Polusi Udara Pengaruhi Penurunan Kualitas Hidup

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Jika disebutkan tentang perubahan iklim, maka yang paling sering disebut oleh masyarakat adalah polusi udara. Karena polusi udara merupakan suatu hal yang secara langsung mereka rasakan setiap harinya. Dan ternyata, polusi udara itu berkorelasi langsung dengan berbagai aspek kehidupan, dalam derajat yang negatif.

Penanggung Jawab Project Tata Guna Lahan Berkelanjutan dan Emisi, World Resources Institute (WRI) Indonesia Nanda Noor menyatakan masalah lingkungan yang dirasakan paling dekat oleh masyarakat Jakarta, saat kata perubahan iklim dikemukakan adalah polusi udara.

“Paling tidak, ada 4 komponen yang menjadi perhatian masyarakat Jakarta. Yaitu NO yang dihasilkan oleh transportasi darat sebesar 57 persen dan 24 persen oleh pembangkit listrik, CO yang dihasilkan transportasi darat sebesar 93 persen dan sektor industri sebesar 4 persen, PM2.5 yang 46 persen dihasilkan oleh transportasi darat dan 43 persen oleh sektor industri serta SO2 yang dihasilkan oleh sektor industri sebesar 67 persen dan 25 persen oleh pembangkit listrik. Dan ini dirasakan langsung oleh masyarakat Jakarta. Bahkan masalah ini juga menjadi masalah pada kota besar lainnya di dunia,” kata Nanda dalam diskusi online CISDI, Rabu (24/3/2021).

Nanda Noor saat menyampaikan dampak polusi udara pada masyarakat, dalam diskusi online lingkungan oleh CISDI, Rabu (24/3/2021) -Foto Ranny Supusepa

Polusi udara ini, lanjutnya, menjadi masalah besar karena memiliki banyak dampak negatif dalam kehidupan masyarakat Jakarta secara khusus dan memiliki dampak hampir sama di kota besar lainnya di dunia.

“Berdasarkan penelitian, polusi udara ini berpotensi untuk mengurangi tingkat harapan hidup di Jakarta hingga 2.3 tahun, bertanggung jawab hingga 50 persen pada kejadian pemanasan Bumi, mempengaruhi musim dan pola hujan, mengurangi panas Matahari yang bisa diserap panel surya hingga 30 persen dan mengurangi jumlah hasil panen,” urainya.

Tercatat pengurangan jumlah hasil panen gandum dan kedelai bisa mencapai hingga 15 persen sementara jagung hanya mengalami penurunan 5 persen.

“Tak hanya itu, dengan semakin tinggi tingkat polusi udara maka kerugian ekonomi juga akan terjadi dari sisi kesehatan masyarakat. Dengan beragam penyakit akibat pencemaran di udara ini, biaya kesehatan yang keluar diperkirakan mampu mencapai Rp38,5 triliun,” urainya lebih lanjut.

Sehingga, Nanda menegaskan, diperlukan suatu pembangunan rendah karbon untuk Indonesia. Dimana sesuai dengan apa yang disampaikan Bappenas, sistem pembangunan rendah karbon ini memiliki target PDB 6 persen per tahun hingga tahun 2045 tapi mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 43 persen.

“Pembangunan rendah karbon ini diperkirakan akan mampu memberikan tambahan sekitar 5,4 triliun Dollar Amerika pada tahun 2045, 15,3 juta lapangan kerja baru yang lebih hijau dan memberi upah yang lebih baik, mengurangi kematian hingga 40.000 jiwa per tahun, tingkat kemiskinan akan menurun menjadi 4,2 persen pada tahun 2045 mencegah hilangnya 16 juta hektar lahan pada tahun 2041 dan teratasinya kesenjangan gender,” ujarnya.

Sebagai individu, ternyata menurut Nanda bisa juga turut berkontribusi dalam upaya mencegah perubahan iklim. Yaitu dengan memastikan segala tindakan yang menghasilkan polusi bisa ditutupi dengan upaya untuk menguranginya, bahkan jika bisa menjadikan jumlah polusi itu menjadi 0 akan lebih baik.

“Kegiatan kita membeli baju, bekerja atau memiliki kendaraan itu kan menghasilkan polusi atau jejak karbon. Coba, dengan memanfaatkan teknologi, hitung emisinya. Lalu coba lakukan penanaman pohon yang bisa mengurangi jumlah emisi tersebut,” tuturnya.

Nanda menyatakan tidak perlu takut jika tidak memiliki pekarangan sendiri untuk menanam pohon. Karena sudah banyak lembaga atau organisasi yang mengkoordinir penanaman pohon ini di seluruh Indonesia.

Googling aja untuk cari siapa yang bisa menerima keinginan kamu untuk turut berkontribusi menjaga lingkungan untuk lestari. Yang penting dimulai dulu dan sebarkan ke sekitar kamu, supaya orang di sekitar kamu juga mau memulai mengambil peran memastikan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Lihat juga...