Harga Pakan Burayak Mahal, Hambat Pelaku Usaha Budi Daya Ikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Mahalnya harga beli pakan burayak di pasaran, menjadi hambatan para pelaku usaha budi daya ikan hias di wilayah Kulonprogo Yogyakarta untuk mengembangkan usaha.

Tak hanya itu, minimnya ketersediaan pakan berupa cacing sutra itu juga menghambat proses produksi, sehingga tak jarang mengakibatkan usaha mereka stagnan.

Salah seorang pelaku usaha budi daya ikan hias koi, Suryanto, asal Dusun Carikan, Bumirejo, Lendah, Kulonprogo, menyebut cacing sutra merupakan pakan vital setiap jenis usaha budi daya ikan, baik itu ikan hias maupun konsumsi.

Pasalnya pakan hidup seperti cacing sutra sangat dibutuhkan burayak atau anakan ikan hasil budi daya yang memiliki usia kurang dari 2 minggu, agar bisa tumbuh dan berkembang secara normal.

“Burayak harus diberi makan pakan hidup seperti cacing sutra, karena butuh asupan protein tinggi. Terlebih pada usia itu ikan belum mau makan pelet. Sehingga mau tidak mau harus pakai cacing sutra,” katanya, Selasa (2/3/2021).

“Sementara itu,” lanjut Suryanto, “Harga cacing sutra saat ini sangat mahal. Satu liter cacing sutra, bisa sampai Rp40 ribu. Sehingga sangat memberatkan bagi setiap pembudi daya.”

Tak hanya mahal, ketersediaan pakan hidup berupa cacing sutra juga menjadi persoalan tersendiri. Di mana selama ini jumlah pembudi daya cacing sutra masih sangat minim, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan yang ada.

“Di DIY ini saja pembudidaya cacing sutra hampir tidak ada. Kalaupun ada itu hanya berasal dari tangkapan alam. Kebanyakan cacing sutra diambil dari daerah Jawa Tengah seperti Magelang atau Boyolali. Itupun harus antre. Sehingga pembudidaya yang tidak punya langganan akan sulit mendapatkan,” katanya.

Mahal serta minimnya stok cacing sutra sebagai pakan burayak tersebut, diakui Suryanto, membuat usaha budidaya ikan koi miliknya pun terpaksa harus vakum alias berhenti produksi setiap musim tertentu. Khususnya setiap musim kemarau di mana keberadaan cacing sutra akan langka di pasaran.

“Ya jelas berpengaruh sekali. Kalau sedang sulit ya terpaksa produksi harus berhenti. Karena kalau dipaksakan (tidak diberi cacing sutra), persentase kematian burayak akan meningkat jauh lebih tinggi. Daripada rugi, biasanya kita stop produksi dulu,” ungkapnya.

Suryanto mengakui, ia sebenarnya sudah pernah berupaya membudidayakan cacing sutra secara mandiri sebagai pakan hidup atau pakan alami burayak ikan koi miliknya. Namun ia mengaku selalu gagal karena tingkat kesulitannya yang cukup tinggi.

“Dulu pernah coba budidayakan sendiri. Namun gagal. Karena harus memakai air mengalir. Sementara di sini tidak memungkinkan. Kalau sekadar agar bisa bertahan hidup bisa, tapi untuk bisa berkembang biak, masih belum berhasil,” ungkapnya.

Para pembudidaya hanya bisa berharap agar pemerintah bisa melakukan penelitian dan kajian-kajian lebih lanjut mengenai budi daya cacing sutra, beserta teknik-tekniknya.

Lalu menyebarkannya secara luas, sehingga bisa ditiru dan dicontoh masyarakat khususnya para pembudidaya ikan di berbagai daerah.

Lihat juga...