Menengok Peran Perempuan Lampung Dukung Pelestarian Hutan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kelestarian rimba yang terjaga untuk mendukung pasokan air, kelestarian satwa, dilakukan berbagai pihak di Lampung.

Supami Eva, salah satu mitra warga yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur menyebut rimbawan adalah orang yang peduli pada kelestarian hutan, bagian dari forum rembug desa penyangga hutan.

Sebagai wanita, Supami Eva mengaku, memiliki suami sebagai mahout atau pawang gajah di TNWK. Benih kecintaannya pada rimba belantara setelah melihat profesi sang suami.

Kelestarian lingkungan dengan tanaman sebagai rantai makanan satwa gajah, rusa, badak di TNWK sebutnya sangat penting. Saat penghujan sejumlah mitra dari TNWK kerap melakukan penanaman tumbuhan bahan makanan satwa.

Bersama puluhan perempuan lain ia mengaku senang disebut rimbawan. Masuk keluar kawasan hutan untuk ikut mendukung pelestarian pakan badak.

Penyiapan bibit tanaman kehutanan dilakukan oleh puluhan perempuan di pusat persemaian permanen BPDASWSS, Rabu (17/3/2021) – Foto: Henk Widi

Jenis tanaman yang dilestarikan berupa ara daun lebar, medang, laban, pulai, bendo, kluwih dan ketapang. Rangkaian kegiatan Hari Badak Dunia, Hari Kehidupan Satwa Liar hingga Bakti Rimbawan diisi dengan upaya pelestarian.

“Kami ikut mendukung upaya TNWK yang dikenal sebagai pusat habitat gajah Sumatera, badak dan satwa liar lain yang sebagian mulai punah dengan mengedukasi masyarakat penyangga agar tidak melakukan perusakan hutan dengan membakar lahan. Berburu satwa liar dengan senapan dan jebakan, namun melestarikan hutan,” terang Supami Eva saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (17/3/2021).

Supami Eva bilang menjadi rimbawan sebutnya butuh passion atau sense of belonging pada kelestarian hutan.

Sebagian masyarakat di kawasan penyangga hutan kerap ingin mendapatkan hasil ekonomi dengan berburu satwa. Padahal langkah tersebut dilakukan dengan cara salah di antaranya membakar padang rumput, memasang jebakan dan memakai senjata api.

Selain perburuan satwa sebagian oknum tak bertanggung jawab kerap merambah kayu laban, nibung. Dua jenis tanaman dekat rawa-rawa TNWK dan kawasan ekosistem mangrove pesisir Timur kerap dicuri.

Peran rimbawan sebutnya cukup penting agar kelestarian satwa dan fauna tetap terjaga. Peringatan Hari Bakti Rimbawan yang diperingati setiap tanggal 16 Maret sebutnya, mengingatkan perannya menjaga kelestarian.

“Rasa memiliki dan menjaga kawasan hutan bertujuan agar banyak orang peduli mata rantai ekosistem satwa dan fauna,” sebutnya.

Supami Eva menyebut, sebagian perempuan juga ikut membantu dalam upaya konservasi. Saat kunjungan ke TNWK meningkat ia dan rekan perempuan lain kerap membersihkan sampah.

Sebab pengunjung kerap membuang sampah sembarangan pada sejumlah lokasi. Kelestarian lingkungan kawasan hutan sebutnya jadi sumber untuk kehidupan satwa dan flora berkelanjutan.

Menjaga kelestarian hutan juga didukung peran penyediaan bibit. Sekitar 20 lebih perempuan yang berperan sebagai penyedia bibit menjadi bagian dari rimbawan.

Petugas administrasi bibit Pusat Persemaian Permanen, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung, Eka Fitriana, menyebut jutaan bibit disediakan di tempat itu.

Eka Fitriana, petugas bagian administrasi bibit Persemaian Permanen BPDASWSS Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Rabu (17/3/2021) – Foto: Henk Widi

Pekerja perempuan sebutnya menyiapkan media semai, perawatan hingga distribusi bibit. Bibit tanaman beragam jenis selanjutnya dikirimkan ke sejumlah kawasan hutan sosial, hutan konservasi dan hutan lindung.

Sepanjang 2019-2020 saja ia menyebut setiap tahun diproduksi sebanyak 1 hingga 2 juta bibit tanaman. Dukungan untuk rimbawan dalam pelestarian hutan dilakukan dengan bibit siap tanam.

“Produksi bibit tanaman sangat mendukung upaya pelestarian lingkungan berbasis hutan sehingga bibit selalu tersedia,” sebutnya.

Berkat ketelatenan kaum perempuan yang berperan sebagai rimbawan, bibit berkualitas disiapkan. Jenis bibit tanaman produktif untuk kelestarian hutan meliputi damar, kemiri, durian, jengkol hingga petai.

Dukungan bagi kelestarian hutan sebutnya jadi upaya agar masyarakat tidak merusak hutan. Meminimalisir penebangan hutan dilakukan dengan pemberdayaan perempuan di hutan penyangga.

Agung Sutejo, petugas pengawas pekerja pembibitan di BPDASHL Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan itu bilang, peran perempuan sangat penting pada sektor kehutanan.

Setelah bibit disediakan oleh puluhan perempuan di tempat itu, bibit yang ditanam akan jadi sumber penghasilan bagi kaum perempuan. Sejumlah warga di kawasan penyangga hutan di antaranya perempuan bisa memanen getah damar, jengkol, kemiri dan petai.

Berbagai tanaman konservasi produktif sebutnya ikut memberdayakan kaum perempuan. Berperan sebagai rimbawan tanpa merusak hutan dengan penebangan, hasil ekonomi bisa diperoleh.

Sebagian pohon ditanam pada kebun produksi warga. Namun sistem tebang pilih tetap dianjurkan untuk menjaga kelestarian sekaligus menjaga pasokan air.

Lihat juga...