Pandemi, Aktivitas Pendidikan Seni Tari tak Boleh Berhenti

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Ekspresi seni dan budaya tradisional yang masuk bidang studi di sekolah ikut terhambat oleh pandemi Covid-19.

Hambatan tersebut diakui Topan Hariyono, Kepala SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. Kendala tatap muka dalam pendidikan seni tari telah menghentikan latihan, penampilan kegiatan seni.

Topan Hariyono, Kepala SDN 1 Pasuruan Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, dijumpai, Kamis (4/3/2021) – Foto: Henk Widi

Meski demikian, Topan Hariyono menyebut, latihan pendidikan seni tari tetap bisa dilakukan. Menggunakan metode tatap muka tetap bisa dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan. Pemanfaatan teknologi informasi dengan aplikasi berbagi video memudahkan pembelajaran seni tari. Guru seni tari  juga tetap bisa memberikan latihan secara virtual.

Wahana virtual yang digunakan untuk melatih siswa menari sebutnya, jadi salah satu eksperesi budaya. Lingkungan pedesaan yang memungkinkan guru, siswa berlatih secara langsung tetap dilakukan.

Pandemi Covid-19 sebutnya bukan menjadi halangan dalam pemenuhan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bidang studi seni.

“Sejumlah bidang studi yang membutuhkan penilaian praktikum saat ini bisa mengandalkan aktivitas langsung yang dikerjakan melalui foto, video virtual sehingga tidak ada alasan terkendala oleh pandemi. Misalnya bidang studi pendidikan jasmani, kesehatan,” terang Topan Hariyono saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (4/3/2021).

Topan Hariyono bilang, pendidikan seni budaya juga mendorong kreativitas guru dan siswa. Sebab saat ini kemudahan fasilitas pembelajaran virtual memudahkan siswa dan guru.

Kemudahan tersebut dengan mempelajari semua seni tari dari provinsi di Indonesia. Tanpa harus mendatangkan guru seni tari, tarian dipelajari dari Youtube.

Kendalanya sebut Topan Hariyono, interaksi antara guru dan siswa semakin berkurang. Peranan orang tua dalam mendukung anak berkegiatan seni bisa dilakukan dengan mengunduh video tutorial.

Pendidikan kesenian berbasis tradisional yang bisa dilatih berupa tari sembah, tari bedana, tari reog, kuda lumping. Selain gerakan, nilai filosofis setiap seni tari bisa dipelajari.

“Orang tua dan guru melalui pembelajaran virtual tetap bisa mendukung pendidikan seni budaya,” tegasnya.

Pengelola Rumah Baca Lampung (RBL), Nur Ekayani menyebut, pendidikan tari daerah tetap diperlukan. Selama masa pandemi, kegiatan pembelajaran di Jalan Sultan Badarudin, Tanjung Karang Bandar Lampung miliknya tetap beroperasi.

Nur Ekayani, pengelola Rumah Baca Lampung mengajari anak menulis, berhitung di Jalan Sultan Badarudin No 19, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Kamis (4/3/2021) – Foto: Henk Widi

Konsep kegiatan terjadwal sebutnya telah dilakukan dengan melakukan latihan tari daerah setiap hari Sabtu dan Minggu.

Sejumlah pendidikan seni tari daerah yang diberikan sebutnya fokus pada tari khas Lampung. Tari sembah, tari bedana dan tari dari daerah lain dilatih kepada anak-anak.

Selain kegiatan seni tari, rumah baca yang dikelola olehnya juga menjadwalkan kegiatan membaca, menulis dan menghitung (Calistung). Jadwal Calistung sebutnya dilakukan pada Senin-Kamis. Kegiatan senam dilakukan pada hari Jumat.

“Pendidikan seni tari tetap dilakukan agar anak-anak tidak bosan karena seni tari jadi bentuk aktualisasi diri,” bebernya.

Kreativitas seni, asah kepekaan, aktualisasi diri sebut Nur Ekayani sangat penting. Anak-anak juga bisa dilatih dengan melakukan perekaman video, mengedit latihan tari.

Sejumlah karya seni lain yang diberikan sebutnya berupa puisi, pantomim. Pelatihan karya seni berbasis lingkungan juga diberikan dengan membuat pot gantung berbahan kemasan botol bekas untuk menanam bunga.

Lihat juga...