‘Kampung Buku’ Ajarkan Anak Cinta Membaca

Redakur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Sekumpulan anak-anak terlihat asyik membaca buku cerita di Taman Bacaan Masyarakat Kampung Buku yang berlokasi di Jalan Abdul Rahman, Gang Rukun, Cibubur, Jakarta Timur.

Di taman bacaan yang didirikan oleh Edy Dimyati, sejak tahun 2010 ini, anak-anak, orang dewasa dan orang tua bisa membaca ragam buku sebagai jendela ilmu pengetahuan.

“Saya dan teman-teman sering membaca ragam buku di sini, ada cerita rakyat, dongeng, dan ilmu pengetahuan lainnya. Senang ya, gratis lagi nggak bayar,” ujar Kesya, salah satu anak kepada Cendana News, yang ditemui di Taman Baca Masyarakat Kampung Buku, Kamis (4/3/2021).

Edy Dimyati, pendiri Taman Baca Masyarakat Kampung Buku ditemui di lokasi taman bacaan miliknya di Jalan Abdul Rahman, Gang Rukun, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (4/3/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Celine juga mengaku awalnya hanya untuk bermain puzzle yang tersedia di taman bacaan ini. Tapi tiga kali berkunjung mengaku jadi tertarik membaca buku.

“Ya, awalnya cuma mau main puzzle aja kan nggak punya di rumah. Tapi banyak buku cerita dan dongeng, saya jadi tertarik baca jadinya. Saya juga belajar nari dan bahasa Inggris di sini, gratis juga,” ujar Celine kepada Cendana News.

Edy pun berkisah, berawal dari dirinya hobi membaca dan menulis, semasa kuliah di Universitas Padjajaran Bandung (Unpad), dia kerap membeli buku hingga menumpuk. Ia kebingungan untuk menata koleksi buku-bukunya itu.

Juga merasa sayang kalau koleksi bukunya hanya dibaca oleh keluarganya saja, Edy pun memutuskan membuat taman bacaan di sekitar lingkungan rumahnya di daerah Cibubur.

“Tujuan bikin taman bacaan ini untuk mendekatkan akses buku kepada masyarakat, terutama anak-anak agar dapat membaca buku-buku bagus dengan mudah,” ujar Edy.

Dengan semangat mengedukasi anak-anak gemar membaca, Edy membangun sebuah taman baca berukuran 4 meter x 3 meter berbahan bambu.

Bangunan taman bacaan yang menyerupai gubug itu dibangun di tanah keluarganya, berlokasi di pinggir kali dengan suasana rindang pohon dan rerumputan hijau.

Buku koleksi Edy ditata rapi di taman bacaan ini. Anak-anak dan masyarakat sekitarnya antusias untuk membaca ragam buku di taman itu.

“Saya buat taman bacaan ini Januari 2010, bangunan kecil dan berbahan bambu. Alhamdulillah seiring waktu bangunannya sudah permanen, dan tingkat dua. Anak-anak jadi lebih nyaman,” imbuhnya.

Menurutnya, taman bacaan ini sarana untuk membantu masyarakat yang ingin membaca buku, karena kesusahan akses kalau misalnya harus ke perpustakaan DKI Jakarta atau perpustakaan nasional.

“Ya mendekatkan akses baca dan agar buku-buku yang ada di sini bisa dikonsumsi banyak orang,” tandasya.

Awalnya, kata Edy, buku-buku ini hanya koleksi pribadi. Namun seriring perjalanan waktu, teman dan berbagai kalangan, perusahaan dan penerbit menyumbang buku

Kini, koleksinya mencapai 4 ribu buku. Kebanyakan novel, komik, cerita rakyat, cerita bergambar, ilmu pengetahuan, masakan khas nusantara, dan lainnya.

“Lebih banyak buku anak-anak sekitar 70 persen, karena awalnya taman ini kan untuk anak-anak. Tapi tidak menutup kemungkinan buku-buku ini juga bisa di baca orang tua yang setiap hari ngantar anaknya ke sini,” ujar pria kelahiran Taksimalaya, Jawa Barat 43 tahun, ini.

Semua buku yang dibaca tidak dikenakan biaya alias gratis. Anak-anak boleh membaca di taman maupun dibawa pulang ke rumahnya.

