Infrastruktur Pertanian Era Presiden Soeharto Sokong Swasembada Beras di Palas-Sragi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ribuan hektare tanaman padi di lahan sawah Kecamatan Palas, Sragi, Lampung Selatan, tampak subur. Sebagian terlihat hijau, namun sebagian lainnya sudah memasuki masa panen. Sektor pertanian di wilayah ini merupakan jejak sukses pembangunan di masa Presiden Soeharto. Irigasi dengan prasasti Tugu Pak Tani yang dibangun kala itu, masih menjadi sumber pengairan.

Hendi, warga Desa Kuala Sekampung, Kecamatan Sragi, menyebut lahan sawah miliknya ada di bekas eks Rawa Sragi, yang menurutnya sebutan rawa Sragi identik dengan program pertanian di era Presiden Soeharto.

Ia mengatakan, infrastruktur yang dibangun pada era Presiden Soeharto itu terlihat pada fisik Tugu Pak Tani. Bangunan kokoh seperti monumen itu terletak di tepi jalan lintas Palas-Sragi.

Hendi menyebut, meski sawah merupakan peninggalan sang kakek, namun jejak infrastruktur Presiden ke dua RI tetap bisa dinikmati petani. Hingga kini, kawasan Palas dan Sragi bahkan masih menjadi penyokong beras skala kabupaten hingga nasional.

Hendi, petani padi di Desa Kuala Sekampung Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, memanfaatkan irigasi peninggalan eks Rawa Sragi yang dibangun pada era Presiden Soeharto, Rabu (31/3/2021). -Foto: Henk Widi

Dibangun sejak 1980-an, Tugu Pak Tani dengan petunjuk prasasti Mei 1985 itu menjadi warisan infrastruktur irigasi. Sejumlah saluran dikoneksikan antara sungai Way Pisang, sejumlah sungai kecil dengan sungai Way Sekampung.

Sejumlah klep pengatur aliran air agar tidak tercampur air laut juga dibangun. Jejak infrastruktur irigasi pertanian yang sebagian rusak masih bisa dimanfaatkan oleh petani.

“Semula saluran irigasi dibangun permanen, namun karena usia dan erosi sungai, sebagian amblas. Namun, tetap bisa mengalirkan air dengan tanggul saluran irigasi bisa dijadikan akses jalan pertanian, distribusi barang dan mobilitas orang, terutama kegiatan pertanian,” terang Hendi, Rabu (31/3/2021).

Menurut Hendi, infrastruktur pada era Presiden Soeharto merupakan peninggalan program pembangunan lima tahun (Pelita). Berbasis sektor pertanian pondasi kuat itu masih bisa dinikmati petani untuk mendapat pasokan air. Lancarnya infrastruktur irigasi yang selanjutnya ditingkatkan pada masa kepemimpinan presiden berikutnya, menjaga ketersediaan air.

Sejumlah saluran primer, tersier sebagian dihubungkan dengan bendungan, kanal menjadi sumber pengairan lahan pertanian. Meski sudah dibangun sejak 1983 hingga 1985, namun irigasi tersebut menjadi penyokong swasembada pangan. Hingga kini, kawasan ribuan hektare menyumbang pasokan Gabah Kering Panen (GKP). Sejumlah pemodal asal Lampung hingga Banten, membeli gabah untuk diolah menjadi beras.

“Sebagian gabah hasil panen diolah pada sejumlah pabrik untuk menjadi beras Palas dengan kemasan disuplai ke sejumlah pasar,”cetusnya.

Memasuki masa tanam penghujan atau rendengan, petani kerap tidak mengalami kesulitan air. Namun saat musim panen kemarau atau gadu, petani tetap bisa menggarap lahan sawah dengan sistem pembagian air. Area sawah yang lebih rendah dari kanal membuat petani kerap memanfaatkan pompa air. Infrastruktur kanal membantu petani bisa menggarap lahan maksimal dua kali setahun.

Hendi bilang, khusus di wilayah Sragi, Palas, petani sering mengalami surplus gabah. Hasil panen bahkan sebagian dibeli oleh tengkulak asal Banten dan Jawa Barat. Membeli dalam bentuk GKP, selanjutnya gabah akan dikeringkan menjadi gabah kering giling (GKG). Meski menjual gabah hingga 2 ton dari total panen 5 ton, ia masih bisa menyimpan beras.

“Petani juga menerapkan pola penyimpanan dengan lumbung yang digencarkan pada era Presiden Soeharto, menjaga ketersediaan beras,” tuturnya.

Hendi menyebut, infrastruktur pendukung pertanian menjadi kunci untuk menjaga swasembada beras. Beberapa faktor kurangnya pasokan beras imbas sejumlah wilayah terkendala lahan pertanian kekurangan air. Berkat adanya saluran irigasi zaman Pak Harto, ia mengaku bisa memenuhi kebutuhan beras.

“Impor beras yang dilakukan pemerintah tidak akan mempengaruhi petani,” kata Hendi.

Hendi mengatakan lagi, bahwa serapan gabah yang rendah kerap terjadi saat masa tanam penghujan. Sebab, kualitas GKP kerap memiliki kadar air yang tinggi. Namun dengan sistem penyimpanan serta pengeringan memakai alat pengering, petani bisa meningkatkan kualitas GKG.

“Selain modal infrastruktur irigasi, petani melakukan modernisasi pada alat pengolahan, penanaman hingga panen,” katanya.

Petani lain di desa Palas Jaya, Sukmanto, juga menyebut proyek Presiden Soeharto di sektor pertanian masih dirasakan petani. Namun, ia menyayangkan sejumlah fasilitas mengalami kerusakan dengan terjadinya penyempitan saluran dan sedimentasi. Faktor kurangnya pemeliharaan dan aktivitas membuang sampah berimbas sedimentasi sungai. Dampaknya, tumbuhan enceng gondok tumbuh.

“Peninggalan zaman Pak Soeharto sebagian besar menjadi penopang irigasi pertanian, jadi saat ini tinggal merawat atau bahkan memperbaiki pada titik yang rusak,”cetusnya.

Sukmanto bilang, ia masih tetap bisa mendapat hasil panen sebanyak 4 ton di lahan setengah hektare. Saat panen masa tanam pertama (MT1), hasil GKP akan disimpan dan sebagian dijual. Sebagian hasil panen petani dibeli pengepul untuk dikirim ke Jawa. Meski pernah dilakukan pelarangan, namun petani memilih menjual ke pengepul yang sekaligus ikut memberi modal.

Sukmanto mengatakan, peningkatan, perbaikan infrastruktur pertanian melibatkan sejumlah unsur. Sejumlah infrastruktur bendungan, saluran irigasi dikelola oleh kelompok tani (poktan) dan dinas pertanian. Meski infrastruktur pertanian berupa saluran irigasi telah disediakan, kendala bagi petani berupa hama, banjir hingga harga pupuk. Dalam kondisi normal, ia mengaku hasil panen padi menjadi penyokong swasembada beras.

Lihat juga...