Minimalisir Kerugian Imbas Hama Tikus, Petani Terapkan TBS

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Potensi kerugian produksi tanaman padi, jagung disebabkan oleh sejumlah hama. Selain hama keong mas, hama ulat daun, burung potensi penurunan produksi diakibatkan oleh hama tikus.

Hendi, petani di Desa Kuala Sekampung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan bilang menerapkan teknologi ramah lingkungan. Ia menerapkan pemasangan Trap Barrier Sytem (TBS) plastik fiber.

Belajar dari pengalaman kerugian imbas hama tikus, penerapan TBS sebutnya jadi pilihan. Hendi bilang ilmu terapan yang diajarkan oleh penyuluh pertanian mampu mengendalikan hama tikus yang efektif, ramah lingkungan.

Teknik pengendalian tikus dengan TBS sebutnya dengan prinsip memasang perangkap pada lahan tanaman padi.

Lahan seluas satu hektare sebut Hendi dilakukan dengan beberapa gulung plastik fiber. Tanaman padi akan dipagari dengan plastik fiber dengan ketinggian sekitar 75 cm.

Pada bagian bawah plastik akan diperkuat memakai lumpur agar tidak memiliki celah. Sejumlah patok penyangga dari bambu akan dipasang setiap dua meter. Selanjutnya ia memasang bubu perangkap dari kawat.

“Bubu perangkap tikus saat ini banyak dijual pada toko pertanian namun bisa dibuat modifikasi memakai kawat kasar. Lalu dirangkai berbentuk kotak dengan bagian kotak yang meruncing dengan ruangan perangkap. Saat tikus masuk melalui pintu menuju ke lahan sawah melalui bubu akan terjebak,” terang Hendi saat ditemui Cendana News, Senin (8/3/2021).

Meski mengeluarkan biaya ekstra, Hendi bilang tekik itu cukup efektif. Pemasangan TBS sebutnya akan lebih efektif saat padi memasuki masa pembuahan atau  oleh petani disebut masa meratak.

Ia menerapkan sistem penanaman berjenjang dengan padi yang ditanam terakhir. Pada tanaman yang dipasangi TBS pemeriksaan perangkap dilakukan pada pagi dan sore hari.

Penggunaan TBS sebut Hendi cukup efektif sebab ia bisa menangkap puluhan ekor tikus. Tikus yang tertangkap selanjutnya dimusnahkan dengan cara memendamnya pada lubang khusus.

Sebelumnya ia menyebut petani dominan memakai pestisida kimia untuk meminimalisir hama tikus. Selain memakai TBS ia memasang repellent dari bahan fermentasi daun sirsak yang efektif mengusir tikus.

“Modifikasi penggunaan TBS dan repellent daun sirsak juga ditambah dengan pemeliharaan burung hantu pemangsa tikus,” ungkap Hendi.

Hartinah, petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan menyebut hama tikus dan burung jadi penurun produksi. Hama tikus menurutnya dominan menyerang pada malam hari dan burung pada siang hari.

Hama burung dan hama tikus menjadi momok bagi lahan tanaman padi milik Hartinah di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan pada varietas padi darat, Senin (8/3/2021) – Foto: Henk Widi

Meski demikian ia menerapkan TBS untuk mengurangi kerugian. Membeli beberapa gulung plastik fiber ia bisa mengurangi kerusakan pada tanaman padi dan jagung.

“Tikus menyerang bagian batang muda dan bagian malai pada padi serta tanaman muda pada jagung,” ujarnya.

Menerapkan penggunaan TBS membuat ia bisa mengurangi kerugian hingga 30 persen. Jenis padi mapan dengan usia 120 hari sebutnya mendekati masa panen. Selain hama tikus ia juga rutin menunggu lahan sawah agar tidak rusak oleh hama burung.

Penggunaan cara tradisional dilakukan dengan memakai pengusir burung. Ia memasang benang, pita dan plastik serta kaleng berisi kerikil yang menghasilkan bunyi pengusir burung.

Selain pada tanaman padi, meski populasi tidak banyak namun hama tikus juga merusak tanaman jagung.

Harsono, salah satu petani jagung di Desa Kelaten bilang tikus menyerang batang muda. Saat masa pemupukan sebagian tanaman jagung rusak seperti tergilas kendaraan.

Sebagai langkah mengatasi kerugian ia memilih memasang pestisida kimia, memasang TBS dan menyulam tanaman dengan bibit baru.

Lihat juga...