Pandemi, Penjualan Madu Hutan Asal Sikka Meningkat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Dampak pandemi Corona membuat penjualan madu hutan asal Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sudah dikemas dalam botol berukuran 350 mililiter mengalami peningkatan pesanan.

Penjual madu hutan asli asal Kabupaten Sikka, NTT, Sonya da Gama saat ditemui di tempat usahanya di Kelurahan Kota Baru, Maumere, Selasa (16/2/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Memang sejak pandemi Corona penjualan madu hutan meningkat, namun stok kami sangat terbatas meskipun permintaan banyak,” kata Bernadus Brebo,Ketua Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) Wairtopo, Desa Wairterang, Kabupaten Sikka, NTT saat dihubungi Cendana News, Selasa (2/3/2021).

Brebo menyebutkan, saat musim panen di bulan Oktober 2021 lalu pihaknya hanya mampu memproduksi 100 botol saja ukuran 350 mililiter untuk dikirim ke Jakarta sesuai pesanan pelanggan.

Dia menyebutkan, permintaan akan madu asli meningkat semenjak pandemi Corona namun musim kemarau berkepanjangan membuat produkasi madu hutan menurun drastis.

“Biasanya kami memproduksi ratusan botol karena banyak sarang madu yang kami panen. Namun tahun 2021 kemarin produksi menurun akibat kemarau panjang sehingga produksi pun menurun,” ucapnya.

Brebo menyebutkan, madu tersebut dipanen dari sarang-sarang yang ada di pohon-pohon yang ada di kawasan hutan lindung di Desa Wairterang di sekitar pemukiman warga.

Dia katakan, satu botol madu hutan asli ukuran 350 mililiter tersebut dijual seharga Rp50 ribu per botolnya dan biasanya dibeli juga oleh penjual di Kota Maumere untuk dipasarkan kembali ke luar Kabupaten Sikka.

“Keuntungan yang kami dapat memang menurun sebab biasanya madu hutan hanya dipanen setahun sekali di bulan September atau Oktober. Kalau banyak sarang maka panen meningkat tapi kalau kemarau panjang, hasil panen menurun,” ucapnya.

Salah seorang penjual madu hutan asli di Kota Maumere, Sonya da Gama mengakui memang penjualan madu hutan asli meningkat selama pandemi Corona, karena diyakini bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

Sonya katakan, madu hutan asli dibeli dari warga masyarakat di beberapa wilayah Kabupaten Sikka dengan harga Rp70 ribu per kilogramnya, lalu disaring dan dikemas dalam ukuran 350 mililiter.

“Saya menjualnya dengan harga Rp100 ribu per botolnya ukuran 350 mililiter. Permintaan banyak sehingga stok habis dan saya terpaksa menunggu dahulu petani memanennya,” ungkapnya.

Sonya mengakui berapapun stok yang tersedia biasanya selalu habis terjual karena banyak pembeli dari luar Kabupaten Sikka yang memesannya sebab harga jualnya masih tergolong murah.

“Permintaan memang banyak dan berapapun stok yang ada pasti laku terjual. Namun kami kewalahan karena stok madu asli di masyarakat memang terbatas sekali apabila kemarau panjang sebab banyak pohon yang tidak berbunga padahal lebah perlu menghisap bunga,” pungkasnya.

Lihat juga...