Program Pencegahan Stunting di Sikka Belum Efektif

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Masih tingginya angka stunting di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 19,6 persen di tahun 2020 dengan jumlah anak mencapai 4.010 anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui usai dialog stunting di Aula Alma, Maumere, Jumat (19/3/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kendala dalam penanganan stunting di Kabupaten Sikka yakni bum efektifnya program-program pencegahan stunting,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus dalam materinya saat dialog penanganan stunting di Aula Alma, Maumere, Jumat (19/3/2021).

Petrus menyebutkan, selain itu belum optimalnya koordinasi penyelenggaraan intervensi gizi spesifik dan sensitif di semua tingkatan.

Hal ini sebut dia berkaitan dengan perencanaan dan penganggaran, penyelenggaraan serta melakukan pemantauan dan evaluasi.

Selain itu tambahnya,belum efektif dan efisiennya pengalokasian dan pemanfaatan sumber daya dan sumber dana serta keterbatasan kapasitas dan kualitas penyelenggaraan program.

“Masih minimnya advokasi, kampanye dan diseminasi terkait stunting dan berbagai upaya pencegahannya di masyarakat,” ungkapnya.

Petrus paparkan, di Kabupaten Sikka penduduk dengan akses air minum layak baru mencapai 64,4 persen dan baru terdapat 54 desa atau 33,75 persen yang menerapkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Dengan begitu ucapnya, masih terdapat 93 desa yang belum menerapkan STBM serta masih 86,4 persen masyarakat yang memiliki akses ke jamban dan kepemilikan jamban sebanyak 74 persen.

“Lima pilar penanganan stunting yakni komitmen dan visi kepemimpinan, kampanye nasional dan komunikasi serta adanya perubahan perilaku,” ucapnya.

Selain itu tambah Petrus perlu adanya konvergensi, koordinasi dan konsolidasi program pusat, daerah dan desa.

Juga tambahnya, terkait ketahanan pangan dan gizi serta pemantauan dan evaluasi.

Sementara itu,Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka,Endang Setiawati menambahkan, data Riskesdas tahun 2007 menyebutkan prevalensi stunting Kabupaten Sikka sebesar 49,6 persen.

Endang menambahkan,tahun 2013 turun menjadi 41,3 persen dan kembali mengalami penurunan hingga mencapai 32,9 persen pada tahun 2018.

Untuk Propinsi NTT sebutnya, prevalensi balita stunting turun dari 51,7 persen pada tahun 2013 menjadi 42,5 persen pada tahun 2018.

“Secara nasional prevalensi balita stunting turun dari 37,2 persen pada tahun 2013 menjadi 30.8 persen pada tahun 2018,” paparnya.

Lihat juga...