Petani di Desa Ladogahar Mulai Panen Cabai

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Harga cabai di Pasar Alok Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang tinggi dan menguntungkan buat para petani di wilayah ini. Erik Padji, petani setempat pun mengaku, menanam 2.500 pohon cabai di kebunnya, dan kini sedang memasuki masa panen.

“Untuk saat ini harga cabai rawit di tingkat petani berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogramnya,” kata Erik Padji, petani hortikultura asal Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT saat dihubungi, Senin (8/3/2021).

Petani hortikultura Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, Erik Padji saat ditemui di kebunnya, Sabtu (6/3/2021). Foto: Ebed de Rosary

Erik menyebutkan, harga cabai keriting pun lebih mahal, satu kilogram di tingkat petani dijual dengan harga Rp40 ribu hingga Rp45 ribu.

Dia mengatakan, cabai terkadang dibeli pengepul atau biasa dinamakan papalele di kebun petani atau diantar langsung ke Pasar Alok yang merupakan pasar induk.

“Harga cabai memang lagi tinggi karena cabai dari luar daerah seperti Makassar dan Surabaya tidak masuk ke pasaran di NTT. Sebab harga jual di Pulau Jawa lebih tinggi,” ungkapnya.

Menurutnya, harga cabai mulai meningkat drastis di bulan Februari 2021 karena stok di pasaran berkurang. Akibat banyak petani yang beralih menanam jagung dan padi ladang di lahannya saat musim hujan.

Ia mengakui, dengan kisaran harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram  petani sudah untung lumayan, apalagi harga jualnya lebih tinggi.

“Saya juga terlambat tanam segingga baru bisa panen di minggu kedua bulan Maret. Banyak petani di Sikka yang belum terjun budi daya hortikultura. Padahal peluang menghasilkan uang lebih mudah sebab sayuran dan cabai rata-rata 3 bulan sudah panen,” ujarnya.

Seorang petani muda dari Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Yance Maring pun berpendapat senada, kenaikan harga jual hortikultura membuat petani meraup untung menggiurkan.

Yance mengaku, menanam sekitar 5 ribu pohon cabai rawit, keriting dan cabai merah besar yang dipanen pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2020. Dilepas ke pasar di kisaran harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

“Saya panen cabai bulan Juli sampai Agustus. Cabai rawit dibeli pengepul dengan harga Rp25 ribu per kilogram. Sementara cabai merah besar dijual dengan harga Rp12 ribu dan cabai keriting Rp15 ribu per kilogram,” ucapnya.

Menurur Yance, harga cabai memang bervariasi tergantung stok pasar. Sebab bila produksi cabai dari luar daerah masuk ke Sikka dalam jumlah besar, maka harga akan turun.

Namun sebutnya, petani tetap mendapatkan keuntungan meskipun tidak terlalu besar, akibat stok cabai di pasar melimpah dengan masuknya cabai dari luar NTT.

“Meskipun harga cabai turun tetapi bila produksi di tingkat petani banyak, maka keuntungan yang diperoleh pun lumayan. Peluang di hortikultura memang menggiurkan karena pasti mendatangkan keuntungan. Namun belum banyak petani yang menanam dalam jumlah banyak,” pungkasnya.

Lihat juga...