Masih Banyak Sampah, DPU Banyumas Gencarkan Gerakan Cintai Sungai

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Sungai Kranji yang berada di pusat Kota Purwokerto dan mengalir di tepi Taman Edukasi Sumber Daya Air (Tesda) kondisinya masih tercemar sampah-sampah rumah tangga. Tak hanya menciptakan pemandangan yang kurang sedap, tetapi juga berpotensi menghambat aliran sungai dan menyebabkan banjir.

Direktur Sekolah Air, Bambang Prasetyo Karyanto di Tesda Purwokerto, Rabu (31/3/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

KepalaDinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Banyumas, Irawadi mengatakan, masih perlu banyak edukasi untuk membangun kecintaan masyarakat terhadap sungai.

“Program jangka panjang, kita memberlakukan aturan semua rumah yang berada di dekat sungai, harus menghadap ke sungai, jangan ada lagi rumah yang membelakangi sungai. Supaya masyarakat melihat terus kondisi sungai dan ikut menjaganya. Kemudian kita juga membuka sekolah air, yang bertujuan untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap sungai,” jelasnya, Rabu (31/3/2021).

Terkait sekolah air ini, saat ini sedang dilakukan pendaftaran dari berbagai komunitas serta lapisan masyarakat. Sekolah informal ini akan dilaksanakan pada akhir pekan dan gratis.

“Sepanjang masyarakat mau datang untuk belajar, kita akan terima dengan tangan terbuka, tidak ada biaya alias gratis. Sekolah ini juga mengeluarkan ijazah serta di bawah pengelolaan direktur sekolah air,” katanya.

Sementara itu, Direktur Sekolah Air, Bambang Prasetyo Karyanto mengatakan, sekolah informal ini mencakup berbagai kalangan, mulai dari anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) hingga SMA, mahasiswa serta masyarakat umum. Untuk pembagian kelas, akan dikelompokan berdasarkan usia serta minat.

“Kita sudah membuat kurikulum dan disesuaikan dengan usia siswa. Kurikulum meliputi pengetahuan dasar seputar sungai, penanganan sampah dan limbah kawasan sungai, mitigasi bencana hingga pemberdayaan dan ekonomi kreatif kawasan sungai,” terangnya.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, untuk usia anak TK serta SD, hanya diberikan pembelajaran dasar terkait sungai dan untuk kegiatan outdoor bisa diisi dengan menyusuri tepian sungai. Sedang untuk kelompok dewasa, kegiatan outdoor lebih mendalam. Untuk kegiatan susur sungai misalnya, harus menghasilkan rekap data kondisi sungai dan sebagainya, termasuk cara penanganan dan pengolahan sampah.

“Inti dari sekolah air ini adalah untuk mendekatkan masyarakat kepada sungai dan membangkitkan kecintaan mereka, sehingga tumbuh rasa tanggung jawab untuk ikut menjaga kelestarian sungai. Jadi ada timbal balik antara alam dengan kita dan itu yang ingin kita bangun mulai sekarang,” ungkap Bambang.

Lihat juga...