Petani di Sikka Pilih Tanam Kacang Hijau Benih Lokal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Para petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih memilih menanam benih kacang hijau lokal karena bibit yang diberikan pemerintah banyak yang rusak dan tidak tumbuh saat ditanam.

Petani jagung di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Osias Bruno saat ditemui di kebun jagungnya Senin (22/2/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kami lebih memilih menanam benih kacang hijau lokal karena benih yang dibagikan pemerintah tidak tumbuh saat ditanam,” sebut Yosefus Nong salah seorang petani di Desa Habi, Kecamatan kangae, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di kebunnya, Senin (22/3/2021).

Yosefus menyebutkan, untuk menanam kacang hijau dirinya memilih membeli bibit kacang hijau yang dijual di pasar tradisional dan menggunakan sisa benih tahun sebelumnya.

Ia mengakui, untuk mengecek benih tersebut bagus atau tidak para petani menuangkan ke dalam wadah yang berisi air dan apabila mengambang maka dipastikan benih tersebut jelek.

“Kami tuangkan benih bantuan pemerintah ke dalam wadah yang berisi air. Kalau mengambang maka saat kami tanam pasti benihnya tidak akan hidup. Makanya kami lebih memilih menanam benih kacang hijau yang dibeli sendiri,” ungkapnya.

Petani di Desa Habi lainnya, Osias Bruno saat ditemui di kebun jagungnya pun mengakui, para petani memang lebih banyak menanam kacang hijau benih lokal dengan membeli sendiri.

Osias menyebutkan, memang ada bantuan benih kacang hijau dari pemerintah, namun katanya banyak petani yang tidak mempergunakannya karena banyak benih yang rusak.

“Kami memilih menanam kacang hijau dengan benih lokal milik sendiri karena hasilnya lebih bagus. Kadang ada juga bantuan dari pemerintah, tapi lebih banyak kami pakai benih sendiri,” ujarnya.

Pengurus Gapoktan Wa Wua Desa Langir, Kecamatan Kangae, Ignatius Iking saat ditanyai mengakui adanya bantuan benih kacang hijau sebanyak 700 kilogram untuk 3 kelompok tani.

Iking menyebutkan, bantuan tersebut setelah diberikan kepada 2 kelompok tani dan dibuka ternyata benih tersebut rusak, berlubang dan banyak kutu sehingga tidak layak untuk ditanam.

“Benih kacang hijau yang dibagikan ke saya tidak ada kutunya tapi kenapa yang dibagikan ke kelompok lain ada kutunya. Di labelnya pun masa uji selesai tanggal 6 Januari 2021 sementara petani biasa tanam di bulan Februari,” sesalnya.

Lihat juga...