Ini Strategi Menekan Angka Stunting di Jateng

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG —Jateng menjadi salah satu provinsi di Indonesia, dengan angka stunting yang relatif tinggi, sekitar 27 persen. Untuk itu, perlu strategi nyata dalam menekan kasus gizi buruk di wilayah tersebut.

“Pertama, perlu dilakukan pemetaan hingga tingkat keluarga. Kita dapatkan data berdasarkan nama dan alamat masing-masing keluarga yang berisiko stunting. Termasuk anak stunting, kita lakukan data sekunder yang selama ini sudah berjalan,” papar Plt Deputi Advokasi Penggerakan dan Informasi (Adpin) Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Dwi Listyawardani, di sela Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) percepatan program Bangga Kencana Jateng, di Semarang, Kamis (4/3/2021).

Selain itu, juga dilakukan strategi dengan memilah fase, mulai dari pra nikah, hamil dan bersalin.

“Ini harus dikawal dan dilakukan intervensi, karena dari tiga fase ini, menjadi masa kritis terjadi kelahiran anak stunting. Tidak hanya stunting sejak dalam kandungan atau dilahirkan, namun juga stunting setelah lahir, karena jika tidak dilakukan pengasuhan dengan baik. Terpenuhi gizi, anak juga bisa menjadi stunting,” tandasnya.

Dwi juga menegaskan, pandemi covid-19, seharusnya juga sudah tidak menjadi kendala dalam pencegahan stunting, karena pelayanan sudah dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Saat ini secara nasional, angka stunting di Indonesia mencapai sekitar 27 persen. Angka ini harus kita turunkan 14 persen, hingga 2024. Untuk itu, perlu kerjasama dari seluruh pihak, dalam menekan angka gizi buruk ini,” tegasnya.

Di satu sisi, dirinya juga tidak menampik, selama pandemi covid-19, angka stunting juga bertambah, karena banyak diantara masyarakat yang kesulitan memenuhi gizi keluarga.

“Bisa jadi demikian, karena banyak yang kehilangan pekerjaan, jatuh miskin, sehingga upaya untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga juga menurun. Ini juga menjadi perhatian kita,” tandas Dwi.

Sementara, Kepala Perwakilan BKKBN Jateng Widwiono, menambahkan kasus stunting di Jateng, tidak jauh berbeda dengan angka nasional, di angka 27 persen. “Untuk itu, perlu kerjasama antar seluruh pihak, termasuk pihak swasta dalam menurunkan angka gizi buruk ini, karena ditarget per tahun bisa turun 3 persen,” terangnya.

Dipaparkan, ada sejumlah faktor yang difokuskan penanganan stunting, khususnya di tingkat desa atau kelurahan. “Ada data mikro yang kita miliki, berdasarkan nama dan alamat, dimulai dari ibu hamil, menyusui, mereka ini yang berpotensi stunting kita intervensi, sampai dengan anak umur 2 tahun atau 1000 hari kehidupan pertama,” pungkasnya.

Lihat juga...