Petani: Panen Jagung di Sikka Lebih Baik dari Tahun Sebelumnya

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Para petani jagung di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai melaksanakan panen jagung untuk musim tanam 2021/2021 sejak awal Maret 2021.

Petani jagung di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Osias Bruno saat ditemui di kebun jagungnya Senin (22/2/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kami mulai panen sejak minggu lalu Jumat (12/3/2021) sebab sudah banyak jagung yang sudah kering karena sudah musim panas,” kata Osias Bruno, petani Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di kebunnya, Senin (22/3/2021).

Osias menyebutkan, hasil panen jagung di musim tanam 2020/2021 lebih baik dibandingkan dengan musim tanam 2019/2020 dimana jagung terserang hama ulat grayak.

Dia mengatakan,panen jagung biasanya dilakukan setelah kacang hijau berumur sekitar satu bulan sehingga saat panen pun petani harus berhati-hati.

“Lahan jagung saya tidak luas hanya setengah hektare lebih saja. Mungkin minggu ini baru panen jagung di tempat saya karena kami masih panen di kebun saudari, ” ungkapnya.

Osias menyebutkan, para petani menanam bantuan benih jagung hibrida dan lamuru dari pemerintah selain menanam benih jagung lokal.

Dikatakannya, para petani merasa bersyukur sebab musim tanam 2020/2021 hasil panen lebih baik dibandingkan musim tanam 2019/2020 sehingga bisa menyisahkan benih untuk musim tanam tahun depan.

“Kami hanya tanam jagung setahun sekali saat musim hujan saja. Ada sumur bor tapi tidak bisa dipergunakan karena harus memakai pompa dan lokasi sumur bor juga di lahan pribadi milik petani sehingga sulit dipergunakan, ” ungkapnya.

Sementara itu Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfridus Keupung menyebutkan untuk musim tanam 2020/2021 hasil panen jagung memang ada peningkatan dibandingkan tahun 2019/2020.

Win sapaannya mengatakan, serangan hama ulat grayak musim tanam tahun ini serangan ulat grayak hanya sebentar saat bulan Desember 2020 sampai Januari 2021 sehingga luas lahan yang terserang terbatas.

“Tahun ini sempat ada serangan hama ulat grayak namun jagung petani terbantu akibat intensitas hujan yang rutin turun sehingga hama tidak berkembang luas,” ungkapnya.

Win sebutkan, hama ulat grayak akan hilang apabila terjadi hujan dengan curah hujan tinggi dan tidak terjadi panas berkepanjangan karena ulatnya akan mati.

Lihat juga...