Karya Usmar Ismail Disebut Masih Susah Diakses Masyarakat

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Darah dan Doa, Enam Djam di Djogja, Tiga Dara dan Anak Perawan di Sarang Penyamun adalah hanya segelintir karya dari Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail, yang dikenal oleh masyarakat. Banyak karyanya yang tidak diketahui masyarakat, karena kurangnya akses pada karya seni Indonesia, bukan hanya pada karya Usmar Ismail.

Penulis skenario, Ifan Ardiansyah Ismail, menyatakan walaupun Usmar Ismail sudah ditetapkan sebagai bapak perfilman Indonesia, tapi akses pada pemikiran dan karyanya hingga saat ini masih susah diakses masyarakat.

“Empat film yang disebutkan itu mungkin dikenal masyarakat. Tapi banyak karya Usmar lainnya yang tidak dikenal. Karena itu, kami menayangkan Harimau Tjampa, Lewat Djam Malam, Tjambuk Api dan Liburan Seniman di bulan film tahun ini. Supaya karya Usmar semakin dikenal oleh masyarakat,” kata Ifan dalam salah satu rangkaian diskusi 100 tahun Usmar Ismail oleh Dewan Kesenian Jakarta, Minggu (21/3/2021).

Ia juga menyebutkan, ada beberapa karya Usmar Ismail yang materinya tidak terawat.

“Karena materinya tidak terawat akhirnya tidak bisa diakses. Ini harusnya menjadi kritik bagi para pemerhati narasi Indonesia. Agar lebih mempedulikan karya-karya seni, bukan hanya film saja, tapi semua seni,” ucap pelaku seni dari Kineforum ini.

Ia menyatakan inisiatif untuk merayakan 100 tahun Usmar Ismail ini, bukan hanya disampaikan oleh Kineforum.

“Tapi semua komunitas film yang ada di Indonesia. Karena itu, perayaan dengan mengusung #100tahunUsmarIsmail ini boleh dilakukan siapa saja, komunitas mana saja. Selama memang mengangkat karya Usmar Ismail. Tidak hanya film, tapi juga karya tulisnya,” ucapnya lagi.

Kritikus film Dr. Ekky Imanjaya saat menyampaikan pentingnya mengumpulkan karya-karya Usmar Ismail, dalam salah satu rangkaian diskusi 100 tahun Usmar Ismail oleh Dewan Kesenian Jakarta, Minggu (21/3/2021). -Foto Ranny Supusepa

Kritikus film yang mendapatkan gelar doktoral kajian film dari University of East Anglia Inggris, Dr. Ekky Imanjaya menyatakan Usmar Ismail itu lebih dari hanya pembuat film.

“Tapi kita harus melihat Usmar Ismail pada sosok yang penuh energi, penuh ide, yang di kepalanya selalu penuh pemikiran untuk membuat karya seni,” ujar Dosen Prodi Film Universitas Bina Nusantara ini dengan tegas.

Ia menyatakan harusnya ada upaya untuk lebih mengumpulkan karya-karya Usmar Ismail lainnya.

“Misalnya, selama ia kuliah 6 bulan di UCLA, apakah ada karyanya? Apakah berupa esai atau film pendek. Seperti Syumandjaya yang membuat film pendek saat di Rusia. Ini jadi PR kita semua. Jangan karya seni dari para seniman Indonesia terbengkalai, tak terurus,” pungkasnya

Lihat juga...