PKI Mainkan Dua Isu Kala Presiden Soekarno Jatuh Sakit

SETELAH atmosphere revolusioner dianggap hampir mencapai puncak kematangannya, PKI menoleh kepada TNI AD dan kalangan nasionalis-religius sebagai penghambat agendanya mewujudkan negara komunis di Indonesia. Pimpinan puncak TNI AD merupakan batu sandungan utama, karena penguasaannya atas kekuatan militer dan persenjataan serta kesetiaannya kepada Pancasila dan UUD 1945.

Pucuk pimpinan TNI AD merupakan figur-figur yang sulit digiring untuk mendukung agenda PKI dan bahkan dalam suatu seminar di Gedung Seskoad Bandung pada tanggal 1 sampai dengan 5 April 1965, menyimpulkan adanya bahaya dari utara (Cina – Komunis). Tentang hasil seminar itu A. Yani menyatakan perlunya kendali keamanan Asia Tenggara oleh Indonesia menggantikan Armada ke-VII Amerika Serikat dan Armada Timur Jauh Inggris di Asia Tenggara.

Kekosongan kendali keamanan strategis di negara-negara yang mengelilingi Indonesia harus diisi oleh Indonesia sendiri dan bukan oleh kebijakan ekspansionis Cina beserta sekutu-sekutunya. Untuk menyingkirkan penghalang utamanya itu, PKI kemudian menggelar aksi fitnah dengan menghembuskan isu “Dewan Jenderal”, penyebarluasan isu “Dokumen Gilchrist” dan skenario politik medis atas kesehatan Presiden.

Isu Dewan Jenderal diciptakan Biro Khusus PKI untuk memojokkan kredibilitas pimpinan puncak TNI AD di hadapan Presiden maupun masyarakat luas. Dewan Jenderal diopinikan sebagai kelompok perwira TNI AD yang tidak loyal dan akan menggulingkan kekuasaan Presiden Soekarno.

Untuk menambah citra buruk itu, dihembuskan pula isu dokumen Gilchrist yang belakangan diketahui merupakan dokumen palsu buatan dinas intelijen Czekoslowakia dan Soviet yang bermarkas di Praha. Oleh PKI, dokumen ini dikesankan sebagai sesuatu yang nyata, sekaligus sumber petunjuk otentik adanya kaki tangan Amerika dan Inggris dalam tubuh TNI AD yang hendak menggulingkan kekuasaan Presiden Soekarno. Kedua isu itu diciptakan PKI untuk membentuk opini bahwa pimpinan puncak TNI AD merupakan pejabat korup dan musuh negara yang harus dilenyapkan.

Pengkonfrontasian pimpinan puncak TNI AD dengan Presiden Soekarno juga dimaksudkan untuk menggalang dukungan dari Presiden maupun masyarakat luas (dari anggota dan simpatisan PKI maupun kelompok-kelompok di luarnya) agar secara bersama-sama segera membersihkan pimpinan puncak TNI AD. Pembersihan pimpinan puncak TNI AD — yang selama ini menunjukkan sikap antikomunis— untuk kemudian menggantinya dengan sejumlah perwira pro PKI, merupakan karpet merah bagi PKI dalam merebut kekuasaan di Indonesia.

Presiden Soeharto (10): G30S/PKI | Situasi Revolusioner Mencapai Puncak, Presiden RI1 Jatuh Sakit

Upaya PKI —melalui kedua isu itu— memperoleh momentum jatuh sakitnya Presiden pada tanggal 4 Agustus 1965. Pada tanggal tersebut, Presiden Soekarno kembali menderita sakit, mengalami muntah-muntah sebelas kali dan hilang kesadaran sebanyak empat kali. Peristiwa itu dijadikan pintu masuk PKI dengan menciptakan skenario politik medis, —menghembuskan hasil analisa medis tim dokter Cina— bahwa dalam waktu dekat Presiden tidak akan mampu melanjutkan tugasnya lagi yaitu meninggal atau lumpuh permanen.

Aidit dan Biro Khusus menggunakan analisis dokter-dokter Cina sebagai argumentasi untuk mendorong kekuatan-kekuatan revolusioner melakukan “tindakan mendahului” Dewan Jenderal dengan membersihkannya terlebih dahulu dengan menculik dan membunuh pucuk pimpinan TNI AD. Aidit mengesampingkan analisis dr. Mahar Mardjono —sebagai dokter kepresidenan dan Profesor Neurologi Universitas Indonesia— yang menyatakan analisisnya atas kemungkinan kesembuhan Presiden.

Setelah semua argumentasi pembersihan pucuk pimpinan TNI AD disiapkan (isu Dewan Jenderal, Dokumen Gilchrist dan kesehatan Presiden), Aidit dan Biro Khusus menyiapkan rencana operasi dalam bentuk gerakan militer dan politik. Gerakan militer dilakukan dengan menggerakkan perwira-perwira menengah militer untuk melakukan pembersihan pimpinan puncak TNI AD. Sedangkan gerakan politik dilakukan dengan pembentukan Dewan Revolusi sebagai pengganti pemerintahan yang sah setelah gerakan militer dilaksanakan. Persiapan dilakukan dengan rapat-rapat dan konsolidasi secara intensif, baik pada tingkat Politbiro CC PKI, Biro Chusus Central atau BCC dan BCC dengan Biro Chusus Daerah atau BCD.

