Pantai Pedada di Lampung Selatan Mulai Dibenahi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Pengelola pantai Pedada di Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, melakukan pembenahan lokasi pantai pascaterjangan gelombang laut yang merusak sejumlah fasilitas.

Rusli, pengelola pantai Pedada, menyebut gelombang merusak pantai dan fasilitas ban mobil bekas yang dipasang sebagai penahan gelombang, rusak. Namun, fase gelombang pasang yang berakhir digunakan untuk pembenahan.

Menurut Rusli, kerusakan imbas gelombang membuat kontur pantai tergerus. Meski demikian, pantai tersebut masih kerap dikunjungi wisatawan lokal. Pembenahan dilakukan pengelola dengan menata ban mobil bekas untuk penahan ombak.

Sejumlah tempat duduk terbuat dari kayu bekas yang terbawa ombak, menjadi penambah estetika pantai. Bekas jaring nelayan juga dipakai sebagai ayunan.

Fasilitas pelampung ban disiapkan oleh Rusli, pengelola pantai Pedada, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Minggu (7/3/2021). -Foto: Henk Widi

Pembenahan juga dilakukan di sejumlah warung usaha kuliner. Sejumlah pemilik usaha kuliner memilih memundurkan lokasi di bawah pohon peneduh. Pohon jenis ketapang, waru, kelapa dan kemiri laut berfungsi memberi naungan. Penataan pantai imbas kerusakan pasir, fasilitas oleh gelombang dilakukan secara swadaya.

“Fase gelombang saat angin Selatan dan Utara mulai berakhir dan berganti angin Barat, sehingga kami bisa meratakan pasir pantai dengan kembali menyusun ban mobil bekas, kayu gelondongan untuk penahan terjangan ombak, sehingga pengunjung yang dominan keluarga bisa lebih nyaman,” terang Rusli, Minggu (7/3/2021).

Rusli bilang, penataan objek wisata pantai Pedada sebagai bagian sapta pesona wisata, meliputi aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan. Sebagai pengelola, ia memberikan dukungan dengan lingkungan yang kondusif. Sebab, lokasi pantai menghadap ke Selat Sunda itu ikut mendorong berkembangnya industri pariwisata.

Rusli mengatakan, pantai Pedada masih dikelola secara tradisional. Namun, sebagian warga telah menyadari pentingnya penataan objek wisata bahari itu. Usai pantai diterjang gelombang, secara swadaya warga di sekitar pantai membersihkan sampah kiriman. Sampah kiriman tersebut dipendam di dekat pohon sebagai pupuk, terutama jenis sampah organik daun dan limbah pertanian.

“Kami bergotong royong agar pantai kembali bersih, sehingga pengunjung nyaman dan warga mendapat penghasilan secara ekonomi,” cetusnya.

Hendra, warga lain, menyebut pantai Pedada rentan mengalami kerusakan. Namun, fase tersebut hanya terjadi setiap jangka waktu tertentu. Mengantisipasi kerusakan lebih parah, sebagian warga melakukan upaya agar kondisi pantai tetap bersih. Terbukanya muara sungai saat hujan yang semula tertutup pasir, ikut menyumbang pantai yang kotor.

Sebagian warga menambah daya tarik pantai dengan penanaman pohon tambahan. Sejumlah pohon yang telah tumbuh, menurutnya menjadi daya tarik fasilitas alami. Sebab tanpa adanya naungan buatan, wisatawan bisa menggelar tikar. Kegiatan berkemah di area berpasir bisa dimanfaatkan untuk menikmati suasana pantai.

“Penataan juga ditambah dengan penyediaan lokasi kamar bilas, sewa ban dalam, toilet memadai bagi pengunjung yang dominan keluarga dengan anak anak,” bebernya.

Keindahan pantai Pedada menjadi daya tarik bagi Vincentia. Pengunjung asal Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni itu bilang, saat sore ombak lebih landai. Pantai dengan ombak tenang itu dengan kontur landai mencapai seratus meter sangat cocok untuk anak-anak. Aktivitas di pantai bisa dilakukan dengan renang memakai ban, duduk santai memandang kapal labuh jangkar.

Menurut Vincentia, berlibur ke pantai Pedada bisa merelaksasi pikiran. Kondisi pantai yang bersih dengan penataan yang baik makin nyaman untuk dikunjungi. Ia memilih datang saat sore, karena kondisi cuaca di pantai lebih sejuk. Rerimbunan pohon peneduh sekaligus memberikan udara bersih yang bisa dinikmati saat akhir pekan.

Lihat juga...