Petani Blewah di Bekasi Alami Gagal Tanam

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Curah hujan cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir, membuat petani buah musiman di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menjadi gagal tanam.

Bibit blewah dan timun suri sedianya ditanam dengan harapan dipanen untuk persiapan menyambut bulan suci Ramadan tahun ini. Tapi ternyata mengalami gagal tanam atau tidak tumbuh maksimal bahkan daun yang tumbuh pun terlihat menguning.

Kondisi tersebut merata hampir terjadi di wilayah bagian utara Kabupaten Bekasi seperti di Desa Sriamur, Tambun Utara dan Desa Sumberjaya Tambun Selatan. Untuk menyiasati gagal tanam tersebut, petani blewah dan timun suri berinisiatif menanam semangka sebagai tanaman pengganti.

Bagi para petani di wilayah Tambun, budi daya buah semangka diandalkan mengobati gagal tanam meskipun modal lebih besar. Semangka sendiri cukup diminati setiap waktu, tidak hanya pada bulan suci Ramadan seperti blewah dan timun suri.

“Hampir dua Minggu lalu, bibit blewah ditanam dan tidak tumbuh maksimal. Sudah dicoba sulam dengan semaian bibit yang disediakan, tapi tetap gagal tumbuh lagi, “ucap Rhino, petani buah musiman asal Indramayu di Desa Sumberjaya, kepada Cendana News, Senin (1/3/2021).

Diakuinya, hal tersebut akibat curah hujan beberapa waktu terakhir cukup tinggi. Akibatnya, kerugian terjadi pada bibit dan tenaga. Rhino, memperkirakan kerugian mencapai Rp2 juta per hektare akibat gagal tanam.

Menurutnya, jika kembali ditanam bibit timun suri atau blewah lagi, maka waktunya tidak terkejar. Karena kedua jenis buah musiman itu hanya diminati saat bulan suci Ramadan.

“Saat ini, tanaman blewah yang tumbuh tetap dibiarkan, tapi di lokasi yang tidak tumbuh ditanami bibit semangka sebagai pengganti. Antara blewah, timun suri dan semangka berdampingan. Mau bagaimana lagi, daripada tidak dimanfaatkan lahan garapannya, semangka juga bagus harganya,” tukasnya.

Tarmin, petani buah musiman lainnya, mengakui, bahwa bulan puasa tahun ini diprediksi timun suri dan blewah akan sedikit langka. Karena wilayah penghasil dua jenis buah tersebut di Bekasi mengalami gagal tanam.

“Bisa dikatakan 75 persen gagal tanam. Kondisinya menyeluruh, tidak hanya di Desa Sumberjaya. Tapi seperti Sriamur, Gabus di Tambun Utara juga mengalami hal serupa,” ungkap Tarmin, bahwa informasi tersebut dari perkumpulan petani di wilayah utara.

Diakui Tarmin, bahwa saat ini, petani belum terlalu besar mengalami kerugian, hanya rugi di bibit dan tenaga karena mereka belum memberi pupuk. Harusnya jika tumbuh maksimal, saat ini petani buah blewah dan timun suri sudah mulai turun pupuk.

“Tapi sekarang petani musiman disibukkan dengan menyulam gagal tanam dengan tanaman baru jenis buah semangka sebagai penggantinya,” tegasnya.

Tarmin mengaku, bahwa para petani sebenarnya berharap ada perhatian pemerintah dengan kondisi seperti sekarang. Karena untuk bibit semangka juga cukup tinggi harga per botol. Seperti bibit blewah dan timun suri yang gagal tanam harga per botol mencapai Rp400 ribuan.

Ia berharap, petani buah musiman di Tambun Selatan dan Utara bisa mendapat perhatian pemerintah daerah. Meskipun lokasi tempat budi daya blewah dan timun suri tidak terdampak banjir.

Lihat juga...