Musim Hujan, Petani Sayur di Bekasi Gagal Panen

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Tingginya curah hujan yang terjadi di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu terakhir ini, menjadikan petani sayuran merugi. Banyak tanaman sayur seperti kangkung dan bayam terancam gagal panen.

Hal tersebut diakui oleh Tamin, petani sayuran jenis kangkung dan bayam pada salah satu lahan di wilayah Jatimekar, Jatiasih. Dikatakan, hujan yang terus turun beberapa bulan terakhir membuat tumbuh kembang tanaman sayuran tidak maksimal.

“Sekarang memang lagi musim tanam apa saja nggak bagus, karena cuaca kurang mendukung. Antara hujan dan panas tidak stabil. Terutama untuk sayuran jenis bayam memang banyak yang mati, tidak maksimal,” ungkap Tamin, kepada Cendana News ditemui di lokasi pertanian sayur di Jatimekar, Senin (1/3/2021).

Dia mencontohkan seperti kangkung, masih sedikit bertahan. Namun dianggapnya tidak maksimal karena terlihat menggunung meskipun perawatan sudah dilakukan. Tapi bayam langsung banyak yang busuk tidak tahan hujan.

Menurutnya, kondisi sekarang bisa disebut gagal panen. Ia memperlihatkan usia kangkung yang sudah 24 hari, tapi terlihat banyak daun terlihat menguning. Tumbuhnya pun ringkih akibat diterpa hujan deras.

“Kondisi sekarang petani pasrah, mau diapakan, karena ini memang kerap terjadi. Risiko petani begini. Jika musim seperti sekarang, pulang modal saja sudah syukur, tidak bisa cari untung,” jelasnya.

Hal senada juga diakui petani sayuran lainnya, Abdul Sada. Dikatakan, harga sayuran sekarang untuk satu gabung isi 20 ikat sayur jenis kangkung, harganya mencapai Rp20 ribuan. Begitu pun harga bayam lebih tinggi, pernah mencapai Rp35 ribuan, untuk satu gabung.

“Waktu banjir melanda beberapa waktu lalu, bayam harganya Rp35 ribuan per gabung. Tapi, sekarang turun lagi, namun masih dikatakan lumayan. Tapi, kendalanya banyak yang gagal panen, ya begitulah pasar sayuran tergantung pada stok barang, “papar Abdul Sada.

Saat ini, untuk harga kangkung di pasaran paling murah Rp15 ribuan. Sementara bayam Rp20 ribuan per gabung. Tapi di tingkat petani untuk dua jenis tanaman tersebut sedang sulit, karena musim hujan seperti sekarang.

Dia mengaku, saat ini harga pupuk urea di pasaran juga mencapai Rp8000-9000 per kilogram. Sementara bibit kangkung Rp38 ribu per bungkus. Tingginya harga pupuk urea di tingkat petani membuat mereka banyak mengganti pupuk dengan jenis pupuk sekam seharga Rp12 ribu per karung.

Sampai saat ini, banyak petani sayuran di wilayah Jatimekar yang menggarap lahan milik perusahaan tidak tergabung dalam gapoktan, sehingga mereka tidak memiliki akses kartu petani untuk mendapatkan pupuk subsidi.

Lihat juga...