Pengelolaan Limbah Radioaktif Harus Jamin Keamanan

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Limbah radioaktif bukanlah limbah rumah tangga yang jumlahnya banyak dan membutuhkan tempat luas untuk penyimpanan akhirnya. Namun, pengelolaan limbah radioaktif membutuhkan penanganan khusus yang menjamin keamanan dan keselamatan. Karena walaupun sedikit, tingkat radioaktifnya belum tentu kecil.

Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot S Wisnubroto, menyatakan ada beberapa prinsip yang dilakukan untuk memastikan pengelolaan limbah radioaktif dilakukan secara tepat dan aman.

“BATAN sudah bertahun mengelola limbah ini. Dan, kami selalu mengutamakan keamanan dan keselamatan dalam melakukan pengelolaannya sesuai ketentuan Badan Pengawas dan IAEA,” kata Djarot, saat dihubungi, Rabu (24/3/2021).

Dalam praktik pengelolaan, lanjutnya, ada beberapa prinsip yang menjadi dasar pengelolaan. Pertama, waktu paruh dari bahan radioaktifnya, yaitu waktu yang dibutuhkan suatu bahan radioaktif meluruh menjadi separuh dari konsentrasi awalnya.

Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot S Wisnubroto, dalam berbagai kegiatan. –Dok: CDN

“Karena zat radioatif ini meluruh dengan waktu, maka diberlakukanlah penyimpanan. Ada yang panjang dan ada yang pendek waktu paruhnya. Waktu paruh ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penggunaannya sebagai bahan baku peralatan yang berkaitan dengan radioaktif,” ujarnya.

Ia mencontohkan, Molybdenum-99 memiliki waktu paruh 66 jam. Artinya, dalam waktu 66 jam, kandungan radioaktifnya akan meluruh 50 persen dari kandungan awal. Atau Cobalt-60 memiliki waktu paruh 5,27 tahun untuk meluruh.

“Kalau Plutonium-239 itu waktu luruhnya 24.100 tahun. Ini termasuk bahan radioaktif yang panjang waktu luruhnya. Karena itu, tempat penyimpanan akhir limbah radioaktif memiliki ketahanan hingga puluhan ribu tahun, ya untuk bahan-bahan seperti plutonium ini,” urainya.

Prinsip ke dua adalah menjaga agar gelombang radioaktif bisa ditahan agar tidak menembus pelapisnya, atau yang biasa disebut perisai. Jenis perisai yang digunakan ditentukan berdasar pada gelombang radiasinya. Jika Alpha itu bisa ditahan dengan kertas atau kulit, Beta oleh Alumunium, Gamma oleh timbal atau Lead dan Neutron dengan menggunakan concrete atau beton.

“Kalau di BATAN, setelah dibungkus dengan Timbal, maka dimasukkan ke dalam wadah yang terbuat dari beton. Jadi, sangat aman,” tegas mantan Kepala BATAN ini.

Prinsip ke tiga, penyimpanan limbah radioaktif adalah sedapat mungkin volumenya direduksi atau dikurangi. “Kalau limbah cair kita evaporasi. Kalau limbah padat kita kompaksi. Sehingga bisa lebih efisien dalam pengelolaan. Tapi ada juga yang tidak bisa direduksi, kalau sudah tak bisa, maka kita akan simpan dalam bentuk gelondongan,” ucapnya.

Untuk prinsip ke empat adalah solidifikasi, untuk mencegah limbah mengalir ke tempat lain. Atau dengan proses divitrifikasi atau penggelasan bagi yang memiliki aktivitas tinggi.

“Prinsip ke lima adalah penyimpanan akhir atau disposal. Ketentuan disposal ini sudah ada. Misalnya, untuk limbah aktivitas tinggi harus ada pada kedalaman tertentu, misalnya 500 meter di bawah tanah dan harus di lapisan bentonit,” ujarnya.

Di Indonesia sendiri, menurut Djarot, proses pencarian lokasi penyimpanan akhir atau penyimpanan lestari ini sudah dilakukan dan sudah ada beberapa calon lokasi.

“Hanya memang belum boleh diumumkan karena belum secara resmi ditentukan. Tidak buru-buru juga. Karena penyimpanan sementara yang dimiliki BATAN saat ini kita anggap masih cukup,” pungkasnya.

Lihat juga...