Koperasi Bantar Agung Fasilitasi Penjualan Produk UMKM

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAJALENGKA – Selain membantu anggota koperasi dalam hal permodalan melalui program Modal Kita, Koperasi Bantar Agung yang merupakan binaan Yayasan Damandiri juga memfasilitasi pemasaran produk-produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat. Hanya saja, pemasaran belum bisa maksimal karena terkendala pandemi Covid-19.

Produk UMKM yang difasilitasi penjualannya antara lain keripik pisang, keripik singkong, emping, kopi dan lain-lain. Sebelum pandemi, penjualan produk UMKM cukup bagus, namun sekarang menurun drastis.

“Omzet penjualan produk UMKM turunnya sangat drastis, lebih dari 50 persen, karena itu untuk sementara kita meminta supaya suplai produk dikurangi terlebih dahulu. Sambil menunggu kondisi membaik,” kata Ketua Koperasi Bantar Agung, Heryanto, Sabtu (27/3/2021).

Ketua Koperasi Bantar Agung, Heryanto, dijumpai Sabtu (27/3/2021) di Majalengka, Jawa Barat. Foto: Hermiana E. Effendi

Koperasi yang berada di Desa Bantar Agung, Kecamatan Sidangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat ini sudah menyediakan lokasi yang sangat strategis untuk memajang produk UMKM dari warga desa.

Yaitu pada kedai kopi yang letaknya di jalan masuk desa. Sehingga para wisatawan yang datang ke desa, akan dengan mudah menemukan pusat oleh-oleh khas Bantar Agung, sekaligus juga bisa menikmati kopi lokal.

Tak hanya itu, lokasi kedai kopi juga dikelilingi pemandangan hijau dari sawah serta perbukitan desa yang disebut-sebut memiliki potensi wisata tersembunyi tersebut. Sehingga kedai kopi yang belum di-launching secara terbuka tersebut, menjadi tempat favorit para wisatawan untuk singgah. Beristirahat sambil menikmati pemandangan dan minum kopi, serta berbelanja kuliner khas desa.

“Kedai kopi ini baru berjalan sebentar, kemudian terhadang pandemi. Terpaksa harus tutup, namun untuk penjualan produk UMKM tetap kita fasilitasi,” jelas Aher, sapaan Heryanto.

Salah satu warga Desa Bantar Agung yang mempunyai usaha kuliner, Ibu Amirah mengatakan, ia membuat produk emping dan keripik pisang. Sebelum pandemi, ia biasa menyuplai untuk satu jenis produk sebanyak 20 kilogram per minggu. Dan dagangannya selalu habis.

Namun, sejak pandemi Covid-19, tingkat kunjungan wisatawan menurun dan kedai kopi juga tidak bisa buka secara penuh. Hal tersebut berdampak terhadap omzet penjualan emping serta keripik pisang. Saat ini Ibu Amirah hanya menyuplai 2-3 kilogram untuk satu produk setiap minggunya.

“Omzet penjualan turun, sehingga produksi juga harus saya kurangi. Sebab, jika tetap produksi banyak dan tidak laku, akan rugi. Sekarang pendapatan saya juga menurun drastis,” tuturnya.

Ibu Amirah berharap, pandemi segera berlalu, sehingga ia bisa berjualan seperti dulu lagi, di mana dagangannya bisa laku sampai 20 kilogram per minggu.

Lihat juga...