Haryono Suyono: Kampus Merdeka Harus Bantu Masyarakat Desa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Mantan Kepala BKKBN, sekaligus Mantan Menteri Kependudukan dan Menko Kesra di era Presiden Soeharto, Prof. Dr. Haryono Suyono, MA , PhD, mendorong mahasiswa agar mampu mewujudkan ekonomi mandiri di tingkat desa, di tengah situasi pandemi melalui program KKN atau Kuliah Merdeka yang dicanangkan pemerintah saat ini.

Hal itu bisa dilakukan salah satunya dengan mendorong setiap guru baik tingkat SD atau SMP agar mengajak seluruh siswanya mengolah lingkungan sekitar rumah masing-masing agar lebih produktif, tanpa harus keluar rumah.

Kegiatan semacam ini dikatakan bisa dijalankan misalnya dengan menanam sayur-sayuran, membuat pupuk organik, beternak ayam, dan sebagainya.

“Sebelum memulai pelajaran daring, guru bisa mengajak siswa untuk bangun pagi-pagi sekali dan mulai mengolah lingkungan rumah masing-masing. Misalnya saja menanam sayur-sayuran, beternak ayam, dan sebagainya. Sehingga anak bisa belajar hal baru. Setelah itu, baru melaksanakan pelajaran daring seperti biasanya,” ujarnya dalam webinar bertemakan Akselerasi Pembangunan Desa Melalui Implementasi Kampus Merdeka, yang digelar Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Kamis (4/3/2021).

Dalam rangka meningkatkan akselerasi pembangunan desa, mahasiswa dikatakan juga dapat bergerak di sektor perekonomian, yakni dengan mengajak organisasi sosial maupun instansi swasta dalam mengatasi persoalan ekonomi di desa.

Misalnya saja, membantu usaha masyarakat desa dari sisi pemasaran dengan memanfaatkan promosi lewat medsos.

“Di sektor pendidikan mahasiswa KKN bisa mendampingi anak-anak untuk belajar dari rumah. Caranya dengan memetakan siswa mana saja yang butuh pendampingan. Lalu mendatangi siswa tersebut. Mahasiswa KKN di sini akan berfungsi sebagai guru menggantikan orang tua yang tidak mampu atau tidak punya waktu dalam mendampingi belajar siswa,” katanya.

Sementara di sektor kesehatan, Mahasiswa KKN diharapkan bisa berperan dalam mengubah cara kerja Posyandu di desa-desa di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Yakni dengan mendorong petugas Posyandu mengadakan kegiatan yang tidak lagi dijalankan di satu titik lokasi, namun diubah dengan cara jemput bola.

“Mahasiswa bisa mendorong petugas Posyandu untuk mendatamgi balita maupun ibu hamil berisiko di rumah-rumah mereka masing-masing. Jadi kegiatan Posyandu tidak lagi dilakukan di satu titik, untuk mencegah kerumunan massa. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaaatkan peta keluarga yang ada di BKKBN,” ungkapnya.

Salah satu hal yang juga ditekankan mantan Ketua Yayasan Damandiri itu adalah, bahwa dosen maupun mahasiswa tidak boleh mengukur keberhasilan suatu program dari sisi serapan anggaran atau pun apa saja hal yang sudah dijalankan.

Lebih dari itu, keberhasilan sebuah program hanya bisa dilihat dari dampak maupun perubahan positif yang terjadi di masyarakat.

“Yang harus menjadi acuan kita adalah perubahan perilaku yang terjadi di masyarakat. Apakah masyarakat desa sudah bisa memiliki penghasilan yang lebih baik, sudah memiliki kesadaran untuk selalu memakai masker, memiliki kebiasaan baru, kualitas perilakunya meningkat, dan sebagainya. Itu yang harus menjadi ukuran keberhasilan kuliah merdeka,” pungkasnya.

Lihat juga...