Motivasi Masyarakat, RPTRA Tanah Merdeka Kembangkan Urban Farming

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanah Merdeka turut mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming). Kali ini puluhan kilo sayuran berhasil dipanen yang diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan.

Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kampung Rambutan, Sarino mengatakan, panen sayuran ini hasil dari upaya Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) sebagai wujud motivasi para kader memanfaatkan lahan sempit di perkotaan.

“Kita manfaatkan lahan pekarangan RPTRA untuk urban farming. Hasil panennya untuk mengantisipasi ketahanan pangan bagi warga Kampung Rambutan,” ujar Sarino, kepada Cendana News ditemui saat panen sayuran di area RPTRA Tanah Merdeka, Kelurahan Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Senin (29/3/2021).

Pengelolaan urban farming ini menurutnya, melibatkan kader PKK dengan pendampingan dari satuan pelaksana Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian Kecamatan Ciracas.

Sarino berharap dari semangat dan ketekunan para kader dalam menanam ragam sayuran dapat memotivasi warga untuk gemar bercocok tanam di halaman rumahnya.

Dengan menerapkan sistem hidroponik atau memakai pot-pot kecil yang ditanami ragam jenis sayuran maupun tanaman obat (toga)

Selain hasil panennya untuk ketahanan pangan warga, juga menurutnya, dapat menambah nilai ekonomi. Karena sebagian sayuran yang dipanen bisa dijual kepada warga lainnya.

“Urban farming ini ada nilai ekonomis. Jadi kita harus dimanfaatkan lahan sempit untuk bercocok tanam. Lingkungan juga jadi asri dan sejuk, tidak gersang lagi,” tandasnya.

Ketua Pokja 3 TP PKK Kelurahan Rambutan, Titin Maryati menambahkan, pihaknya menggelorakan gerakan pemanfaatan lingkungan dengan menanam sayuran di lahan sempit. Dengan memberi contoh nyata kepada warga terlebih dahulu, yakni panen sayuran di pekarangan RPTRA ini.

Sistem hidroponik dan tanam langsung di media tanah dikembangkan di area ini. Jenis sayuran yang ditanam yaitu pokcai, sawi, pare, terong, kangkung, tomat, dan cabai.

“Pokcai dikemas dalam kemasan plastik berat 1/2 kilogram, dijual seharga Rp 10 ribu. Pare sekilonya Rp 20 ribu, dan terong Rp 6 ribu per kilonya. Alhamdulillah panen hari ini, 20 kilo pokcai, 10 kilo pare dan 10 kilo terong,” ujar Titin.

Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kampung Rambutan, Sarino (kemeja putih) sedang memanen pokcai di area RPTRA Tanah Merdeka, Kelurahan Rambutan, Jakarta Timur, Senin (29/3/2021). foto: Sri Sugiarti.

Hasil penjualan dimasukkan dalam kas RPTRA untuk dipergunakan sebagai operasional pembelian bibit, pupuk dan peralatan.

“Kita sistem tanam hidroponik, jadi kan harus beli alat tanamnya seperti netpot atau pot hidroponik dan kain flanel. Juga tanam di media tanah langsung, jadi kan perlu pupuk,” ujarnya.

Selain dijual, hasil panennya juga dibagikan kepada warga. Seperti halnya ketika banjir melanda Jakarta belum lama ini, yang juga warga Kampung Rambutan terkena musibah ini.

“Saat banjir, kami bagikan sayuran dari panen hidroponik ini kepada warga, ditambah lauk lainnya, untuk konsumsi makanan sehat,” imbuhnya.

Titin berharap, semua kader PKK dan warga yang memiliki lahan kosong, termasuk di halaman rumah bisa memanfaatkannya untuk menanam sayuran dan toga.

Lihat juga...