Memahami Kehidupan Bapak Perfilman Usmar Ismail Lewat Buku

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Mujahid Film Usmar Ismail mungkin bisa dijadikan jendela untuk mengenal timbul tenggelam sosok Usmar Ismail dan membuatnya lebih dikenal tak hanya oleh insan perfilman secara khusus tapi juga untuk masyarakat Indonesia secara umum. Dan, bukan hanya Usmar Ismail sebagai pembuat film tapi juga sebagai pelaku sastra. 

Pelaku seni, Putri Ayudya, menyatakan memang suatu hal yang ironis, bahwa dirinya yang sudah berkecimpung di dunia perfilman secara resmi di tahun 2015 dan mengenal dunia teater sejak SMA, hanya mengetahui sedikit sekali tentang Usmar Ismail.

“Saya hanya tahu dia Bapak Perfilman Indonesia dan sebagai nama salah satu gedung di Jalan Kuningan Jakarta. Dan, saya bisa bilang, kondisi ini bukan pada diri saya saja. Tapi juga hampir semua insan muda film. Jadi, hadirnya buku Mujahid Film Usmar Ismail ini kayak jendela wawasan baru buat saya,” kata Putri dalam salah satu rangkaian acara online Peringatan 100 Tahun Usmar Ismail yang digelar Dewan Kesenian Jakarta, Minggu (21/3/2021).

Ia menyatakan saat pertama kali menerima copy buku Mujahid Film Usmar Ismail dari pengarangnya Ekky Imanjaya, sangat surprise. Karena seperti diberi kesempatan emas untuk mengenal sosok Bapak Perfilman Indonesia ini.

“Dengan lebih dari 100 halaman, kumpulan tulisan Ekky seperti membuat saya lebih mengenal Usmar Ismail dibandingkan masa saya berkecimpung di dunia film,” ucap gadis cantik yang menjadi nominasi pemeran utama wanita terbaik FFI 2018 melalui perannya di film Kafir : Bersekutu dengan Setan.

Putri juga menyatakan alasan menyukai buku ini, karena buku ini didasarkan pada data-data shahih yang didapatkan Ekky melalui riset dan penelitian panjang. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri.

“Tulisannya sangat mudah dimengerti walaupun sifatnya akademik. Tidak berat, bikin kepo dan menghadirkan beragam sudut pandang dari sosok Usmar Ismail. Apakah itu politik atau sensualitas Umar Ismail hingga religiusitasnya,” tuturnya.

Peraih Putri Intelegensia pada ajang Putri Indonesia 2011 ini mengaku tak malu untuk mengakui kurangnya pengetahuan dirinya tentang Usmar Ismail. Dan ia juga meminta, bagi para insan film lainnya yang tak tahu, tak perlu malu mengakui.

“Karena memang aksesnya kurang. Paling Tiga Dara saja yang banyak dikenal, karena sudah di re-make. Atau Lewat Djam Malam, itu juga karena sudah direstorasi. Sehingga kehadiran buku ini, menurut saya bisa menjadi pengobat atas ketidaktahuan itu,” ucapnya.

Penulis dan pengamat budaya Hikmat Darmawan, dalam salah satu rangkaian acara online Peringatan 100 Tahun Usmar Ismail yang digelar Dewan Kesenian Jakarta, Minggu (21/3/2021). -Foto Ranny Supusepa

Penulis dan pengamat budaya, Hikmat Darmawan, yang membidani buku Mujahid Film Usmar Ismail sebagai editor, menyatakan bahwa dirinya dari awal sudah meyakini bahwa menjadikan tulisan Ekky Imanjaya tentang Usmar Ismail adalah langkah yang tepat.

“Karena Ekky sudah lama sekali mengikuti dan melakukan penelitian tentang Usmar. Sehingga tak salah kalau akhirnya, kumpulan tulisan itu bisa menjadi bagian pencerahan tentang sosok Usmar Ismail,” kata penerima beasiswa dari Nippon Foundation di tahun 2010 ini.

Ia menceritakan, awalnya Ekky memang ragu. Tapi setelah diyakinkan oleh dirinya dan Brilliant Yotenega dari Penerbit Storial, akhirnya Ekky mau menjadikan beberapa tulisannya sebagai buku.

“Ada 11 tulisan, terbagi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Mengapa tidak kita jadikan bahasa Indonesia semua, karena kita ingin menunjukkan eksistensi Usmar Ismail itu tidak hanya di Indonesia saja tapi juga mencapai mancanegara,” pungkasnya.

Lihat juga...