Gubernur BI: Bangkitkan Ekonomi dengan Pemberdayaan UMKM

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai pondasi ketahanan ekonomi nasional harus diperkuat dengan gerakan pemberdayaan.

Apalagi UMKM mampu menyerap 97 persen tenaga kerja dan berkontribusi 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun di tengah pandemi Covid-19, pelaku UMKM terdampak sehingga perlu dibangkitkan kembali.

“Kita terus lakukan pemberdayaan UMKM, agar mereka bisa berdaya saing, diberikan pendampingan dan pelatihan dalam upaya membangkitkan kembali gairah usahanya,” ujar Perry, pada webinar bertajuk akses permodalan dan pemberdayaan UMKM di Jakarta yang diikuti oleh Cendana News, Selasa (23/3/2021).

Perry menegaskan, daya juang pelaku UMKM dalam membangkitkan roda perekonomian nasional tidak diragukan lagi. Maka kini, saatnya pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk membangkitkan dengan program pemberdayaan.

“Krisis 1998, UMKM selamatkan ekonomi bangsa, begitu juga pada krisis 2008. Daya juang UMKM tidak diragukan, kita harus membantu kewirausahaan mereka,” tukasnya.

Dukungan akses dari industri perbankan, lembaga keuangan dan teknologi finansial juga harus diberikan kepada UMKM. Selain akses keuangan, sebut dia, dukungan digitalisasi bagi UMKM.

Sehingga BI memiliki peran penting dalam mendukung digitalisasi UMKM, salah satunya kata Perry yakni melalui digitalisasi sistem pembayaran.

Dukungan lainnya, yakni sebut dia, mendorong perluasan pemasaran UMKM. Untuk mewujudkan ini tentu dia berharap masyarakat Indonesia agar membeli produk-produk UMKM Indonesia.

Disamping itu pihaknya juga berusaha memperluas pasar di luar negeri. “Bantuan modal usaha, UMKM juga perlu pelatihan, pemasaran digitalisasi dan bantuan sarana prasarana,” ujarnya.

Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari menambahkan, pelaku UMKM saat ini telah bangkit kembali di tengah badai Covid-19 yang didukung program vaksinasi yang masif.

“2021, UMKM bangkit lagi untuk menjadi menjadi kontributor ekonomi nasional. Upaya membangkitkan UMKM, kami targetkan salurkan pembiayaan UMKM sebesar Rp 236 triliun,” ujar Supari, pada acara yang sama.

Dengan penyaluran modal tersebut, dia berharap UMKM dapat berkontribusi pada pertumbuhan PDB.

Saat ini menurutnya, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam memperkuat UMKM. Data BRI menunjukkan 90 persen UMIM masih berada di level tradisional, rasio kewirausahan juga masih rendah yakni di angka 3,36 persen.

Angka ini menurutnya, di bawah negara Singapura yang berada di level 7 persen. Selain itu, kontribusi ekspor UMKM juga tercatat masih rendah 14,37 persen atau dibawah negara Vietnam yang mencapai 17 persen dan Thailand sebesar 27, 4 persen.

“Selain itu hanya 0,1persen yang berada pada segmen usaha besar. Angka ini lebih kecil dari Uni Eropa 0,2 persen, Jepang 0,3 persen, China 0,4 dan Malaysia sebesar 1,5 persen,” tutupnya.

Lihat juga...