Pohon Produktif Ditanam di Kawasan Konservasi Tahura WAR Lampung

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sinergi lintas sektoral dilakukan oleh sejumlah elemen terkait untuk menjaga kelestarian hutan. Kegiatan penanaman pohon dilakukan pada kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman, Lampung.

Nugraha Putra, koordinator wilayah Lampung, NGO Flight Protecting Indonesia’s Birds bilang pelestarian dilakukan dengan menanam pohon produktif. Jenis pohon produktif buah bertujuan untuk sumber pakan satwa.

Penanaman pohon produktif sebut Nugraha Putra merupakan kolaborasi antara Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Taman Hutan Raya (KPHK) Tahura Wan Abdul Rachman, Persatuan Sarjana Kehutanan (PERSAKI) Lampung dan Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (HAPKA IPB) dan pihak terkait.

Kesadaran akan pentingnya habitat alami sebagai sumber pakan satwa sebut Nugraha Putra perlu ditumbuhkan. Terlebih upaya penghijauan untuk konservasi alam ikut menjaga kehidupan satwa liar. Keberadaan ekosistem hutan sebutnya memiliki mata rantai untuk konservasi sumber pakan satwa, konservasi air berkelanjutan. Ekosistem yang terjaga itu diperoleh dengan proses menjaga dan menanam berbagai jenis pohon.

“Sinergi lintas sektoral kami lakukan dengan harapan agar ada daya dukung pada hutan primer, hutan sekunder bisa dilakukan dengan mempertahankan pohon yang sebagian bisa dimanfaatkan untuk penahan longsor dan sumber pakan satwa,” terang Nugraha Putra saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (20/3/2021).

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansah (ketiga dari kiri), Koordinator wilayah Lampung NGO Flight , Nugraha Putra (kaos putih), Kepala UPTD Tahura Wan Abdul Rachman, Eny Puspasari (berhijab), Sabtu (20/3/2021). -Foto Henk Widi

Kepala UPTD KPHK Tahura Wan Abdul Rachman, Eny Puspasari mengatakan penanaman berbagai jenis bibit produktif bertujuan untuk pemulihan ekosistem. Berbagai jenis tanaman yang dikembangkan juga untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dari hasil produksi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sekaligus sebagai rekayasa habitat satwa dengan penyediaan pakan satwa.

Sejumlah  bibit produktif yang ditanam sebut Eny Puspasari meliputi durian, alpukat, petai, pala, jambu jamaica dan mangga. Semua jenis bibit buah tersebut saat menghasilkan buah akan sangat berguna untuk sumber pakan fauna contohnya burun. lutung, monyet, siamang, tupai, dan fauna pemakan buah lainnya. Pada kegiatan penanaman berbagai jenis pohon itu juga  ditanam jenis bambu.

“Bambu potensial untuk penahan kestabilan tanah terutama pada lahan miring agar tidak longsor saat penghujan,” tegasnya.

Eny Puspasari menyebut khusus tnaman bambu, Tahura WAR bekerjasama dengan PT. Bukit Asam (PTBA) akan melakukan penanaman koleksi bambu nusantara sebanyak 1.030 batang yang terdiri dari 8 jenis bambu.

Ini merupakan bagian dari Pusat Inkubasi Tanaman Nusantara yang akan dibangun di Tahura yang merupakan salah satu janji kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung.

Tahura Wan Abul Rachman yang dikenal sebagai kawasan konsevasi juga kerap jadi lokasi pelepasliaran satwa. Satwa endemik Sumatera jenis burung kicau, reptil hasil pengamanan kepolisian, karantina, pecinta satwa dilepaskan untuk menjaga kelsestarian. Keberadaan tanaman sumber pakan diharapkan akan menjaga populasi satwa dan mempertahankan tanaman untuk pencegah longsor pada lahan miring.

Jenis pohon yang ditanam dominan merupakan Multy Purpose Tree Species (MPTS). Tanaman produktif itu sebagian berguna untuk ekonomi masyarakat desa penyangga hutan. Selain bisa dimanfaatkan secara ekonomi tanpa merusak pelestarian menyadarkan masyarakat agar tidak merusak satwa dan fauna di Tahura tersebut.

Keberadaan Tahura Wan Abdul Rachan sebutnya selama ini menjadi habitat flora dan fauna dan keanekaragaman hayati. Penanaman berbagai jenis pohon sebutnya sekaligus aktivitas untuk melakukan konservasi lingkungan. Selain HHBK potensi alam di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman sebutnya menyajikan panorama alam, objek wisata air terjun dan keanekaragaman satwa.

Diketahui secara nasional dan internasional sepanjang bulan Maret didedikasikan sebagai upaya menjaga keanekaragaman hutan, satwa. Beberapa tanggal itu diantaranya 3 Maret sebagai Hari Kehidupan Liar Sedunia, 6 Maret sebagai hari Strategi Konservasi Sedunia, 16 Maret sebagai Hari Bakti Rimbawan, 20 Maret Hari Kehutanan Sedunia, 21 Maret Hari Hutan Internasional, 22 Maret sebagai hari Air Sedunia.

Penanaman berbagai pohon sebutnya jadi upaya berbagai elemen di Lampung untuk ikut dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Sebab kawasan itu menjadi aset kekayaan hayati di Lampung yang mutlak dilestarikan sejumlah pihak. Kawasan seluas kurang lebih 22.244 hektare itu dikelola untuk blok pemanfaatan/wisata alam, blok koleksi tanaman, blok perlindungan, pendidikan dan perhutanan sosial.

Lihat juga...