KPAI Bekasi: Pemeriksaan di Klinik Mata Didominasi Anak Usia Sekolah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Selain banyak anak berkeliaran di jalanan simpang lampu merah dan lainnya di Kota Bekasi, Jawa Barat selama pandemi Covid-19, juga ada hal memorihatinkan dampak dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan meningkatnya pemeriksaan mata yang didominasi usia anak.

Ketua Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Bekasi, Aris Setiawan mengaku miris, pemeriksaan di klinik mata didominasi usia anak selama setahun terakhir. Namun demikian dia enggan menyebut secara spesifik dampak dari PJJ.

“Haisl koordinasi dengan pihak Puskesmas, dan orang tua ataupun klinik mata didapati mayoritas yang melakukan pemeriksaan mata didominasi oleh anak selama setahun terakhir,” ungkap Aris kepada Cendana News, Kamis (18/3/2021).

Dikatakan secara persentase mencapai 60 persen jumlah anak yang memeriksakan diri di klinik mata, disamping orang dewasa atau pun tua. Namun kembali ditegaskan bahwa itu masih pengakuan di lapangan belum ada data secara spesifik.

Diakuinya bahwa selama penerapan PJJ, anak diharuskan memegang gadget dalam pembelajaran. Namun tentunya tidak sedikit yang lepas kontrol dari orang tuanya.

Menurutnya, wali murid tentunya memiliki kemampuan berbeda-beda dalam mengontrol anaknya mengikuti PJJ. Hal tersebut tentunya menjadi persoalan tersendiri. Karena ada orang tuanya dari pagi harus bekerja dan lainnya guna memenuhi kebutuhan hidup.

“Data spesifik memang tidak ada, tapi hari ini gawai membuat candu pada anak memang benar. Saya tidak menyalahkan orang tua, tapi harusnya peran pemerintah juga ada, karena banyak aplikasi yang mudah diakses oleh semua usia,” jelasnya berharap peran orang tua dalam mengawasi anak agar kedepan penyakit mata pada anak tidak jadi permanen.

Lebih lanjut dikatakan PJJ sudah menjadi ketetapan sebagai salah satu, metode pembelajaran bagi peserta didik. Harusnya ada kontrol, seperti aplikasi yang tidak mendidik yang sekarang sedang viral agar dibatasi supaya tidak bisa diakses oleh anak.

Aris juga mengapresiasi peran Kemendikbud dan Disdik terkait kurikulum yang mulai diinovatifkan. Karena ada 70 persen kurikulum utama dipangkas. Sehingga yang berat hanya 30 persen meliputi daring dan ada metode melalui LKS.

“Saat ini, bicara kedepannya kalau anak tidak diawasi dengan tepat bisa berdampak pada negatif dari gawai bisa dikhawatirkan. Secara medis jelas aktivitas lebih pasif dengan PJJ. Karena anak harusnya beraktivitas di luar, sekarang hanya bermain gadget,” paparnya.

Dia juga menegaskan bahwa dari problem yang ditangani sejak 2019-2020 seperti tawuran, bullying. Gawai memiliki peran, kenapa anak bullying, tawuran dan lainnya.

Sementara wali Murid SD di Jatikarya, Suryana, mengakui bahwa ia kerepotan dalam mendampingi anaknya belajar jarak jauh. Pertama ia harus berjualan dan suaminya bekerja.

“Ya, pasrah aja, mau diapakan lagi, kebutuhan ekonomi juga penting, belajar anak sama. Tapi sekarang yang penting bisa makan dulu, masa lagi sulit begini, ngomong teori dan lainnya memang gampang, prakteknya sekarang zaman susah,”ucapnya.

Lihat juga...