Ecobrick Solusi Reduksi Sampah Plastik di Pantai Teluk Lampung

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Volume sampah di sejumlah pantai di Teluk Lampung alami kenaikan imbas penghujan dan angin Barat. 80 persen di antaranya merupakan sampah plastik.

Nurahmat, ketua Komunitas Peduli Sungai Way Bakau, Kelurahan Panjang Utara, Bandar Lampung menyebutkan, beberapa hal dilakukan pemerintah Kelurahan setempat, mulai dari larangan membuang sampah ke sungai, hingga meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya membuang sembarangan.

Nurahmat mengatakan, upaya pembersihan juga telah dilakukan pemerintah kota Bandar Lampung. Setiap karung sampah yang dikumpulkan warga dihargai Rp2.000. Selanjutnya sampah dikirim ke tempat pembuangan akhir.

“Sebagian warga telah berkolaborasi dengan sejumlah NGO dan juga pegiat lingkungan untuk mereduksi sampah plastik,” sebut Nurahmat saat ditemui Cendana News, Rabu (31/3/2021).

Pemanfataan sampah plastik dikombinasikan menjadi ecobrick sebut Nurahmat telah berjalan dalam dua tahun terakhir. Didampingi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat dan perusahaan BUMN bengkel ecobrick mereduksi sampah plastik.

Sampah yang digunakan berupa kemasan plastik yang dipadatkan dalam wadah botol bekas air minum. Kreasi ecobrick selanjutnya dibentuk menjadi sejumlah peralatan fungsional.

Turina, ketua bengkel ecobrick Kabarti bilang ecobrick mendorong kesadaran warga mereduksi sampah. Proses pembuatan melibatkan warga, anggota kelompok. Ia bilang dengan sepuluh anggota dibantu warga sampah plastik dikumpulkan dari limbah domestik. Sosialiasi memilah sampah dilakukan agar tidak dibuang ke sungai.

“Sampah yang dibuang ke sungai akan mencemari pantai, laut sehingga solusinya dengan pengelolaan berkelanjutan,”tegasnya.

Nurahmat memperlihatkan tumpukan sampah di pantai Kabarti, Kelurahan Panjang Utara, Bandar Lampung dampak banjir dari sungai Way Bakau penyumbang peningkatan volume sampah, Rabu (31/3/2021). Foto: Henk Widi

Setiap warga sebutnya akan menyediakan kantong untuk menampung sampah plastik. Setiap pekan anggota bengkel ecobrick akan berkeliling mengumpulkan sampah domestik. Beberapa warga bahkan langsung mengirim sampah botol minuman, kemasan makanan ringan di rumah Turina. Setelah dikumpulkan pembuatan dikerjakan menjadi sejumlah benda fungsional.

Proses membuat cukup mudah dengan menggunting kemasan plastik. Selanjutnya dipadatkan dalam botol dengan berat minimal 200 gram. Botol ecobrick akan dibuat menjadi kursi, meja, tong sampah, casing pot bunga dan berbagai kerajinan. Hasilnya bisa dijual untuk pendapatan ekonomis bagi bengkel ecobrick.

Tujuan akhir dari pengelolaan sampah menjadi ecobrick sebut Turina untuk mereduksi sampah di perkampungan. Kesadaran warga yang meningkat berimbas bengkel ecobrick kerap kekurangan sampah plastik. Memanfaatkan jejaring pertemanan sampah plastik diperoleh hingga keluar kampung dan kelurahan.

“Kami kerap kekurangan bahan baku sampah plastik, sebab sampah di pantai yang kotor masih belum kami maksimalkan dengan pertimbangan kebersihan,” cetusnya.

Suciati, anggota bengkel ecobrick menyebut sampah plastik dari warga lingkungan cukup banyak. Jenis sampah telah ditentukan agar bisa diolah menjadi ecobrick. Hasilnya warga tidak melakukan pembuangan sampah ke sungai dan pantai. Penyadaran masyarakat sebutnya diperlukan agar tidak membuang sampah bagi warga dari luar Kelurahan Panjang Utara.

Lihat juga...