Madi

CERPEN ERWIN SETIA

TIGA hari ke depan akan menjadi hari-hari penuh kegelisahan bagi Madi. Waktu pembayaran uang sewa kontrakan yang ditempatinya bersama istri dan dua anaknya bakal jatuh tempo.

Bukan hanya itu, Madi juga mesti membayar tunggakan uang sewa bulan lalu yang belum ia bayarkan. Belum lagi istri dan anak-anaknya yang terus-menerus merengek tanpa mau peduli betapa Madi sedang di ambang batas keputusasaan.

Jelas saja sekelumit kenyataan itu membuat kepala Madi ingin pecah. Ia merasa pikirannya buntu dan tiap kali melangkah yang ia temui hanyalah dinding-dinding besi.

Satu hari sebelum waktu pembayaran kontrakan bulan lalu tiba, Madi pulang ke rumahnya dengan raut gembira. Ia membawa tas besar dan kantong plastik berisi hadiah dan makanan.

Feni menyambut kepulangan sang suami dengan semangat dan cekatan. Selain rasa rindu yang meluap-luap setelah tiga minggu tak berjumpa Madi, Feni menjadi lebih bertenaga ketimbang biasanya karena melihat ada yang menonjol di balik saku celana jins suaminya.

Ia menyeduh segelas kopi dan meletakkannya di atas meja kecil di ruang tamu dengan gerakan seorang pelayan hotel bintang lima. Ia melemparkan senyum paling manis kepada Madi, memeluknya, dan mencium bibir Madi yang kering.

“Silakan diminum, Mas. Kamu pasti sangat lelah dan merindukan kopi buatanku,” ujar Feni dengan senyum menggoda.

Madi menyeruput kopi yang masih menguapkan asap tipis. Wajahnya semringah. Ia menyanjung kopi buatan Feni sebagai kopi terlezat yang pernah ada di dunia.

Faktanya, Madi tidak pernah pergi ke luar kota tempatnya tinggal melainkan satu kali saja, yaitu tiga minggu lalu saat ia terpaksa mengikuti ajakan Manto Darman untuk kerja di kota B, lantaran di kotanya sendiri ia tak kunjung memperoleh pekerjaan.

Dua orang anaknya, Deji yang sebentar lagi masuk SD dan Alena yang baru pandai berjalan masih tidur di kamar. Hari belum terlalu panas. Madi menumpangi bus yang berangkat paling pagi karena ia sudah tak sabar untuk pulang ke rumah.

Bus itu penuh sesak. Madi tak heran. Sebab saat itu memang waktunya liburan sekolah sehingga bus-bus selalu ramai—tak kenal pagi atau pun malam.

“Bagaimana, Mas?” tanya Feni. Pertanyaan Feni itu bermakna dua hal: bagaimana kabarmu dan bagaimana kabar pekerjaanmu—makna kedua ini menyangkut juga soal gaji.

“Baik,” kata Madi seraya menyeruput kopinya sekali lagi.

Ia memeriksa saku jinsnya. Ia memeriksa saku kiri—yang tadi dilihat Feni dan disangkanya adalah dompet tebal milik Madi—dan mengeluarkan ponselnya. Ia memeriksa saku kanan dan tak mengeluarkan apa-apa.

Ia mengulang-ulangi pemeriksaan itu. Ia juga mengecek saku belakang jinsnya, saku kemejanya, tas besarnya, dan kantong-kantong belanjaannya.

Berkali-kali Madi melakukan hal itu sampai kemudian ia berhenti dan menghadap Feni dengan muka kaku dan melambangkan kepanikan tingkat tinggi.

“Dompetku hilang,” ujar Madi lemah.

Wajah Feni yang sebelumnya memasang senyum yang seolah abadi mendadak ciut. Pandangannya hampa. Mulutnya terkunci. Madi mengumpat-umpat dengan suara pelan. Kemudian keduanya membisu.

Beberapa saat berlalu, Bu Ros—pemilik kontrakan—datang dan tanpa tedeng aling-aling menagih uang kontrakan.

