Pandemi, Pemilik Usaha Hiburan di Lamsel Terapkan Lesehan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Larangan menggelar hiburan menimbulkan kerumunan selama pandemi Covid-19 ikut memukul sektor usaha hiburan di Lampung Selatan. Udin Ardika, pemilik usaha hiburan musik Ardika Music, New Wijaya dan New Dini Music menyebut ia belum bisa maksimal melayani order.

Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan itu menerapkan konsep lesehan tanpa memakai panggung meriah.

Konsep lesehan sebut Udin Ardika dengan tetap melayani hiburan tanpa membuat panggung megah. Ia menyebut konsep itu jadi solusi karena otoritas kepolisian belum menerbitkan izin keramaian. Sebagai sektor usaha berbasis kesenian, normalnya ia kerap membuat panggung megah, sound system yang banyak. Namun pandemi Covid-19 berimbas pada berkurangnya order.

Udin Ardika bahkan sempat tidak menerima order selama empat bulan. Imbasnya penyewaan panggung, pengatur alat musik dan jasa master of ceremony, pemain musik, biduan dirumahkan. Namun saat adaptasi kebiasaan baru, konsep lesehan berangsur bisa diterapkan. Ia mulai mendapat order hiburan musik sepekan selama tiga kali. Jasa tersebut dibanderol mulai Rp5juta hingga Rp10juta.

“Izin keramaian secara resmi tidak ada namun tetap secara lisan memberitahukan kepada satgas Covid-19 tingkat desa jika ada acara hiburan namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan konsepnya lesehan agar tidak menimbulkan kerumunan,” terang Udin Ardika saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (2/3/2021).

Udin sapaan akrabnya bilang dampak pandemi berpengaruh pada sebanyak 30 karyawannya. Sebab selama hampir tujuh bulan saat tidak beroperasi ia harus tetap membayar angsuran kredit bank. Atasi angsuran yang hampir macet ia bahkan sempat menjual kendaraan untuk menutup hutang. Mengharapkan program bantuan UMKM ia menyebut tidak memenuhi syarat.

Beruntung saat adaptasi kebiasaan baru, solusi menggelar hiburan tetap bisa dilakukan. Syaratnya semua pelaku usaha hiburan tetap menjalankan protokol kesehatan saat menggelar acara. Musik yang disiapkan juga hanya cukup menghibur pemilik hajat dan sejumlah tamu undangan. Normalnya hiburan musik kerap menggunakan sound system yang banyak.

“Sebelum pandemi panggung dibuat meriah dan kadang izin hingga malam hari tapi kini dibatasi,” cetusnya.

Udin menambahkan order yang mulai dilayani ikut menghidupkan usahanya. Meski berskala kecil, ia menyebut sebagian karyawan mulai bisa dibayar. Jasa hiburan tersebut mulai lancar meski presentase masih mencapai 50 persen dari kondisi normal. Ia mengaku dari tiga grup musik yang dimiliki sempat hanya satu yang diorder. Kini dengan konsep lesehan ia bisa mendapat order untuk ketiga grup musik miliknya.

Mulai normalnya sektor jasa hiburan organ tunggal, sebutan untuk usahanya berdampak pada karyawan. Pemain musik atau ranger, biduan, master of ceremony, anak sound atau pengatur alat musik, pengemudi bisa mendapat penghasilan. Ia menyebut dengan sudah adanya vaksin Covid-19 ia berharap aktivitas kehidupan masyarakat kembali berjalan normal.

“Rantai ekonomi dari sektor usaha hiburan tentunya berdampak bagi pemilik usaha kuliner, pedagang mainan serta jasa lain,” cetusnya.

Pemilik usaha hiburan lain, Denny Kertajaman, pemilik usha New Sahabat Music mengaku sempat stress. Ia mengaku bingung dengan setoran bank yang jadi kewajibannya. Selama hampir lima bulan ia mengajukan relaksasi kredit bank. Berangsur dengan sistem lesehan usaha hiburan kembali berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan. Ia bahkan masih menerima order hanya untuk alat musik.

“Sejak pandemi hiburan musik dibatasi, namun untuk pengeras suara masih bisa saya layani,”terangnya.

Berkonsep lesehan untuk hiburan musik, Denny Kertajaman mulai bisa eksis. Namun sejumlah batasan tetap dilakukan menerapkan protokol kesehatan. Dibantu Handoko sebagai sound man ia mulai bisa melayani sejumlah pesta hajatan. Meski dibatasi waktu operasional ia juga telah bisa mendapat pemasukan. Sekali order alat musik ia mendapat hasil Rp1juta hingga Rp5juta.

Lihat juga...