Produk Harus Berkarakter Agar Mampu Bersaing

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Berubahnya tren industri, harus disikapi dengan terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas dalam mewujudkan produk yang mampu berkompetisi. Dan, Indonesia yang memiliki berbagai macam budaya dan kearifan lokal, seharusnya mampu menciptakan karakter produk yang diakui tidak hanya di Indonesia sendiri, tapi juga di pasar global.

Direktur Pengembangan Bisnis Federasi Pengemasan Indonesia, Ariana Susanti, menyatakan produk Indonesia harus memiliki karakter untuk bisa berkompetisi di kancah internasional.

“Karena era industri 4.0 dan munculnya society 4.0 menyebabkan perubahan di segala sektor. Perilaku berubah, teknologi berubah, yang jika kita tidak ikuti akan terlindas. Indonesia berpeluang memasukinya hanya dengan mengembangkan kreativitas dan memanfaatkan sumber daya alam dengan maksimal, untuk menciptakan produk kreatif, unik dan bernilai ekonomi agar bisa bersaing,” kata Ariani dalam sosialisasi IGDS 2021 di Kementerian Perindustrian Jakarta, Selasa (23/3/2021).

Praktisi Desain dan Kurator Craft, RM Satya Brahmantya, saat menyampaikan bahwa produk Indonesia mampu bersaing, dalam sosialisasi IGDS 2021 di Kementerian Perindustrian Jakarta, Selasa (23/3/2021).  -Foto: Ranny Supusepa

IGDS ini, lanjutnya, berdasarkan data dari tahun ke tahun mendorong partisipasi desainer dan perusahaan industri untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas desain produk industri.

“Produk yang bagaimana? Ya, produk terbaik. Baik dari kualitas desain, kebaruan dan inovasi serta berkarakter Indonesia,” ucapnya.

Ia menyatakan, proses kreatif desain ini sama sekali tak terbatas. Termasuk tak bisa dibatasi oleh kejadian pandemi.

“Buktinya tahun 2020 jumlah peserta jauh lebih banyak dibandingkan 2019. Walaupun memang jumlah peserta terbesar masih dikuasai provinsi di Jawa. Yaitu, secara berurutan, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta,” papar wanita lulusan Packaging Enginering, Japan Packaging Institute 1992 ini.

Sementara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat belum berpartisipasi.

“Padahal, setiap provinsi di Indonesia itu memiliki budaya yang unik dan memiliki kearifan lokal masing-maaing. Harusnya ini menjadi modal untuk berinovasi menciptakan produk,” ujarnya.

Contohnya batik, yang ditemukan dari banyak daerah tapi tetap bisa dikenali dari daerah mana kain batik itu berasal.

“Dan, karakter batik ini tidak hanya bisa diaplikasikan tidak hanya di kain, tapi di produk lainnya. Apakah sepatu atau mobil atau di packaging lainnya,” ucapnya.

Ariana menjelaskan, produk berkarakter dimaksud adalah produk yang bisa mencerminkan karakter positif berbagai jenis industri Indonesia, proses produksi yang bertanggung jawab hingga mampu mendorong peningkatan kualitas dan manfaat bagi masyarakat.

“Dan, terakhir, produk itu bisa mengangkat nilai budaya lokal yang bisa diterima pasar global dan nasional, sebagai solusi berkelanjutan,” tandasnya.

Praktisi Desain dan Kurator Craft, RM Satya Brahmantya, menyatakan dari pengalamannya bertemu buyer mancanegara, diketahui minat para buyer ini mayoritas pada kekuatan kriya atau craft Indonesia. Dan, ini membuat produk Indonesia terus dicari buyer.

“Kita lihat pada 1998 waktu Indonesia krisis ekonomi, salah satu penyelamatnya adalah UMKM. Saya bisa melihat, bahwa produk asli Indonesia yang berkarakter itu sangat diminati. Terutama yang berbasis craftmanship,” kata Bram, dalam kesempatan yang sama.

Kondisi ini kembali dibuktikan pada 2003-2005, di mana terjadi krisis kembali.

“UMKM kita kembali menjadi pahlawan. Kenapa? Karena bentuknya itu biasanya plasma, menyedot banyak pekerja, padat karya. Terutama, pada craftmanship,” ujarnya.

Tapi sayangnya, hingga 2010 produk craft Indonesia masih dianggap produk kampungan di Indonesia sendiri. Padahal, di negara Eropa atau Amerika Serikat, produk Indonesia dikejar.

“Bisa dibilang, produk Indonesia itu lebih tinggi dibandingkan produk IKEA. Karena kalau IKEA itu level mahasiswa atau keluarga menengah, tapi craft Indonesia pembelinya dari kalangan pemilik rumah mewah,” ujarnya.

Hal ini tidak disadari oleh perajin kita, di mana sebenarnya level produk Indonesia. “Ini PR kita semua. Supaya maki meluas produknya dan juga terus berinovasi, agar produk kita tetap pada level tersebut,” ujar Dosen Poltek Furnitur di Kendal Jawa Tengah ini.

Selama masa pandemi ini, lanjutnya, produk middle up Indonesia tidak terjual bukan karena tidak ada order, tapi tidak ada sarana pengiriman.

“Di APMINDO itu, selama pandemi kita kebingungan. Bukan karena gak ada order, tapi karena kontainer yang buat kirim semua pesanan itu tidak ada,” pungkasnya.

Lihat juga...