Pakaian

OLEH: HASANUDDIN

KETIKA menyebut kata “pakaian” pemahaman manusia dewasa ini lazimnya langsung tertuju kepada baju atau busana apa yang mereka kenakan untuk membungkus tubuh mereka. Situasi alam atau lingkungan, serta tempat dan keadaan, menentukan jenis pakaian apa yang dikenakan. Sebab itu, pakaian lazimnya di gunakan untuk tujuan yang berbeda-beda.

Maka muncullah berbagai penamaan atas ‘pakaian’ menurut jenis penggunaannya. Misalnya pakaian untuk menghadiri pesta disebut baju pesta. Pakaian di saat mau tidur, disebutnya baju tidur. Pakaian di saat mau berolahraga disebutnya baju olahraga dan seterusnya.

Dalam Al-Quran, penyebutan kata ‘pakaian’ ini menggunakan kata libas atau libs yang merupakan nomena dari kata labos yang berarti “pakaian-pakaian”. Demikianlah menurut Al-Qamus, Lisan al-Arab. Namun istilah ini pada masa pra-Islam, istilah ini kadang-kadang digunakan dengan maksud untuk menyebut “baju besi” atau “zirah” yang biasanya digunakan untuk berperang. Keterangan seperti ini misalnya disampaikan oleh Qatadah, seorang mufassir dri generasi tabiin. Menurut Al-Thabari hal ini masih kelanjutan dari apa yang diwariskan oleh Daud dan pasukannya. Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah swt berikut ini:

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ (80

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kalian, guna memelihara kalian dalam peperangan kalian. Maka hendaklah kalian bersyukur (kepada Allah)”. (QS. Al-Anbiya ayat 80).

Namun istilah libas yang berarti pakaian ini, yang digunakan Al-Quran pada era Daud, telah digunakan pula untuk menyebut hal yang sama sejak era Adam. Sehingga penggunaan istilah pada era Adam dipahami sebagai makna primer dari istilah ini, sementara penggunaannya pada masa Nabi Daud seperti yang dikemukakan di atas, adalah makna sekundernya. Hal ini sesuai dengan urutannya bahwa era Nabi Adam lebih dahulu daripada era Nabi Daud. Penggunaan istilah libas di era Nabi Adam terdapat pada firman Allah swt berikut ini:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (26) }

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”. (QS. Al-A’raf ayat 26).

Dari dua firman Allah di atas, maka dapat kita ketahui dan pahami bahwa makna primer  dari tujuan pakaian itu, adalah untuk “menutup aurat” sementara makna sekundernya dapat berarti “baju perang” atau “zirah” yang secara luas dapat diartikan sebagai alat untuk mempertahankan diri. Sehingga muncullah pengertian yang utuh bahwa menutup aurat itu dapat mencegah atau membentengi penggunanya dari berbagai kerugian, kemalangan atau bahaya yang sewaktu-waktu dapat menimpanya, baik di masa perang, maupun di masa normal.

Ba’s kata dasar dari libas itu sendiri juga berarti “kerugian”, “kemalangan”, “penderitaan”, atau “bahaya”, yang dapat menyebabkan penderitaan atau ketakutan demikian dalam Taj Al-Arus. Maka pengertian dasar dari pakaian sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat ke 26 dari surah Al-A’raf, libas al-taqwa, adalah pakaian yang dikenakan karena kesadaran akan Allah, atau “pakaian takwa”. Sehingga menutup aurat adalah salah satu wujud dari ketakwaan. Dan dengan demikian, pakaian yang tidak menutupi aurat tidak termasuk dalam pengertian ayat ini.

Takwa atau kesadaran akan Allah, letaknya di dalam lubuk hati yang paling dalam, atau disebut nurani. Inti terdalam dari qalbu yang hanya Allah Yang senantiasa Maha Mengetahui keadaannya. Bahkan malaikat dan iblis sekalipun tidak mampu mengetahuinya. Namun, sebagai suatu nomena, nurani ini muncul gejalanya dan dirasakan oleh hati atau qalbu. Sehingga umumnya baju takwa ini disebut juga sebagai pakaian hati.

Sebab itulah rasa gentar atau takut kepada Allah hanya terdapat di kalangan mereka yang telah di anugerahi pengetahuan (ulama), sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (QS. Fathir: 28).

Maka libas al-takwa itu adalah pakaian para ulama. Dan siapa pun yang takutnya hanya kepada Allah, itu ulama yang dimaksud oleh firman Allah di atas.

Dengan demikian terdapat makna zahir dan makna batin dari istilah libas atau pakaian. Makna zahir-nya adalah untuk menjaga, melindungi manusia dari bahaya, yang dapat menyebabkan kerugian bagi dirinya. Sementara makna batinnya adalah ketakwaan kepada Allah, yang menguasai diri-Nya, yang meliputi dan menyinari nuraninya, menyehatkan qalbunya, menenteramkan batinnya, melindunginya dari segala gangguan.

Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan-Nya bagi kita semua. ***

Depok, 19 Maret  2021

Lihat juga...