Kargo Baca Tebar Virus Gemar Membaca

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Keterbatasan ruang gerak akibat pandemi Covid-19, tak menghalangi Edy Dimyati, pendiri Taman Baca Kampung Buku untuk tetap menghadirkan ragam buku bacaan kepada masyarakat, khususnya anak-anak. Dengan sepeda yang didesain unik bernama Kargo Baca (Kabaca), Edy mengayuh sepedanya itu melaju dengan kecepatan sahaja, membuka ruang luas untuk masyarakat membaca buku dengan gratis.

“Era pandemi Covid-19, taman baca Kampung Buku sepi pengunjung, tapi tak menyurutkan saya untuk menebarkan literasi membaca pada anak-anak. Saya pun bergerak dengan sepeda angin Kargo Baca ini keliling perkampungan, taman kota, waduk, dan tempat wisata,” ujar Edy, kepada Cendana News, ditemui di Taman Baca Kampung Buku di jalan Abdul Rahman, Gang Rukun, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (25/3/2021).

Setiap minggu, Edy bersama kedua temannya dari komunitas literasi mengayuh sepeda mendatangi ruang publik. Seperti belum lama ini, kegiatan literasi dipusatkan di Waduk Kampung Rambutan, Setu Pedongkelan, dan Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.

Menurutnya, antusiasme anak-anak dan orang tua yang berada di kedua lokasi itu sangat tinggi. Mereka menyambut dengan gembira membaca ragam buku bacaan yang dihadirkan Kabaca.

Sebagian bukunya ditata rapi di sepeda yang dilengkapi rak buku. Edy pun juga membuka la

Edy Dimyati, pendiri Taman Baca Kampung Buku ditemui di taman baca miliknya di Jalan Abdul Rahman, Gang Rukun, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (25/3/2021). -Foto: Sri Sugiarti

pak baca dengan menggelar tikar plastik untuk tempat bukunya.

Anak-anak dan orang tua yang berwisata ke waduk dan setu itu pun senang memburu buku untuk dibacanya dengan gratis.

“Karbo Baca ini hanya salah satu pendukung bagi anak dan orang tua akan minat baca. Kami akan selalu hadir untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” ujar pria lulusan Universitas Padjajaran (Undap) Bandung, Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Perpustakaan.

Ia mengatakan, buku yang disukai anak-anak untuk dibaca adalah komik, cerita rakyat dan kisah-kisah Nabi. Sedangkan orang tua, lebih pada buku pengetahuan umum, biografi, kesehatan dan tentang keterampilan.

“Situasi waduk dan setu memang masih sepi, karena pandemi, tapi masih ada keluarga yang bermain ke sana. Jadi, mereka bisa membaca buku-buku Kabaca ini, dengan tetap protokol kesehatan,” imbuhnya.

Di wahana itu, Edy tidak sekadar membuka rak sepedanya dan menggelar lapak baca. Tapi, juga menggelar berbagai aktivitas, seperti sulap, mendongeng, memperkenalkan permainan tradisional, seperti yoyo, menggambar dan mewarnai.

“Tujuan untuk menarik minat anak, agar mereka nyaman, kita adakan aktraksi dulu, menghibur. Teman saya ada yang tugasnya mendongeng, sulap dan saya bagian atraksi  permainan yoyo. Jadi, kami bangun kedekatan dulu dengan anak-anak,” ujar ayah dua anak ini.

Selain itu, juga  tentang pentingnya memakai masker di tengah pandemi Covid-19 disampaikan Edy saat menggelar lapak baca. Ini, menurutnya salah satu cara untuk mengedukasi anak-anak dan warga mengenai pandemi Covid-19 dan membangkitkan minat baca.

“Ada juga tebakan seputar aktraksi yang kami berikan, yang bisa jawab dikasih hadiah masker dan lampu baca. Memang hadiahnya tak seberapa nilainya, tapi ada kesan mereka pasti ingat Kabaca, kalau nanti kami datang lagi,” ungkapnya.

Selama pandemi Covid-19, Edy juga membuka layanan antar jemput pinjaman buku gratis bagi masyarakat. Hal ini dilakukan, karena Edy melihat masih banyak anak-anak yang ingin meminjam buku, tapi karena kondisi Covid-19, menghalangi mereka datang ke Kampung Buku.

“Peminjaman online mengantarkan buku pada peminjam dengan transportasi sepeda ini, salah satu ikhtiar di masa Covid-19. Kalau ada warga yang pinjam, whatsapp (WA) ke HP saya, kebetulan bukunya ada akan diantar, tidak dikenakan biaya,” ujarnya.

Namun, untuk layanan peminjaman buku online ini Edy masih membatasi warga yang tinggal di Kecamatan Ciracas. “Saya batasi dulu wilayah Ciracas saja, ya karena kan masih situasi pandemi,” tukasnya.

Layanan pinjaman buku online ini, menurutnya lumayan berhasil membuat para pelanggan Kampung Buku tetap dapat menikmati buku-buku koleksi Edy yang jumlahnya kini sudah mencapai 4.000 lebih.

“Kita ini sedang diuji dengan pandemi Covid-19, tapi tetap harus semangat bergandengan tangan menguatkan bangsa dengan meningkatkan literasi membaca masyarakat,” tutur pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat 43 tahun, ini.

Dikatakan dia, Kabaca ini dibentuk pada 2017 untuk membawa buku keliling Jakarta dan daerah di Indonesia. Sehingga, tak heran jika sebelum masa pandemi, Edi rutin berkeliling ke taman-taman kota, masjid-masjid, dan ruang publik lain di Jakarta pada setiap akhir pekan. Dengan menggunakan sepeda jenis kargo yang dilengkapi rak dan bisa menampung puluhan buku.

Bahkan, kampanye gerakan gemar membaca dengan goes sepeda Kabaca itu juga pernah dikobarkan Edy, dengan keliling Jawa mengunjungi beberapa daerah.  Seperti Karawang, Cikampek, Cirebon, Kuningan, Ciamis, Bandung, dan Bogor.

Saat kampanye itu, Edy bersama kedua temannya mendatangi sekolah-sekolah, pesantren dan masjid, juga masyarakat. “Tujuannya menebarkan virus membaca pada masyarakat di daerah, kami bawa ratusan buku dibagikan pada mereka. Alhamdulillah, sambutan sangat hangat,banyak pengalaman unik yang didapat selama kampanye gerakan membaca itu,” tutupnya.

Lihat juga...