OJK Perpanjang Relaksasi Kredit untuk UMKM Terdampak Covid

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto, Sumarlan di kantornya, Selasa (2/3/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

PURWOKERTO — Kalangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak Covid-19 mendapat perhatian khusus dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dimana relaksasi atau keringanan kredit untuk UMKM diperpanjang hingga Maret 2022 mendatang.

Kepala OJK Purwokerto, Sumarlan mengatakan, kebijakan perpanjangan relaksasi ini dilakukan untuk meringankan UMKM di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Pelaku usaha bisa mengajukan kelonggaran waktu pembayaran angsuran ataupun keringanan pinjaman pokok.

“Dengan catatan kebijakan relaksasi ini hanya berlaku untuk pelaku UMKM yang terdampak Covid-19, sedangkan bagi pelaku UMKM yang tidak terdampak tetap diharuskan menjalankan kewajiban debitur sebagaimana mestinya,” kata Sumarlan, Selasa (02/3/2021).

Lebih lanjut Sumarlan mengatakan, sejauh ini UMKM di Banyumas relatif masih stabil dan mampu bertahan di tengah pandemi. Hal ini terpantau dari pertumbuhan kredit pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di wilayah eks Karisidenan Banyumas yang sebagian besar dari kalangan UMKM dan kredit tetap mampu tumbuh hingga kisaran 5 persen.

Dari catatan OJK Purwokerto, saat ini total nilai kredit BPR mencapai Rp 5,8 triliun dan untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berupa tabungan dan deposito mencapai Rp 5,3 triliun. Total ada 27 BPR di wilayah eks Karisidenan Banyumas, dimana kantor cabangnya ada 134 dan kantor kas ada 157.

“Meskipun mengalami sedikit penurunan, tetapi secara umum BPR dan BPR Syariah tetap tumbuh. Pertumbuhan penyaluran kredit pada BPR dan BPRS di tengah pandemi ini sekitar 5 persen, memang dibanding sebelum pandemi ada sedikit penurunan,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu pelaku UMKM di sektor kuliner, Hervina mengatakan, secara umum ada penurunan omset saat pandemi. Puncak penurunan menjelang tiga bulan terakhir pada akhir tahun 2020, yaitu mulai bulan Oktober, November dan Desember 2020.

Memasuki awal tahun, kondisi relatif lebih baik, karena aktivitas masyarakat cenderung mulai normal. Meksipun masih diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), namun masyarakat mulai banyak yang berani untuk makan di luar rumah, baik di rumah makan, restoran ataupun warung-warung makan.

“Saya jualan minuman kemasan dan juga menerima pesanan beberapa jenis makanan, mulai terasa kembali bayak pesanan ini pada pertengahan bulan Januari sampai sekarang,” tuturnya.

Sementara itu, terkait kebijakan relaksasi bagi pelaku UMKM terdampak, Hervina mengaku hal tersebut sangat membantu usahanya. Mengingat penurunan omset penjualan, otomatis berdampak pada penghasilan juga.

Lihat juga...