Kurangi Volume Sampah, Jakarta Timur Galakkan ‘Samtama’ Tiap RW

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur berupaya mengurangi produksi sampah di wilayahnya dengan program bank sampah yang dibangun di setiap Rukun Warga (RW). Diharapkan warga tergerak untuk melakukan pengurangan, pemilahan dan pengolahan sampah.

Kepala Suku Dinas (Kasudin) Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Herwansyah mengatakan, volume sampah di Jakarta Timur setiap harinya mencapai 1700 ton, dan 53 persennya itu sampah organik sedangkan 47 persennya anorganik.

Untuk mengurangi volume sampah pihaknya menggalakkan program Sampah Tanggung Jawab Bersama (Samtama) di setiap RW.

“Program Samtama ini, kami ajak  masyarakat melakukan pengurangan, pemilahan dan pengolahan sampah di masing-masing RW. Diharapkan volume sampah bisa berkurang, lingkungan jadi lebih bersih,” ujar Herwansyah, kepada Cendana News saat dihubungi, Rabu (31/3/2021).

Kasudin Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Herwansyah, di kantornya di Jakarta Timur, Rabu (31/3/2021). -Foto: Sri Sugiarti/HO-Dok. Herwansyah

Sampah-sampah anorganik yakni botol plastik bekas, kardus bekas, logam dan lainnya, bisa dibawa warga ke bank sampah yang sudah terbentuk di setiap RW.  “Ini kan bernilai ekonomis, karena warga dapat tabungan sampah yang bisa dicairkan,” tandasnya.

Sedangkan sampah organiknya, yang berupa sisa makanan, sisa sayuran dan buah-buahan juga daun kering tebangan pohon, bisa diolah menjadi pupuk kompos melalui tong komposter. Selain itu, kata dia, warga juga bisa melakukan mendaur ulang sampah anorganik menjadi kreasi barang yang menarik.

“Sampah anorganik ini kan nggak bisa diurai, butuh waktu 200 tahun untuk mengurainya kembali. Tapi bisa diolah jadi ragam kreasi, contoh tas yang dibuat dari kemasan bungkus kopi atau bungkus pewangi. Bisa dijual bernilai ekonomis,” ujarnya.

Saat ini kata dia, terdapat 428 bank sampah aktif di Jakarta Timur, yang tersebar di 10 kecamatan.

“Tahun ini, kita targetkan 710 bank sampah, insyaallah tercapai. Karena mengelola sampah itu bukan angkut, buang dan tumpah ke Bantar Gembang, Bekasi saja. Tapi harus sudah punya konsep bagaimana mengurangi sampah di Jakarta Timur, ya dengan bank sampah,” tegasnya.

Dikatakan dia, pembangunan bank sampah akan terus berlanjut, diharapkan setiap RW minimal memiliki satu bank sampah aktif. Yang dapat menampung sampah-sampah anorganik atau yang bisa didaur ulang.

Dengan adanya bank sampah, diharapkan produksi sampah di Jakarta Timur dapat dikurangi. Namun menurutnya, untuk mengampanyekan program pilah sampah, masyarakat harus terus diedukasi dan sosialisasi. Karena melakukan pemilahan sampah itu memang membutuhkan kesadaran dari warga.

Sosialisasi dapat dilakukan seperti pada  memperingati HPSN (Hari Peduli Sampah Nasional). Serta melakukan pelayanan dengan sistem jemput bola bank sampah bagi warga yang sudah melakukan pemilahan sampah anorganiknya.

“Mengatasi lingkungan ini tidak hanya bisa diserahkan kepada pemerintah itu perlu peran masyarakat, minimal mengolah sampah sendiri,” ujarnya.

Direktur Bank Sampah Maju Sejahtera, Arif Wahyudin mengatakan, permasalahan sampah tidak bisa hanya mengandalkan petugas kebersihan. Seluruh lapisan masyarakat  bergerak menangani masalah sampah. Salah satu yang bisa dilakukan, yakni berpartisipasi dalam kegiatan bank sampah.

“Bank sampah ini, solusi tepat mengatasi sampah di lingkungan jadi bersih, karena volume sampah bisa dikurangi,” ujar Arif saat dihubungi Cendana News.

Menurutnya, program bank sampah yang ada di RW 04 Kelurahan Ciracas ini bertujuan untuk mengubah paradigma masyarakat untuk memaknai sampah sebagai sesuatu yang bernilai ekonomis. Sehingga dalam program ini, Arif mengajak warga mulai memilah sampah organik dan anorganik.

Dia berharap dari 100 persen volume sampah di lingkungan RW 04 dapat dikurangi sekitar 85 persennya untuk dikelola di bank sampah. “Saat ini, kami baru menyerap 15-25 persen sampah, target kita sih 85 persen untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke hilir, yaitu Bantar Gerbang,” pungkasnya.

Lihat juga...