“Wah, kebetulan Mas Madi sudah pulang. Bawa banyak belanjaan pula. Pastinya sudah siap bayar kontrakan juga, kan?”

Madi dan Feni berpandangan. Keduanya menoleh ke arah Bu Ros yang berdiri sambil senyam-senyum. Madi menceritakan segalanya. Ketika ceritanya selesai, Bu Ros berteriak dan marah-marah.
***
DUA bulan belakangan Madi berkeliling ke mana-mana, menanyakan lowongan saban dilihatnya sebuah rumah atau gedung sedang dibangun.

Namun, ia lebih banyak menerima penolakan dan permintaan maaf yang sama sekali tak mengubah hidupnya. Di beberapa tempat, ia memang sempat dipekerjakan, tapi hanya bertahan satu-dua hari karena beragam sebab.

Entah si pemilik bangunan yang tiba-tiba menghentikan, sang mandor yang menyuruhnya tak bekerja lagi, atau memang pengerjaan sudah rampung.

Suatu kali, di suatu tempat yang agak jauh dari rumahnya ia bekerja dimandori seorang lelaki gempal-berkumis yang wajahnya terlihat sangat menyebalkan. Ia juga hanya bekerja beberapa hari di situ.

Saat waktu gajian tiba, tiba-tiba si mandor menghilang dengan membawa kabur uang gaji miliknya dan beberapa pekerja lainnya.

Sementara itu, kebutuhan rumah tangga tak bisa diajak kompromi. Istrinya secara rutin merengut dan mengeluhkan macam-macam. Mulai dari kebutuhan sehari-hari sampai persiapan biaya sekolah Deji.

Tidak ada lagi kopi terlezat di dunia. Tidak ada lagi pelukan dan ciuman. Sedangkan persenggamaan suami-istri, ia bahkan sudah hampir lupa rasanya.

Tuntutan hidup membuatnya tak bisa memikirkan apa-apa selain memikirkan cara untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dengan secepat-cepatnya. Anak-anaknya juga menjadi lebih sering menangis.

Ia kesal sekaligus iba kepada sepasang buah hatinya itu. Menatap anak-anak yang masih mungil tapi sudah harus merasakan dampak kerasnya kehidupan itu, Madi teringat kepada perkataan orang tuanya dahulu.

“Banyak anak, banyak rezeki,” kata mereka. Madi mengingatnya dengan kecut dan ingin sekali rasanya ia mendaftarkan kata-kata itu sebagai salah satu kebohongan terbesar di dunia.

Seolah bersengkokol dengan istri dan anak-anaknya untuk membuatnya mati sakit kepala, Bu Ros mendatangi rumahnya setiap beberapa hari sekali.

Perempuan paruh baya itu menagih uang kontrakan sambil terus-menerus memperingatkan, “Sebentar lagi sudah mau dua bulan, loh.”

Ia mengatakan itu semenjak tiga hari setelah peristiwa hilangnya dompet Madi sampai tiga hari sebelum bulan kedua betul-betul jatuh tempo.

Bukan hanya kesulitan mencari pekerjaan, seiring waktu membeli beras dan bahan masakan pun menjadi sesulit membeli berlian bagi Madi. Istrinya melulu tampak kuyu. Sementara anak-anaknya semakin kurus dan gampang menangis.

Madi dan Feni juga jadi lebih kerap bertengkar. Siang dan malam. Masalah ekonomi membuat mereka lupa dan tak peduli bahwa pada suatu waktu di masa silam mereka hampir tiap hari mengucapkan cinta seolah-olah cinta dapat menyelesaikan segalanya.

Orang-orang di sekitar Madi, para tetangga dan sanak saudara hanya bisa menonton kesusahan hidup Madi sambil diam-diam menggunjinginya di belakang. Tak sekalipun Madi dan Feni—meskipun keduanya juga tak mengharapkan belas kasihan mereka—mendapati sebentuk kepedulian dari mereka.

