Pengolahan Limbah Rumah Tangga dengan Sistem Domestik

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Limbah rumah tangga memiliki dampak yang buruk bagi pelestarian lingkungan. Apalagi di pemukiman padat penduduk yang tidak melengkapi rumahnya dengan sumur resapan untuk mengolah kembali air limbah. Akhirnya mereka membuang ke selokan hingga mengalir ke sungai dan waduk yang ada di sekitar rumahnya.

Hal ini menurut Kepala Dinas Sumber Air DKI Jakarta, Yusmada Faisal Samad, akan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang membawa dampak buruk pada kehidupan di masyarakat.

“Menyalurkan limbah rumah tangga ke alam bebas tanpa melalui proses pengolahan, akan berdampak buruk bagi keberlangsungan hidup ekosistem dan pelestarian lingkungan,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (17/3/2021).

Menurutnya, jika limbah rumah tangga langsung di bunga ke sungai atau waduk, maka waduk tersebut akan tercemar zat kimia dan bakteri yang mematikan ekosistem mahluk hidup di dalamnya.

“Jika air tercemar limbah seperti bahan kimia, ini akan mengganggu makhluk hidup di dalam sungai, seperti ikan dan tumbuhan,” tambahnya

Dia menyebut terdapat cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah limbah rumah tangga, dengan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) skala perkotaan dan permukiman dengan membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Salah satu SPALD Rambutan berada di area Waduk Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

“Keberadaan IPAL atau SPALD-T juga dapat mencegah timbulnya penyakit bawaan air atau waterborne disease, yang disebabkan oleh buruknya kualitas air permukaan,” ujarnya.

Pembangunan SPALD skala permukiman di titik waduk-waduk mencapai kapasitas 500-600 meter kubik per hari dengan lingkup layanan minimal 20.000 jiwa penduduk.

Pada sistem pengolahan air limbah domestik, ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum dialirkan ke Waduk Rambutan.

“IPAL jaringan SPALD ini domestik bukan komunal. Artinya, domestik itu cuma melayani limbah-limbah air bekas cucian piring, cucian baju, siram tanaman yang dibuang ke selokan. Jadi bukan komunal yang limbah dari spiteng,” ujar Muhammad Iqbal, petugas SPALD Rambutan kepada Cendana News ditemui di lokasi SPALD di Jalan Tanah Merdeka 7, Kelurahan Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Rabu (17/3/2021).

Muhammad Iqbal, petugas SPALD Rambutan sedang memantau proses pengolahan limbah rumah tangga di bak aerasi di berada di lokasi SPALD Rambutan di Jalan Tanah Merdeka, Kelurahan Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Rabu (17/3/2021). foto: Sri Sugiarti.

Menurutnya, air limbah rumah tangga dari selokan yang terhubung pipa-pipa itu sebelum dibuang ke waduk Rambutan, terlebih dulu diolah di SPALD. “Diolah di sini, biar baku mutunya mencukupi untuk dibuang ke waduk. Jadi pencemarannya berkurang,” ujar Iqbal.

Iqbal berharap warga tidak membuang sampah sembarangan ke aliran selokan, seperti sampah plastik, karena air limbah warga yang diolah itu bersumber dari selokan. Kemudian air tersebut disedot sebuah pompa air berukuran besar untuk dimasukkan ke tandon. Air kotor itu lalu diproses.

Pipa tempat menarik air dikelilingi beberapa beton berbentuk bulat. Fungsinya menghalangi sampah di selokan agar tidak masuk ke pipa. Lalu air diangkat ke sebuah tandon dengan menggunakan mesin pompa.

“Air limbah warga ini awalnya hitam pekat, setelah diolah rada bening, tidak tercemar bakteri,” tutupnya.

Lihat juga...