Hanya saja kata dia, jika anak meminjam buku diharuskan mencatat sendiri di buku peminjaman. Ini diterapkan karena bagi Edy semua pengunjung adalah penjaga buku-buku sehingga mereka harus merawatnya.

“Penanaman prinsip bahwa buku yang ada di sini milik bersama, maka mereka harus  merawat buku ini. Kalau minjam dibawa pulang ya catat sendiri, tulis kapan mau kembalikan. Jadi anak juga belajar jujur,” ungkapnya.

Adapun cara Edy menularkan budaya membaca pada anak yakni dengan memfasilitasi ragam mainan di taman bacaan itu. Seperti congklak, lego, puzzle dan kartu uno.

Intinya kata Edy, anak-anak dibuat senang dulu. Setelah mereka sering datang dan melihat buku, mereka pun menjadi tertarik untuk membacanya.

“Jadi, intinya biar anak mau baca buku ini, saya nggak ngajak ayo baca buku. Tapi datang dulu aja bermain congklak atau lego bersama-sama. Biar anak betah dulu, dimotivasi kenal lingkungan, nanti lama-lama lihat buku membacanya dan jadi gemar,” ujarnya.

Selain bermain, Edy juga menggelar kegiatan bagi anak-anak, seperti belajar menari, bahasa inggris, melukis, pidato, mengaji dan lainnya.

“Yang ngajar saya dan para relewan, tapi pandemi ini dihentikan dulu,” ujarnya.

Terkait anak-anak sering bermain gadget, Edy menilai bahwa buku dan gadget tak bisa dipisahkan karena keduanya sebagai media informasi.

“Buku dan gadget itu, posisinya sama-sama media informasi, yang nggak sama kontennya saja. Maka harus tetap ada penyaringan dari orang tua. Dan taman baca ini adalah sebuah ikhtiar agar anak gemar membaca, bukan berarti untuk menjauhkan gadget dari mereka,” tukas ayah dua anak ini.

Di awal pandemi Covid-19, menurut Edy, kunjungan anak-anak ke taman bacaan berkurang. Namun sekarang ini sudah mulai ramai lagi dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

“Awal pandemi mah tidak ada yang berkunjung ke sini. Tapi sekarang mulai ramai lagi, biasanya usai PJJ, anak-anak ke sini membaca buku,” imbuhnya.

Bahkan kata Edy, semua program edukasi yang telah dicanangkan akan digelar dibatalkan karena tidak ingin mengundang kerumunan.

Namun dalam kondisi pandemi, Edy tetap semangat melayani peminjaman buku online bagi masyarakat. Yakni dengan mengantarkan buku koleksi ke peminjam.

“Salah satu ikhtiar juga karena era pandemi melayani jemput bola bagi peminjam, dengan transportasi sepeda. Jadi kalau ada yang pinjam whatsapp (wa) ke saya, asal ada bukunya dianter. Tapi masih terbatas wilayah kecamatan Ciracas saja,” paparnya.

Jika bukunya selesai dibaca, Edy pun akan meluncur dengan sepedanya untuk mengambil buku tersebut ke rumah peminjam. “Batas waktu pinjam buku itu dua minggu, kalau cepat lebih bagus, dan selesai dibaca, saya yang ambil bukunya,” imbuhnya.

Lebih lanjut Edy menegaskan, budaya membaca itu sebenarnya tidak hanya kepada anak yang harus diedukasi. Tetapi orang tuanya juga harus diedukasi.

Sehingga kata dia, setelah mengedukasi anak dan orang tua diharapkan orang tua  peduli kepada anaknya menanamkan budaya gemar membaca. Karena merekalah yang setiap hari bertemu anaknya di rumah.

“Justru ujung tombaknya di orang tua. Nah, kalau taman bacaan ini sebenarnya penunjang saja, sebagai pengingat pentingnya membaca. Karena membaca itu bukan suatu kewajiban, tapi kebutuhan. Anak jadi cinta buku, butuh untuk membaca,” ujar penulis Panduan Sang Petualang, dan buku lainnya.

Edy berharap untuk meningkatkan minat anak membaca, orang tua membuat pojok bacaan di rumahnya. “Misalnya, perpustakaan kecil,” tutupnya.

Lihat juga...