Mayoritas Sekolah di Banyumas Lolos Verifikasi PTM

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Mendekati tahun ajaran baru, sebagian besar sekolah untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Banyumas sudah lolos verifikasi tim gugus tugas penanganan Covid-19 dan dinyatakan siap untuk menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Banyumas, Irawati mengatakan, hampir seluruh sekolah yang berada di bawah naungan Dindik Banyumas sudah mengajukan izin pelaksanaan PTM. Dan sebagian besar sudah dilakukan verifikasi.

“Sudah lebih dari 50 persen untuk sekolah SD dan SMP yang dilakukan verifikasi terkait penerapan protokol kesehatan di sekolah dan oleh tim gugus tugas dinyatakan siap untuk PTM,” jelasnya, Kamis (18/3/2021).

Verifikasi dari tim gugus tugas meliputi sarana dan prasarana sekolah, seperti tempat cuci tangan, pengaturan tempat duduk, pengawasan dari sekolah dan lain-lain. Selain itu, juga diharuskan ada izin dari orang tua siswa untuk pelaksanaan PTM.

Sedangkan untuk sekolah yang belum dilakukan verifikasi, karena pengajuan izinnya memang baru disampaikan. Dan beberapa di antaranya proses verifikasi sudah berjalan.

“Dari sisi prokes sudah siap, namun kita masih menunggu izin dari Pak Bupati, karena tentu ada pertimbangan tersendiri yang berhubungan dengan status Covid-19 di Banyumas secara umum,” katanya.

Sementara itu, salah satu SD yang sudah lama mengajukan izin PTM adalah SD Negeri Karangdadap, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Sarana prokes di sekolah tersebut sudah lengkap, dimana pada tiap ruang kelas dan ruang guru sudah disediakan tempat cuci tangan lengkap dengan sabun.

Selain itu, penataan kursi di dalam ruang kelas juga sudah diatur dengan berjarak dan pihak sekolah juga sudah menyediakan alat pengukur suhu tubuh. Namun, sekolah masih tampak lengang, hanya para guru yang terlihat sibuk di ruangan.

Salah satu guru di sekolah tersebut, Dewi Ratnawati mengatakan, pihaknya serta orang tua siswa sangat berharap bisa segera dilakukan PTM. Sebab menurutnya, kondisi anak-anak di desa berbeda dengan di perkotaan. Di desa, tidak semua anak ataupun orang tua memiliki handphone sebagai sarana pembelajaran online. Dan terlepas dari hal tersebut, ada kecenderungan anak-anak justru bermain sepanjang hari tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

“Kalau di desa, anak-anak justru lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan saat datang ke sekolah. Sebaliknya saat berada di rumah, mereka cenderung bermain bersama teman, berkerumun dan tidak menggunakan masker, minim pengawasan dari orang tua,” tuturnya.

Lihat juga...