Kasus DBD di Sikka Turun Drastis

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama periode bulan Januari hingga Februari 2021 menurun drastis dibandingkan periode yang sama di tahun 2020.

Prestasi ini membuat Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka mendapat apresiasi dari Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia.

“Kasus DBD berhasil kami tekan secara drastis berkat Metode Pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM),” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus saat ditemui di kantornya, Jumat (5/3/2021).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui di kantornya, Jumat (5/3/2021). Foto: Ebed de Rosary

Petrus menyebutkan, selama periode Januari hingga Februari tahun 2020 jumlah kasus DBD mencapai 1.074 kasus. Dari jumlah kasus tersebut,11 orang meninggal dunia.

Penerapan metode STBM kata dia, berhasil menurunkan kasus DBD menjadi hanya 54 kasus selama periode Januari-Februari 2021 ini.

Hal ini sebutnya, berkat kerja keras petugas kesehatan di Dinas Kesehatan didukung segenap elemen masyarakat dan pemerintah desa serta kecamatan terutama di wilayah rawan dengan jumlah kasus tinggi.

“Kami kerahkan petugas pemantau jentik untuk memantau di rumah-rumah warga. Dengan melakukan hal ini maka sejak awal sudah diketahui apakah akan ada kasus atau tidak, dan langsung diatasi,” ucapnya.

Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sikka, Katarina Yuliati memaparkan, terkait langkah penanganan DBD di masyarakat.

Katarina menjelaskan, dalam metode pemicuan STBM dilakukan kegiatan rutin memantau jentik nyamuk, mengatasi sampah dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Kami juga menerapkan jurus Pemicuan STBM dengan penekanan pada pemantaaun kasus, identifikasi masalah, fakta penyebab DBD dan edukasi memakai gambar yang menarik bahkan game edukasi,” terangnya.

Katarina menjelaskan, penerapan metode Pemicuan STBM bertujuan agar masyarakat malu, menimbulkan rasa takut, rasa terbebani serta merasa jijik.

Dengan begitu kata dia, masyarakat akan terpanggil untuk mengatasi jentik nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah terjadinya kasus DBD.

“Berkat keberhasilan ini, Kemenkes RI melalui Direktur Kesehatan Lingkungan menyampaikan apresiasi atas keberhasilan kami dan segenap elemen masyarakat dalam menekan angka kasus DBD,” tuturnya.

Lihat juga...