Ia seolah hidup sendirian di muka bumi. Tanpa tetangga, tanpa saudara, tanpa orang lain yang mau menyisihkan waktu untuk menunjukkan sikap respek kepada keluarga kecilnya.

Waktu terus berputar tanpa menghiraukan seorang anak manusia—dan banyak anak manusia lainnya di semesta ini—tengah kelimpungan memikirkan apakah hari esok perutnya dan perut istri serta anaknya masih bisa terisi atau tidak.

Matahari terus bersinar, tapi Madi sudah lama merasa cahaya mentari sia-sia belaka. Ia merasakan hidupnya begitu gelap, bagai terkurung dalam suatu ruangan jeruji raksasa yang tak memiliki lubang udara melainkan sebuah bolongan kecil saja yang terletak di ujung ruangan.
***
PAGI itu, Madi duduk di teras rumah tanpa kudapan ataupun kopi di sebelahnya. Ia memandangi suasana di luar rumahnya yang sepi.

Tak ada sepeda motor melintas. Tak ada orang-orang berlalu-lalang. Pohon kersen di depan rumah Bu Ros bergoyang pelan dan menjatuhkan sehelai-dua helai daunnya.

Merasa jenuh, Madi bangkit dan ke luar rumah berjalan kaki. Ia terus berjalan tanpa tujuan sampai kemudian ia melihat sebuah rumah besar dan megah di kejauhan.

Rumah itu tampak kontras dengan kebanyakan rumah di sekelilingnya yang kecil dan sederhana saja. Sebuah gagasan liar menyelusup ke dalam kepala Madi. Ia segera berbalik menuju rumahnya dan bersiap menunggu malam tiba.
***
“MALING! Maling!” Satpam berseragam dan bertubuh jangkung itu berteriak-teriak. Meski malam sudah kelewat larut, suaranya yang menggelegar membuat seisi rumah dan sejumlah tetangga terbangun.

Lelaki berpenutup kepala hitam itu berlari cepat sambil mengempit sebuah laptop. Di belakangnya, belasan orang mengejar-ngejar sambil meneriakkan makian dan seruan yang membuat orang-orang lain yang masih lelap ikut terbangun.

Lelaki itu menoleh ke belakang dan ketakutan menebal di dadanya. Rasa takut itu membuatnya berlari semakin cepat seperti seorang atlet. Malam begitu dingin dan rumahnya terasa begitu jauh.

Pada akhirnya, ia tiba di gang rumahnya. Namun, persis saat ia hendak berbelok ke arah rumahnya, kakinya tersandung balok kayu dan ia pun terjatuh.

Tanpa perlu waktu lama, orang-orang yang mengejarnya berhasil menyusulnya. Mereka meringkus lelaki itu. Mereka menghajarnya.

Mereka memukul, menendang, dan memaki-maki lelaki itu. Meski malam begitu gelap, samar-samar lelaki itu sempat melihat wajah-wajah tetangganya turut serta menghajarnya.

Ia takjub melihat kehadiran mereka. Ia takjub dan bertanya-tanya, ke mana saja mereka selama ini. Orang-orang yang dilanda amarah itu tak juga berhenti mengempaskan pukulan dan sepakan kepada lelaki itu.

Mereka baru berhenti ketika gonggongan anjing terdengar dari suatu rumah. Tubuh lelaki itu penuh luka dan berdarah-darah. Seseorang memeriksa denyut nadi dan detak jantung lelaki itu.

Ia sudah mati. Dari dua rumah yang berbeda, Bu Ros dan Feni keluar. Mereka bertanya-tanya apa pasal gang rumah mereka berisik malam-malam begini.

Saat keduanya mendapati jasad seorang lelaki yang teramat mereka kenal terbujur di jalanan tanpa nyawa, mereka terbelalak.

Bu Ros hanya terbelalak. Feni terbelalak dan pingsan.

“Madi mati,” ucap Bu Ros pelan. Ia sepertinya sedih. Sedih sekali. ***

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri  Sunan Gunung Djati, Bandung, Jawa Barat. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...