PB-IDI: Masyarakat Tidak Perlu Khawatir terkait Vaksin AstraZeneca

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kehadiran 1,1 juta vial vaksin AstraZeneca dari Inggris untuk menutupi kekurangan di Indonesia, disambut dengan beberapa tanggapan miring dari masyarakat, yang menyatakan mengapa harus menggunakan merk yang berbeda. Menyikapi hal tersebut, para ahli menyatakan, masyarakat tidak perlu takut dengan perbedaan vaksin yang digunakan. Karena semuanya sudah melewati pengetesan oleh Badan POM.

Ketua Tim Advokasi Pelaksanaan Vaksinasi, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD- KAI menyatakan kalau dalam masa pandemi seperti ini, tidak bisa membandingkan mana yang lebih baik.

“Mana yang datang dahulu, itu yang kita pergunakan. Selama sudah mendapatkan izin Badan POM. Masyarakat tidak perlu khawatir karena Badan POM juga tidak main-main dalam menangani setiap vaksin ataupun obat yang masuk ke mereka,” kata Prof Iris dalam bincang online IDI, Jumat (26/3/2021).

Ia juga menyatakan bahwa tidak bisa juga diperbandingkan mana yang lebih baik. Karena semua vaksin memiliki perbedaan platform.

“Tidak bisa dibilang mana yang lebih bagus. Yang penting sudah melewati batas minimal efikasi yang ditetapkan WHO, yaitu 50 persen. Vaksin AstraZeneca ini memiliki efikasi di atas 70 persen,” ucapnya.

Bahkan, lanjutnya, Vaksin Merah Putih milik Indonesia, yang rencananya akan bisa selesai tahun 2022 itu juga berbeda-beda platformnya. Karena ada 6 institusi yang melakukan pengembangan.

“Layaknya beli hape. Kita tidak beli berdasarkan merknya. Tapi berdasarkan kemampuannya dan menyesuaikan dengan kebutuhan,” ujarnya.

Terkait isu vaksin AstraZeneca yang bisa menyebabkan pembekuan darah, Prof Iris menegaskan bahwa hal tersebut tidak saling berkaitan.

“Dari hasil penelitian WHO dan EMA (red : Badan POM Eropa) ini sudah dinyatakan tidak benar. Tidak ada hubungannya. Kasus penggumpalan darah memang sering terjadi di wilayah Eropa. Bahkan, tercatat lebih sedikit kasus penggumpalan darah saat ini dibandingkan masa sebelum vaksinasi,” ujarnya lebih lanjut.

Response Lead COVID 19 UNICEF Ari Rukmantara menyatakan Indonesia bisa mendapatkan vaksin Covax adalah keahlian diplomasi, karena bisa mendapatkan kuota 20 persen dari jumlah penduduk secara gratis dari Covax Facility atau sekitar 108 juta dosis untuk penggunaan 54 juta vaksinasi, dari 2 milyar dosis yang diamankan oleh Covax Facility untuk kebutuhan negara menengah ke bawah.

“Jumlah tersebut diperkirakan bisa didistribusikan ke Indonesia secara total hingga akhir 2021,” kata Ari melalui sambungan online dari Jenewa.

Ia menyatakan kecepatan dalam mendapatkan vaksin itu bergantung pada kemampuan suatu negara untuk mengidentifikasi atau melakukan purchase order vaksin secepat mungkin.

“Indonesia sudah melakukan purchase order ini sejak pertengahan tahun lalu. Kecepatan diplomasi bilateral ini lah yang menyebabkan Indonesia mampu mendapatkan jatah vaksin dari berbagai produsen dan Covax,” tuturnya.

Ari menyebutkan tercatat ada 130 negara di dunia yang saat ini belum mendapatkan vaksin sehingga belum memulai program vaksinasi COVID 19

“AstraZeneca ini dibuat di berbagai negara dan melibatkan ribuan orang untuk memproduksi. Saat distribusi juga melibatkan ribuan orang dari negara yang mendapatkannya. Seperti di Indonesia, saat datang itu, ada banyak orang yang membawanya dari kargo untuk dipindahkan ke mobil pendingin, lalu dibawa ke Biofarma baru didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...