LSM di Sikka Dampingi Kelompok Tani dalam Produksi Madu Hutan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Madu hutan yang di produksi oleh Kelompok Tani Hutan Wairtopo Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu produk dari pendampingan program Perhutanan Sosial.

“Produk madu hutan yang dihasilkan berkat Program Perhutanan Sosial dari LSM Sandi Florata yang bekerja sama dengan Kemitraan Pathnership,” kata Alfons Hery, Sekertaris Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sandi Florata,saat ditemui di Kelurahan Wairotang, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (2/3/2021).

Hery sapaannya mengatakan, sebelum dilakukan pendampingan tentang hasil dari madu hutan, telah dilakukan beberapa tahapan dalam pengelolaan hutan melalui program Perhutanan Sosial dengan skema Hutan Kemasyarakatan (HKm).

Dijelaskannya, tahapan pertama legalitas pengelolaan dalam kawasan dimana sejak tahun 2015 pihaknya sudah mulai memfasilitasi untuk permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) .

“Tepat pada tahun 2017 bulan Desember melalui Kementerian Kehutanan telah diterbitkan SK IUPHKm oleh Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup dengan Luas 1.000 hektare,” jelasnya.

Hery menambahkan, tahap berikut adalah pendampingan pasca IUPHKm yang mana setelah dilakukan identifikasi potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), madu hutan merupakan salah satu potensi yang bisa di kembangkan.

Ia menyebutkan, LSM Sandi Florata dan Kemitraan pun memfaslitasi untuk produksi madu hutan yang dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi anggota kelompok HKm.

“ Fasilitas tersebut berupa pengadaan alat tiris madu, botol, label dan kemasan botol. Dari hasil tersebut maka pada tahun 2019 madu hutan Sikka menjadi salah satu produk dari hasil hutan yang ikut dalam festival Perhutanan Sosial Nusantara (PeSoNa) di Jakarta,” paparnya.

Ketua Kelompok HKm Wairtopo selaku pembuat madu hutan Sikka, Bernadus Brebo mengatakan, kelompoknya terdiri atas 15 anggota dimana tahun 2019, dia mengikuti pelatihan pengolahan madu di Kota Kupang.

Brebo sapaannya menambahkan, setelah pelatihan dirinya mengajari anggota memproduksi sabun dari bahan baku madu hutan yang dijual seharga Rp5 ribu per buahnya.

“Kami pun menjual madu hutan dimana tahun 2019 saat awal memulai kami menghasilkan 300 botol ukuran 350 mililiter yang dijual Rp50 ribu per botolnya,” ucapnya.

Bernadus menyebutkan, panen madu dilakukan saat malam hari saat bulan gelap dengan memanjat pohon dan memotong sarangnya sebab bila dilakukan saat siang hari maka pemanjat akan digigit lebah.

“Kami mempergunakan alat refractometer untuk mengukur kadar air dalam madu agar sesuai standar 22 sampai 23. Apabila melebihi standar tersebut maka madunya mengandung banyak air dan kualitasnya kurang bagus,” ungkapnya.

Lihat juga...