Pandemi, Sejumlah Bus di Terminal Arjasa tak Beroperasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Munculnya pandemi Covid-19 mengakibatkan merosotnya sektor pertumbuhan ekonomi.

Hamdali, Operator Dinas Perhubungan (DISHUB) Terminal Arjasa mengatakan, ketakutan masyarakat untuk melakukan aktivitas di luar rumah berdampak pada transportasi angkutan umum, yang berada di wilayah Arjasa. Angkutan umum yang seringkali parkir di terminal tersebut, kini hanya tinggal beberapa armada yang beroperasi.

“Selama masa pandemi sampai saat ini, angkutan transportasi umum mengalami penurunan yang sangat drastis. Penumpang yang ada kadang hanya sekitar 5 orang hampir setiap harinya,” ucap Hamdali, saat ditemui Cendana News  di wilayah Desa Krajan, Kecamatan Arjasa, Jember, Selasa (9/3/2021).

Sedikit penumpang yang menggunakan transportasi angkutan umum, menyebabkan banyak armada bus yang tidak beroperasi. Dari total armada yang ada sekitar 40, saat ini yang hanya dapat beroperasi sekitar 7 armada.

“Penumpang yang sedikit setiap harinya mengakibatkan beberapa armada bus tidak dioperasikan. Keputusan atas tidak dioperasikannya armada bus bertujuan sebagai upaya mengurangi biaya perawatan juga biaya operasional bahan bakar yang digunakan,” tambahnya.

Hamdali menyebutkan, salah satu pengaruh anjloknya operasional angkutan umum disebabkan karena aktivitas mahasiswa kuliah daring dari rumah. Intensitas mahasiswa sebagian besar mempengaruhi laju gerak angkutan umum.

Terutama bagi supir maupun kondektur merasakan dampak yang signifikan saat mahasiswa di Jember tidak beraktivitas sebagaimana dalam keadaan normal.

“Sebagian besar  angkutan umum yang ada di terminal Arjasa dipengaruhi aktivitas mahasiswa. Karena angkutan umum yang ada di sini sifatnya regional. Antara Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Situbondo. Kecenderungan mahasiswa yang ada di sekitar tapal kuda dulu setiap minggunya pulang kampung menggunakan transportasi angkutan umum,” ujarnya.

Sebagai langkah agar karyawan angkutan umum yang ada di terminal Arjasa mendapatkan penghasilan, saat di masa pandemi seperti sekarang, mendapatkan kompensasi waktu keberangkatan.

“Karena keadaan pandemi yang terjadi  melihat penumpang yang kadangkala tidak menentu, kami memberikan kompensasi waktu keberangkatan. Biasanya satu armada yang berangkat sekitar jam 10.00 WIB. Kami memberikan kelonggaran untuk menambah waktu keberangkatan sekitar 30 menit. Jadi setiap supir angkutan umum di sini bisa berangkat melebihi ketentuan waktu yang telah ditetapkan,” ucapnya.

Ahmadi, salah satu kondektur bus angkutan umum mengatakan, dampak turunnya penumpang ia dan rekan-rekannya mengalami kerugian. Kerugian yang dialami karena biaya operasional yang harus ditanggung.

Salah satu kondektur bus, Ahmadi, saat ditemui Cendana News di Terminal Arjasa, Jember, Selasa (9/3/2021). – Foto: Iwan Feri Yanto

“Biaya operasional setiap kendaraan angkutan umum merupakan tanggungan masing-masing supir, seperti biaya bahan bakar. Sebelumnya biaya operasional bahan bakar, setiap supir melakukan iuran yang digunakan sebagai biaya pembelian bahan bakar. Namun partisipasi yang dilakukan tidak bertahan lama karena penumpangnya seringkali tidak menentu,” ucapnya.

Ahmadi menyatakan, sampai saat ini ia mengaku, selama masa pandemi tidak ada pengurangan tenaga karyawan yang jumlahnya 40 orang, hanya saja armada bus yang dikurangi.

“Bersyukur saat ini tidak ada karyawan yang dirumahkan atau dilakukan pemutusan hubungan kerja. Hanya saja armada angkutan umumnya yang dikurangi untuk mengurangi biaya operasional. Sistem kerjanya dibagi menggunakan sistem sif. Setiap supir diberi waktu satu minggu kerja dan satu minggu istirahat diganti dengan supir bus yang lain,” tegasnya.

Selama masa pandemi pula, menurut Ahmadi, untuk biaya uang setoran yang harus dibayarkan total Rp100 ribu sehari bagi satu armada angkutan umum yang beroperasi pulang-pergi.

“Di masa pandemi saat ini, Dinas Perhubungan juga memberi kemudahan pada kita semua. Biaya setoran yang harus dibayarkan ada penurunan. Selain itu untuk harga tarif karcis masih tetap, menyesuaikan dengan keadaan yang normal. Tapi untuk penumpang sendiri yang masih tidak bisa diperkirakan setiap harinya,” ucapnya.

Lihat juga...