Pakan Alami Memiliki Gizi Baik bagi Unggas

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sistem ternak tradisional di Lampung Selatan (Lamsel) menerapkan kearifan lokal berbasis lingkungan. Pemanfaatan siklus tanam komoditas pertanian jadi sumber alami penyiapan pakan.

Sukamto, peternak unggas jenis ayam, bebek, entok memanfaatkan pakan alami dari alam. Warga Desa Kuala Sekampung, Kecamatan Sragi itu memilih mencari pakan di sungai.

Musim penghujan atau rendengan berbarengan dengan masa tanam berimbas lahan ternak terbatas. Normalnya ia melepasliarkan unggas untuk mencari pakan.

Namun lahan sawah yang digarap membuat ia memilih mengandangkan ternak unggas. Potensi lingkungan daerah aliran sungai Way Pisang, Way Sekampung jadi sumber pakan. Pakan alami diperoleh dari tanaman dan hewan kecil.

Jenis pakan unggas sebut Sukamto berasal dari pintu air, bendungan tempat perhentian sampah. Banjir membawa material sampah, gulma dan hama jenis keong sawah, ikan kecil, tumbuhan air.

Tumbuhan air jenis lemna minor atau rumput bebek, azolla mycrophylla jadi pakan alami. Ia kerap mencari pakan alami dengan memakai jaring, karung. Semua jenis pakan akan dicampur dengan dedak atau bekatul.

“Pakan alami yang disediakan dari hasil pencarian dari aliran sungai memiliki kandungan gizi baik bagi ternak unggas. Selain itu menjaga aliran air sungai agar lancar dari sumbatan saat musim penghujan, selanjutnya digiling atau cukup dicampur memakai tangan dengan ember,” terang Sukamto saat ditemui Cendana News, Rabu (3/3/2021).

Sukamto menambahkan ia mengandangkan unggas agar tidak merusak tanaman. Meski dikandangkan produktivitas telur bebek, ayam, entok tetap stabil.

Proses menjala tanaman air kerap mendapatkan keong sawah, keong mas dan ikan cetul. Semua jenis binatang air tersebut berguna untuk pakan tambahan. Pakan alami bersumber dari alam akan menghemat penggunaan pakan pabrikan.

Penggunaan pakan dari alam juga dimanfaatkan oleh Rendi Antony, peternak unggas bebek di Desa Sukaraja, Palas.

Bebek pedaging dan petelur menerapkan sistem kandang selama musim tanam padi hingga menjelang panen di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu (3/3/2021) – Foto: Henk Widi

Memiliki sekitar 10.000 ekor bebek petelur dan pedaging ia mengaku sempat kesulitan pemenuhan kebutuhan pakan. Sebelumnya ia melepasliarkan atau sistem penggembalaan.

Ribuan ekor bebek akan mencari pakan alami jenis cacing, belut, ulat, keong mas. Namun masa tanam membuat ia tidak melepasliarkan bebeknya.

“Sebagian bebek saya jual untuk pengurangan populasi karena pakan berkurang, lahan gembala terbatas,” sebutnya.

Rendi Antony menyebut, pakan tambahan diperoleh dari limbah penggilingan padi. Dedak atau bekatul diolah bersama sumber pakan lain berupa roti sisa, tepung ikan dan vitamin.

Langkah pemberian pakan tambahan dilakukan sebab lahan penggembalaan berkurang. Ia memanfaatkan kolam bekas lokasi budi daya ikan untuk berenang. Penggunaan pagar waring bertujuan agar ternak tidak lolos ke area persawahan.

Ia menyebut tetap bisa melepasliarkan ternak bebek miliknya. Langkah yang dilakukan dengan membuat pagar waring di siring alam.

Lokasi siring alam jadi area bebek berenang untuk mencari ikan, keong mas. Pengurangan jumlah bebek yang dipelihara akan mengurangi pemberian pakan. Ia bisa melepasliarkan bebek saat musim panen padi mulai dilakukan petani.

Penggunaan pakan alami oleh peternak tradisional juga dilakukan Kaswari, warga desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang.

Memanfaatkan bekatul atau dedak, kombinasi pakan diberikan dengan ikan runcah. Ikan runcah merupakan sisa proses penyortiran ikan asin, ikan teri.

Setelah digiling ikan tersebut disatukan dengan pakan dedak. Pakan alami tersebut bisa meningkatkan produksi telur bebek, ayam, entok dan angsa.

Lihat juga...