KJRI Kuching yang selama persidangan selalu memberikan bantuan hukum dan pendampingan melalui pengacara yang ditunjuk KJRI Kuching, mengajukan banding ke Mahkamah Federal atas hukuman mati kedua WNI/PMI tersebut,” katanya.

Pada persidangan mereka di Mahkamah Federal, 24 Pebruari 2021, kata Yonny, pengadailan memutuskan mereka tidak bersalah dan dibebaskan murni, serta diserahkan ke Depo Imigrasi Bekenu, Serawak untuk segera dideportasi ke Indonesia.

“Pada 13 dan 14 Maret 2021, tim kami telah menemui dan mewawancara keduanya di Depo Imigrasi Bekenu, Miri sekaligus pembuatan SPLP kepada mereka berdua untuk mempersiapkan kepulangan/deportasi mereka berdua ke Indonesia secepatnya,” katanya. (Ant)

Lihat juga...