Pandemi Covid-19 di Indonesia Disebut Bisa Terkendali September 2021

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Setahun lebih sejak pandemi COVID-19 menyergap seluruh dunia, ada harapan di Indonesia, situasi terkendali bisa terwujud pada September 2021. Jika, semua dijalankan sesuai dengan skenario perhitungan yang dilakukan para peneliti.

Staf Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi RSUP Persahabatan Jakarta, DR. dr. Erlina Burhan, MSc, SpP(K) memaparkan adanya suatu skenario yang dilakukan oleh para peneliti.

“Skenario berdasarkan asumsi jika semua target tercapai dengan dimulainya vaksinasi umum pada 1 Maret 2021 dan menggunakan 31.000 vaksinator yang melakukan vaksinasi ke 30 orang per vaksinator per hari maka hasil estimasi menunjukkan pandemi dapat terkendali di September 2021,” kata Erlina dalam seminar online memperingati TB dan COVID-19 oleh RSUP Persahabatan Jakarta, Jumat (26/3/2021).

Ia menegaskan bahwa ini adalah skenario berbasis komponen yang sangat ideal. Bukan berdasarkan fakta di lapangan

“Dengan skenario vaksinasi dilakukan menyeluruh dan masyarakat sudah sepenuhnya patuh pada protokol kesehatan. Dan hasil simulasi ini dapat dipercepat dengan menambahkan jenis vaksin yang memiliki efikasi tinggi, jumlah dan kapasitas vaksinator ditambah serta melibatkan swasta dan jaringan cold chain,” ujarnya.

Erlina menyebutkan kondisi terkendali bisa terlihat dalam proyeksi grafik dimana jika penurunan terjadi secara terus menerus dan jika kembali naik hanya akan membentuk grafik landai.

“Kalau itu terjadi maka status COVID 19 akan berubah menjadi endemi, seperti halnya TB,” ungkapnya.

Strategi yang harus dilakukan, lanjut Erlina, tentunya dengan menjalankan protokol kesehatan dan memberikan vaksinasi ke seluruh masyarakat.

“Walaupun faktanya, vaksinasi dan protokol kesehatan belum dilakukan secara optimal. Tapi langkah ini harus terus didorong agar optimal,” ucapnya tegas.

Data Januari 2021 menunjukkan bahwa masyarakat yang patuh menggunakan masker hanya 17,74 persen dari total provinsi atau 88 kabupaten/kota. Sementara 62,30 persen dalam tahap sedang dan 19,96 persen tidak patuh atau 99 kabupaten/kota.

Untuk kepatuhan menjaga jarak, hanya 67 kabupaten/kota atau 13,50 persen yang patuh dan 109 kabupaten/kota atau 21,98 persen tidak patuh dalam menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

“Vaksinasi pada 181,5 juta orang atau 67 persen dari total populasi yang ditargetkan pemerintah, diharapkan dapat mencegah transmisi antar individu, sehingga menurunkan prevalensi penyakit. Dengan turunnya jumlah kasus maka akan menurunkan kebutuhan pengobatan dan fasilitas layanan kesehatan rawat inap,” kata Erlina.

Hingga 20 Maret 2021, sudah 7,3 juta penduduk Indonesia yang sudah mendapatkan vaksinasi, dari total 40.349.051 penduduk yang harus divaksin di fase 1. Atau sekitar 18,25 persen dari target.

“Dengan kecepatan vaksinasi Indonesia, yaitu 300 hingga 400 dosis per hari, kemungkinan target April 2021 itu akan sulit tercapai. Sehingga penting untuk setiap masyarakat untuk mempercepat mengambil vaksinasi dan mendorong lingkungan sekitarnya untuk melakukan vaksinasi juga. Agar secepatnya bisa tercapai herd immunity dan bisa mengakhiri pandemi ini,” tuturnya.

Terkait munculnya varian baru, B117, Erlina menyatakan pihak Pfizer dan Oxford- AstraZeneca sedang merencanakan untuk memperbaharui vaksin mereka. Dan laporan dari penelitian di Israel menyatakan bahwa vaksin Pfizer efektif melawan varian B117.

Dan untuk varian B1351 di Afrika Selatan yang dinyatakan lebih mudah menular, memang masih dilakukan penelitian lanjutan. Karena efektivitas vaksin berkurang saat dilakukan penelitian pada Novavax, AstraZeneca, Pfizer dan Moderna.

“Vaksin yang ada masih efektif untuk melawan varian baru virus ini. Walaupun tidak akan seefektif jika melawan varian yang lama. Dan vaksin tetap dapat mencegah perawatan di RS dan mencegah terjadinya kematian. Semakin banyak yang divaksin maka akan menurun penularan, sehingga akan mencegah timbulnya varian baru,” pungkasnya.

Lihat juga...