Menelisik Situs Duplang, Jejak Peradaban Masa Silam di Jember

Editor: Makmun Hidayat

JEMBER — Keberadaan Situs Duplang di wilayah Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa Timur terbilang memiliki usia yang sudah cukup lama. Situs tersebut, diperkirakan dibangun pada abad ke-6, zaman megalitikum.

Sudarman Abdurahim, pengelola Situs Duplang menyatakan, di tempat prasejarah yang ia kelola ini, berusia paling tertua selama baru pertama kali situs prasejarah dibuat di Desa Kamal. Hal tersebut berdasarkan hasil pernyataan dari Badan Arkeologi Mojokerto sesaat setelah ia melaporkan penemuan berupa batu-batu.

“Mula-mula saat itu saya ditugaskan sebagai keamanan di Desa Kamal, kegiatan saya jalan menyusuri wilayah Desa Kamal. Suatu waktu saya sampai di suatu tempat ini (lokasi Situs Duplang-red.), saya penasaran coba cari tahu, orang-orang juga belum ada yang tahu,” ujar pengelola Situs Duplang, Sudarman Abdurahim kepada Cendana News, di wilayah Desa Kamal, Arjasa, Jember, Minggu (21/3/2021).

Sudarman, saat ditemui Cendana News di kediaman rumahnya, Minggu (21/3/2021). -Foto: Iwan Feri Yanto

Pertama kali tempat Situs Duplang ditemukan, diakui membuat geger warga Desa Kamal. Menurut Sudarman, saat itu juga belum ada telepon, sehingga menghambat untuk melakukan komunikasi kepada Lembaga Arkeologi di Mojokerto.

“Saat baru pertama kali saya temukan beberapa jenis batu, saya coba ceritakan ke sebagian orang. Karena saya merasa belum ada jawaban, akhirnya saya memutuskan diri untuk menuju ke sekitar perkotaan, kurang lebih jarak yang saya tempuh  8 kilo meter dengan berjalan kaki. Tujuan saya mendatangi tempat Warung Telkom, menghubungi Lembaga Arkeologi di Mojokerto, karena waktu itu saya sudah mengantongi nomor teleponnya,” ucapnya

Gayung pun bersambut, upaya Sudarman mendapat respons baik dan membuahkan hasil. Atas laporannya, dari pihak Lembaga Arkeologi Majokerto bersedia mengunjungi lokasi situs yang baru pertama kali ditemukan olehnya.

“Setelah saya telefon dari pihak arkeologi kemudian menjawab keesokan harinya ia siap menuju ke rumah saya berdasarkan laporan yang saya sampaikan,” tambahnya.

Atas rasa penasaran yang terjadi saat baru pertama kali ia temukan berupa batu-batu, Sudarman tidak menyia-nyiakan waktu saat bersama dengan salah satu arkeologi saat itu, sebisa mungkin dirinya menanyakan segala rasa penasarannya terhadap bentuk, jenis, maksud dan tujuan dari batu-batu tersebut.

“Setelah saya tunjukkan letak lokasi situs, saya tanyakan satu per satu dari tujuan batu yang ada, salah satunya bentuk pada posisi batu kenong. Bentuk batu kenong ada yang tonjolannya satu ada yang tonjolannya dua. Masing-masing tonjolan tersebut memiliki makna dan tujuan yang berbeda-beda,” tandasnya.

Ia menambahkan, makna dari tonjolan yang terdapat pada batu kenong memiliki tujuan yang berbeda. Tonjolan satu pada batu kenong berarti digunakan sebagai tempat beribadah, menyembah nenek moyang. Sedangkan tonjolan dua sisi menandakan sebagai petunjuk, bahwa arah tonjolan batu mengarah kepada batu domen yang merupakan tempat batu sebagai penyimpanan jenazah.

Terpisah, Ahmad Nailul Jamil, salah satu mahasiswa S-2 Ilmu Budaya Universitas Islam Jogjakarta menyatakan, Situs Duplang merupakan tempat perkumpulan manusia purbakala pada beberapa abad tahun yang lalu. Terlihat dari beberapa jenis batu yang memiliki fungsi, maka keberagaman batu yang ada menunjukkan pusat peradaban manusia purbakala pada saat itu sering kali berada di Desa Kamal ini.

“Peradaban manusia purbakala saat itu berpusat aktivitas kegiatan di daerah Desa Kamal, bermacam-macam batu yang ada memiliki makna yang berbeda. Seperti jenis batu kenong sebagai media pemujaan dan petunjuk, batu domen sebagai tempat penyimpanan jenazah, batu menhir dan beberapa batu lainnya,” ucapnya.

Lihat juga...