Hobi Membaca Tingkatkan Kompetensi Anak

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Penelitian yang dilakukan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan hobi membaca pada anak memiliki korelasi dengan pencapaian kompetensi pelajaran sekolah. 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ir. Toto Suprayitno, PhD., menyatakan membangun peserta didik yang hobi membaca, akan membantu mereka dalam meningkatkan nilai berbagai mata pelajaran lainnya.

“Minat baca memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa, di mana akan mempengaruhi secara positif hasil mereka dalam bidang lainnya. Karena, membaca dalam artian mengerti dan memahami apa yang dibaca, merupakan kompetensi dasar bagi peserta didik untuk memahami dan mengerti ilmu lainnya,” kata Toto, dalam acara online Pendidikan Indonesia yang diikuti oleh Cendana News, Kamis (25/3/2021).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ir. Toto Suprayitno, PhD., saat menjelaskan pengaruh hobbi membaca pada nilai peserta didik, dalam acara online Pendidikan Indonesia yang diikuti oleh Cendana News, Kamis (25/3/2021). -Foto: Ranny Supusepa

Ia menyebutkan, fakta tersebut dibuktikan dari hasil uji regresi, peserta didik yang hobi membaca memiliki 17,3 poin lebih baik dibandingkan dengan yang tidak. Nilai matematika peserta didik pun 6,53 poin lebih baik dan nilai sains 11,30 poin lebih baik.

“Ini terlihat juga dalam mata pelajaran sejarah, anak yang senang membaca akan bisa memahami alur sejarah itu secara lebih baik dibandingkan dengan anak yang kurang suka membaca, yang hanya menghafal nama tokoh sejarah dan tahun kejadian,” ujarnya.

Karena memperkaya aktivitas membaca dapat meningkatkan literasi, Toto menyatakan perlu bantuan semua pihak yang memiliki korelasi dengan pendidikan untuk mendorong peserta didik untuk membaca.

“Caranya, ya dengan memperkaya jenis bacaan siswa, mendorong mereka untuk memanfaatkan waktu luang dengan membaca. Membaca apa saja. Karena menurut penelitian, membaca mampu meningkatkan literasi hingga 50 poin lebih tanpa merujuk pada jenis bacaan. Dan, pelibatan siswa dalam pengajaran membaca juga bisa mendorong literasi peserta didik,” urainya.

Toto menyebutkan, aktivitas literasi Indonesia masih rendah karena dimensi akses terhadap bacaan dan dimensi budaya kebiasaan membaca masih rendah.

Data BPS 2019 menyebutkan, hanya sekitar 13,02 persen penduduk usia lima tahun ke atas yang mengunjungi perpustakaan. Dan, yang dibaca 80,83 persen adalah buku pelajaran, 73,65 persen kitab suci dan 50,97 persen buku pengetahuan.

“Tidak salah membaca buku pelajaran. Dan, sebenarnya cukup dimengerti alasannya, yaitu mereka datang ke perpustakaan karena alasan pengerjaan tugas. Yang penting adalah diperluas spektrum bahan bacaannya. Dan, tentunya pihak sekolah juga perlu mendorong peserta didik untuk datang ke perpustakaan dengan cara mempersiapkan waktu untuk mereka datang ke perpustakaan,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Perpustakaan Nasional,  Drs. M. Syarif Bando, MM., menyatakan pengembangan perpustakaan perlu dilakukan untuk mendorong minat baca anak.

“Kenapa minat baca ini penting? Karena peningkatan minat dan kegemaran baca pada ujungnya bisa meningkatkan indeks literasi, yang parameternya adalah kemampuan untuk menciptakan barang dan jasa berkualitas dan mampu bersaing di pasar global,” kata Syarif.

Ia menyatakan, bahwa masalah Indonesia adalah rendahnya literasi yang diakibatkan oleh rendahnya budaya baca. Karena selama ini Indonesia hanya sibuk dengan sisi hilir saja.

“Yang dibahas hanya rendahnya daya saing, rendahnya indeks pembangunan manusia, rendahnya inovasi, rendahnya pendapatan per kapita, rendahnya rasio gini dan rendahnya indeks kebahagiaan. Tapi, tidak ada yang membahas sisi hulunya,” ujarnya, tegas.

Sisi hulu ini adalah peran negara, peran akademisi perguruan tinggi, peran penulis buku dalam menghadirkan karya sesuai kebutuhan masyarakat, para penerbit dalam menyediakan buku, para penyadur dalam mengalihbahasakan buku, regulasi distribusi bahan bacaan untuk memperkecil ketimpangan antar wilayah dan masalah anggaran belanja buku yang terbatas.

“Rasio jumlah penduduk dengan jumlah buku bacaan Indonesia hanya 0.09. Artinya, satu buku ditunggu oleh 90 orang tiap tahunnya. Ini persoalan utamanya. Jadi, bagaimana kita menyelesaikannya? Dengan berpatokan pada negara maju, setiap tahunnya ada 15-20 buku baru per orang,” ujarnya lebih lanjut.

Syarif mengemukakan, sebelum bicara tentang sisi hilir, yaitu bagaimana daya saing seseorang di era digital saat ini, yang perlu adalah membenahi sisi hulunya.

“Mau anak minat baca? Pastikan ada bacaan untuk mereka. Mereka tahu di mana untuk mencarinya. Bagaimana mereka suka baca kalau orang di sekitarnya tidak mendukung mereka untuk suka baca. Ini PR untuk kita semua,” pungkasnya.

Lihat juga...