PGRI Flotim: Kenaikan Pangkat ASN Guru Kerap Terkendala Karya Tulis

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Salah satu kendala lambatnya kenaikan pangkat golongan guru Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah kemampuan yang minim dalam menghasilkan karya tulis ilmiah.

Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur, Maksimus Masan Kian saat ditemui di sekertariat PGRI di Kota Larantuka, Sabtu (13/2/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Pelatihan menulis karya ilmiah bagi para guru untuk membantu agar bisa naik pangkat,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Flores Timur,NTT,Maksimus Masan Kian saat dihubungi, Kamis (4/3/2021).

Maksi sapaannya menyebutkan, Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, mengatur syarat kenaikan pangkat.

Ia katakan, salah satu syarat kenaikan pangkat bagi guru adalah publikasi karya ilmiah dan kebanyakan guru-guru muda yang belum lama tamat di perguruan tinggi tidak mengalami kesulitan.

“Para guru yang memperoleh ijazah sarjana melalui perkuliahan alternatif seperti Universitas Terbuka, perihal menghasilkan karya ilmiah adalah satu hal yang sulit. Guru tersertifikasi yang menyadang predikat profesionalpun mengalami kesulitan terkait hal ini,” ucapnya.

Maksi sebutkan, terkait pendampingan bagi guru dalam menulis karya ilmiah, di Kabupaten Flores Timur sangat gencar dilakukan oleh Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Kabupaten Flores Timur.

Dikatakannya, karya ilmiah yang dihasilkan di antaranya, karya ilmiah populer, karya penelitian berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS).

“Tidak sekedar menghasilkan karya ilmiah, para gurupun dituntut untuk mempublikasikan karya tulisnya,” terangnya.

Maksi mengaku PGRI Flotim telah menggelar Workshop Penulisan Karya Ilmiah melalui aplikasi zoom meeting, Kamis 18 Februari 2021 yang diikuti oleh 300 peserta dari unsur guru, kepala sekolah dan pengawas.

Dia mengakui, tidak hanya guru di Kabupaten Flores Timur, tetapi pelatihan ini diikuti guru dari kabupaten lain dalam wilayah NTT, termasuk beberapa guru di luar provinsi NTT.

Ketua Agupena Wilayah NTT, Thomas Akaraya Sogen menyebutkan, yang paling banyak membuat guru tertahan kenaikan pangkatnya adalah dari pangkat golongan IVA ke atas yang mensyaratkan guru menulis di jurnal ilmiah.

“Mestinya tidak sulit, jika guru mampu mengakses informasi dan ada kemauan untuk bertanya,” terangnya.

Thomas sebutkan, menulis di jurnal, cukup menyadur karya penelitian yang sudah ditulis para guru hanya perlu disesuaikan dengan metode yang tepat, seirama dengan aturan pada jurnal yang ingin tulisannya dimuat.

Ia menuturkan,Agupena Wilayah NTT memiliki jurnal yang bernama Pena Guru, dan dia mempersilahkan para guru melihat tulisan PTK dan PTS yang pernah ditulis dan mengirimkan tulisan untuk dipublikasikan.

“Jika PTK dan PTS hingga puluhan halaman, menulis di jurnal tidak sampai sepuluh halaman,” kata Thomas.

Lihat juga...