Keputusan PKI melakukan perebutan kekuasaan pada tahun 1965 dilatarbelakangi oleh dua situasi.

Situasi pertama, jatuh sakitnya “kawan sementara” sosok Presiden Soekarno yang powerfull dan kharismatis, dijadikan momentum bagi PKI untuk mengevaluasi koalisi taktisnya dengan kalangan borjuasi nasional dan segera memutuskan skema baru perebutan kekuasaan di Indonesia. Pada awalnya, Presiden Soekarno merupakan garansi bagi skenario “kudeta merangkak” PKI untuk menjadikan Indonesia sebagai negara komunis.

Perlindungan istimewa yang diberikan Presiden Soekarno terhadap PKI diyakini akan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis pada tahun 1970 melalui proses alamiah atau menguasai parlemen dan birokrasi. Tidak efektifnya kepemimpinan Presiden Soekarno, berdasarkan analisis dokter-dokter Cina, Presiden dapat meninggal dalam waktu cepat atau menderita kelumpuhan permanen, akan menghadapkan PKI secara vis a vis dengan TNI AD yang kekuatannya memiliki potensi untuk membalik keadaan dengan menggulung superioritas PKI dalam waktu singkat.

Situasi kedua, PKI merasa cukup percaya diri dengan situasi revolusioner yang diciptakannya. Juga dukungan “partai sekawan” dalam payung Comintern atau Communist International maupun negara–negara komunis tetangga —khususnya RRC— untuk segera mengambil alih kekuasaan di Indonesia. PKI kemudian menciptakan politik medis dengan memanfaatkan dokter-dokter Cina untuk mempengaruhi atau membangun opini seputar kesehatan Presiden Soekarno. Perlu diingat, sebelum Presiden Soekarno sakit keras pada tanggal 4 Agustus 1965 dengan muntah-muntah dan hilang kesadaran, dokter-dokter Cina telah merawat Presiden sejak bulan Juni 1965.

Pada saat kesehatan Presiden Soekarno berada dalam kondisi kritis, PKI menjalankan agenda pemusnahan lawan-lawannya (pimpinan puncak TNI AD) dengan mengatasnamakan kebijakan Presiden. Tahap selanjutnya —dengan cara halus maupun dengan cara paksa— Presiden sendiri akan dilenyapkan dan semua tatanan di Indonesia sepenuhnya dikendalikan PKI. Perlu diingat, pada tanggal 24 September 1965 —6 hari sebelum G 30 S/PKI meletus— di depan anggota Sarbupri, Aidit memberi sinyal untuk tidak tergantung pada “distribusi kewibawaan” Presiden Soekarno.

Melalui dua situasi itu yaitu, Presiden Soekarno benar-benar sakit atau sakitnya diskenariokan dokter-dokter Cina atas pesanan Aidit dan pemerintah RRC, PKI mempersiapkan perebutan kekuasaan di Indonesia melalui skema sederhana.

Tahap pertama, akuisisi kekuatan militer (TNI AD) dengan mengganti atau menyingkirkan pimpinannya untuk digantikan orang-orang yang bisa dikendalikan PKI. Keberhasilan akuisisi TNI AD akan segera menjadikan PKI memiliki superiotas politik dan militer sekaligus.

Kedua, pemaksaan perubahan tatanan politik dan kepemimpinan nasional. Setelah TNI AD berhasil ditaklukkan, PKI mengasumsikan perubahan tatanan politik dan kepemimpinan nasional dapat dilakukan dengan mudah ibarat membalik telapak tangan. Ketokohan Presiden Soekarno (yang sudah merosot kesehatannya) juga akan mudah dieliminasi, manakala TNI AD sebagai kekuatan penyangga utamanya sudah ditaklukkan dan dijadikan sebagai barisan pendukung.

Terlepas secara policy Presiden Soekarno selama beberapa tahun terakhir sangat berpihak kepada PKI, namun tidak bisa dipungkiri jika eksistensinya ditopang dengan memainkan dua bandul kekuatan yang berhadapan secara diametral (PKI dan TNI).

Skenario penumbangan Presiden Soekarno secara halus terbaca dari statement Menlu RRC Chen Yi kepada Subandrio bahwa dirinya (Chen Yi) telah menyiapkan Danau Angsa (RRC) sebagai tempat peristirahatan atau pengasingan Presiden Soekarno. Skenario ini identik dengan pengasingan Norodom Sihanouk ke RRC setelah digulingkan Polpot.

Catatan Partai Komunis Cina juga mengkonfirmasi adanya rencana Aidit dalam melakukan perebutan kekuasaan di Indonesia. ***

Lihat juga...