Pandemi, Capaian Kompetensi Perlu Sinergi Orang Tua dan Guru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Tujuan atau capaian kompetensi pendidikan selama pandemi Covid-19 butuh dukungan orangtua dan guru.

Topan Hariyono, kepala SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, bilang empat kompetensi kurikulum perlu dicapai. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi sikap spritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan.

Kompetensi tersebut diakuinya dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, ekstrakurikuler. Rumusan kompetensi spritual sebutnya dilakukan dengan menghayati dan menghargai agama yang dianut.

Sikap sosial dengan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, percaya diri. Semua capaian kompetensi tersebut terhambat saat sistem pembelajaran dalam jaringan dilakukan.

Semua kompetensi itu sebut Topan Hariyono dapat dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Keteladanan, pembiasaan, budaya sekolah perlu dilakukan oleh siswa, guru dan orangtua. Sebab selama pandemi anak harus belajar di rumah sehingga tidak memungkinkan guru membentuk karakter secara langsung. Pendidikan karakter menjadi minim dilakukan saat belajar daring.

“Pendidikan karakter berupa perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab melalui pembelajaran jarak jauh alami kemerosotan. Contoh konkritnya dengan terlambatnya mengumpul tugas, tidak mengikuti zoom meeting meski orangtua telah menyediakan fasilitas teknologi memadai,” terang Topan Hariyono saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (11/3/2021).

Meski sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) orangtua perlu bersinergi dengan pihak sekolah. Langkah yang dilakukan dengan memanfaatkan grup WhatsApp sekolah dan orangtua. Sebagian besar orangtua dalam dua semester pelajaran daring mengaku, pendidikan karakter di bawah bimbingan orangtua tetap diperlukan. Sebab sinergi tetap diperlukan meski anak-anak tidak pergi ke sekolah seperti kondisi normal.

Pendidikan karakter saat pandemi sejalan dengan capaian kompetensi kurikulum diakui Menik. Tenaga pendidik TK di Penengahan itu bilang, empat pilar pendidikan tetap diberikan pada peserta didik. Empat pilar itu meliputi belajar mendapatkan ilmu pengetahuan, belajar mendapat keterampilan, belajar agar menjadi orang bermanfaat dan bisa hidup bermasyarakat.

“Saat ini belajar PJJ membuat interaksi orangtua, guru dan anak secara virtual sehingga perlu ada kreativitas pembelajaran,” cetusnya.

Pilar belajar untuk hidup bermasyarakat, menjadi seseorang bermanfaat bisa dilakukan dengan home visit. Kunjungan ke rumah orangtua tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan belajar anak.

Tingkat kesulitan selama masa pandemi sebutnya tidak menjadi hambatan agar kurikulum tercapai. Sejumlah kompetensi bisa dicapai dengan adanya sinergi antara orangtua, guru dan siswa.

Sejumlah sekolah yang melakukan simulasi pembelajaran tatap muka masih belum menerapkannya. Namun simulasi pembelajaran tatap muka saat masa kebiasaan baru menjadi cara menyamakan persepsi antara sekolah dan orangtua.

Sr. Vincent, HK, guru Bimbingan Konseling SMP Xaverius 1 Teluk Betung menyebut sebagian orangtua mengalami kendala saat PJJ. Sebagian orangtua bahkan ingin KBM tatap muka diberlakukan.

Sr. Vincent, HK, guru Bimbingan Konseling SMP Xaverius 1 Teluk Betung di Jalan Hasanudin, Teluk Betung, Bandar Lampung, Kamis (11/3/2021) – Foto: Henk Widi

“Banyak orangtua konsultasi pendidikan karakter anak mengalami degradasi atau penurunan karena siswa tidak belajar langsung,” cetusnya.

Nilai kejujuran dalam pembelajaran daring sebutnya berkurang. Meski ada pembelajaran dengan aplikasi zoom meeting sebagian siswa tidak mengikuti penuh.

Beberapa orangtua yang mendampingi, memberi fasilitas smartphone bahkan sempat mengalami anak tidak mengerjakan tugas. Belasan tugas yang diberikan tidak dikerjakan dengan alasan kendala internet.

Sinergi dengan orangtua melalui pemanggilan ke sekolah jadi solusi. Beberapa di antara siswa ungkap Sr. Vincent, HK menyebut nilai kejujuran, tanggung jawab menurun.

Paradigma pembelajaran yang hanya menjadi tanggung jawab guru dan siswa perlu dibenahi. Saat belajar online orangtua memiliki peran memantau belajar anak. Cara itu dilakukan untuk mencapai kompetensi kurikulum yang ditargetkan sekolah.

Lihat juga...