Konsep Pertanian Presisi Gabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Penerapan konsep pertanian presisi melalui Field Monitoring System (FMS), diharapkan mampu mengurangi masalah kurangnya lahan dan cuaca yang saat ini lebih sulit diprediksi. Selain itu, juga diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian  dan menjadikan pertanian menjadi lebih menarik bagi generasi muda.

Peneliti Pertanian Presisi yang juga Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Andri Prima Nugroho, PhD., menjelaskan bahwa FMS ini merupakan pengamatan iklim mikro yang berbasis pada dua sistem, yaitu lokal dan global.

Dengan manajemen sistem yang menggabungkan berbagai data serta sudah melewati penelitian dan pengamatan, akan dihasilkan suatu mekanisme pertanian berbasis teknologi yang dapat membantu pertanian dalam mengoptimalkan lahan, untuk memaksimalkan hasil lahan tanpa merusak lingkungan.

“Juga memungkinkan petani untuk dapat memantau lahan tanpa henti, tanpa harus datang secara langsung serta dapat melakukan proses penanaman sesuai kondisi musim,” kata Andri, dalam Bincang Desa di Google Meet, Senin (29/3/2021).

Peneliti Pertanian Presisi yang juga Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Andri Prima Nugroho, PhD., (kiri bawah) dan Pemilik Rejeki Tani yang juga merupakan putri dari pak Mino, Sribudi Astuti, STP (kanan bawah) saat menyampaikan tentang Field Monitoring System (FMS) dalam Bincang Desa di Google Meet, Senin (29/3/2021). –Foto; Ranny Supusepa

Ia menjelaskan, elemen lokal dari FMS adalah intensitas cahaya matahari, kelembapan, angin, suhu dan hujan.  “Data yang dikumpulkan dari alat yang dipasang di lahan milik petani ini akan dikirimkan ke cloud. Lalu, data tersebut akan diolah oleh sistem dengan menggabungkan data terkumpul dengan pengetahuan yang dimiliki para petani,” urainya.

Jadi, lanjutnya, pengalaman petani yang merupakan knowledge atau wisdom atau kearifan lokal akan digabungkan dengan teknologi berupa pengolahan data, akan bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya, sehingga bisa menjadi suatu pengajaran cara bertani yang baik.

“Harapannya, FMS ini akan bisa menjadi riset frontier dalam aplikasi teknologi di bidang pertanian pada kawasan tropis. Dan, mampu menjembatani pertanian tradisional ke presisi. Kami juga mengharapkan para generasi muda bisa memberi karya nyata dalam bidang pertanian,” tandasnya.

Mino, petani yang sudah mulai memanfaatkan sistem pertanian presisi FMS, mengaku mendapatkan keuntungan dari segi waktu dan hasil karena sistem ini.

“Kalau dulu setiap hari saya harus ke sawah dan ladang mantau tanaman. Kadang-kadang hujan membuat panen berkurang hasilnya. Kalau sekarang, bisa ketahuan kalau mau hujan. Jadi, bisa dijaga,” ucapnya saat dihadirkan dalam acara yang sama, dengan bahasa Jawa yang kental.

Ia menyatakan, bahwa ia tidak pernah belajar sekolah tentang bertani. Pengetahuannya tentang bertani sepenuhnya didapatkan dari orang tua dan pengalamannya selama bertahun.

“Saya tidak pernah belajar cara bertani. Saya hanya tahu dari apa yang diajarkan orang tua. Kalau mangsa ini cocoknya nandur (tanam) apa. Misalnya, bertani itu mulai di musim kemarau. Atau kalau mangsa katelu artinya sudah tidak bagus untuk menanam palawija,” katanya.

Ia mengatakan, beberapa bulan lalu ada pemasangan pemantau cuaca dan pemantau lahan. “Anak saya yang suruh pasang. Katanya bisa bantu mantau hujan atau mantau tanaman hanya lewat HP. Jadi, kalau saya gak ke lahan karena harus pergi, saya tetap bisa lihat tanaman saya,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, alat pemantau cuaca ini bisa membantu para petani untuk tahu kapan tepatnya melakukan penanaman. “Bagusnya memang begitu. Ilmu lokal itu dikawinkan dengan teknologi. Kalau nanti sudah cocok, hasilnya akan bagus,” ujarnya lagi.

Pemilik Rejeki Tani yang juga merupakan putri dari pak Mino, Sribudi Astuti, STP., menyatakan dengan memantau iklim berbasis teknologi sensor akan membantu para petani untuk bisa menanam sesuai dengan cuacanya.

“Misalnya, waktu yang cocok untuk menanam tanaman dari keluarga kacang-kacangan. Atau kapan waktu yang cocok untuk menanam kelompok solanasay, seperti cabai, tomat atau terung,” kata Alumnus Jurusan Mekanisasi Pertanian UGM ini.

FMS ini juga membantu para petani, kapan harus menyirami tanamannya. Atau kapan harus menutup tanamannya, agar tidak terpapar hujan deras.

“Butuh waktu untuk petani menyesuaikan dengan sistem ini. Karena itu, butuh bantuan anak-anak muda untuk memperkenalkan sistem ini pada petani dan membantu sistem ini dapat dipergunakan lebih banyak untuk meningkatkan hasil petani,” pungkasnya.

Lihat juga...